Friday, October 20, 2017

Ketika Hujan

Hujan
senantiasa
mengantarkan
seporsi
kenangan
tentang
kamu


Denpasar, 20 Oktober 2017

~Catatan saat sedang tidak hujan diiringi The First Cut is the Deepest~

Tiada Lagu yang Pantas Untukmu

Tahukah kamu? Bahwa kamu sangat menyenangkan. Menyegarkan.

Maka, kucari lagu yang pantas buatmu. Kucari-cari tembang melankolis seperti yang kamu suka. Sayangnya, tidak kutemukan. Oh, bukan karena tidak ada lagu berjenis itu. Lebih karena tidak ada yang bisa mewakili kamu dalam lagu-lagu itu. Atau lebih tepatnya tidak ada yang mampu mengirimkan tanda perasaanku padamu? Pokoknya, tidak ada yang pas.

Barangkali bukan lagu yang pantas mendeskripsikanmu atau perasaanku. Barangkali iklan produk-produk Thailand yang bisa. Mereka sangat mellow, bukan? Cocok untukmu. Pantas untuk kita dan aku punya waktu seharian untuk menonton iklan-iklan itu bersamamu.

Menangislah kita bersama dan saat iklan usai, kita akan merasa bego telah menangis untuk sebuah iklan asuransi. Lalu, kita mulai menertawai diri kita masing-masing.

Kutegaskan, tidak ada lagu yang pas untukmu.


Denpasar, 20 Oktober 2017

~Catatan terinspirasi dari seorang kawan sambil dengerin Sweet Home Alabama~

Tuesday, September 12, 2017

Akhir Rindu

Ini Senin
Kukikis rinduku perlahan
Serpihnya berhamburan
Habis sudah oleh angin


~Catatan Senin 11 Sep 2017 sebagai kemantapan hati mengucap perpisahan yang tak bisa diungkap~

Sunday, August 27, 2017

Kubiarkan Saja (4)

Seminggu setelah kunjungan mendadak adiknya (yang sekaligus teman semasa kuliahku) ke rumah, aku tidak dapat berhenti memikirkan dia. Sungguhkah dia menunda-tunda pernikahan hanya karena merasa bersalah padaku? Sejak kapan rasa bersalah itu menghinggapinya? Apa dia benar-benar menjadi kacau setelah tidak lagi bersamaku? Apa benar-benar karena aku?

Aku raih handphone-ku dan mengetikkan namanya di kontak WhatsApp. Ya, aku masih saja menyimpan nomornya setelah lama berpisah. Aku tidak ada niatan sama sekali untuk menghapusnya karena aku percaya: membiasakan diri dengan satu hal yang menyakitimu akan membuatmu semakin kuat. Ah, ini dia. Dia online.

Aku berhenti sejenak di chat box, memikirkan apa yang akan kukatakan kepadanya. Jantungku berdebar karena ini akan jadi yang pertama kalinya sejak tujuh tahun lalu aku menghubunginya kembali. Apa yang akan aku katakan? Bahwa adiknya datang menuntut pertanggungjawabanku? Tidak. Pasti adiknya telah terbang ke Tangerang menemuinya segera setelah dari sini. Bahwa aku memaafkan dia atas kekonyolan yang dia perbuat padaku? Tidak, bukan itu. Dia tahu aku telah memaafkannya meski tak pernah terucap. Bahwa dia tidak usah merasa bersalah hingga menunda pernikahan? Bahwa dia tidak usah ragu menikahi siapapun itu? Hey, memangnya aku siapa mengatakan itu padanya? Tidak, bukan yang itu juga.

Bahwa aku masih sangat menyayanginya dan aku kangen?

Oh, tidak.

***

24 jam setelah aku kirim pesan WhatsApp, dia tidak juga membalasku. Dua centang biru telah terpampang jelas di sana. Kenapa dia tidak membalasku? Mungkinkah dia mengabaikanku? Dia mengabaikanku. Dia mengabaikanku. Dia mengabaikanku. Dia mengabaikanku dengan sengaja.

Prasangka ini membuat kepalaku tak berhenti berpikir hingga pusing. Decit sakit kurasakan nyata di dadaku. Aku pening sekaligus sedih.

48 jam. 72. 96. 120. 144. 168.

Aku mulai lelah menunggu seminggu. Dia tetap tidak membalasku. Sekali lagi, aku harus mengikhlaskan. Inilah yang dia mau: pergi dariku meski semesta berulang kali memaksa temu.


Saturday, August 26, 2017

RINDU

Tidakkah kamu rungu
Hatiku menjerit rindu
Mendamba satu temu


~Catatan Sabtu siang saat mendengar Cups oleh Anna Kendrick di radio~

Wednesday, August 23, 2017

Kubiarkan Saja (3)

Sudahkah cinta ini selesai?
Teka-teki kuajukan pada hatiku
Yang langsung saja gelisah
Mencari-cari
Berusaha memikirkan
Bagaimana menanggapi sang tanya

Sudah yang belum
Jawabnya tanpa ketetapan

Cinta ini usai
Tamat
Hanya saja dia butuh alasan
Perlu penjelasan
Keikhlasan dan maaf

Semua itu masih terhutang

Lagi, hatiku gelisah akan jawabannya sendiri

Kubiarkan saja
Kegelisahan ini
Cinta yang belum usai ini
Alasan, penjelasan, keikhlasan
Dan maaf
Apapun itu yang belum terlunaskan
Kubiarkan saja

Monday, August 21, 2017

Kubiarkan Saja (2)

Hari Minggu. Hari ritualku bangun siang. Seharusnya. Ya, seharusnya. Tapi hari Minggu kali ini aku terbangun  pagi-pagi karena mendengar sebuah suara. Suara itu adalah suara yang kurindukan. Datangnya dari arah dapur rumahku. Aku buru-buru ke luar kamar .

"Dudud!" pekikku sambil memeluknya erat.

"Apaan sih lu? Bau jigong tau!" protesnya meronta dalam pelukanku. Aku makin menguncinya.

"Ehem... Kangen-kangenannya boleh nanti. Sekarang, Mas ilangin dulu bau jigongnya. Adik bantu siapin sarapan." Ibuku menyela keisenganku. Aku melepaskan pelukanku dan mengikuti dengan takzim perintah ibuku. Tapi, sebelumnya aku sempatkan mencubit keras pipi adik perempuanku satu-satunya itu. Dia menjerit kesal.

***

"Ngapain lu dateng kagak bilang2? Suami lu mana?"  tanyaku saat aku hanya tinggal berdua dengan adikku di teras rumah. Adikku tidak menjawab. Dia malah manyun.

"Lah, malah cemberut. Berantem sama Dimas yak?" usikku lagi.

"Berisik lu! Gue ke sini, tanpa suami, tanpa anak, gara-gara lu," pungkas adikku dengan kemarahan tertahan.

"Dih, apaan? Kok gue sih. Dudud... Dudud... Kangen yak sama abang lu ini? Kasih surprise nih ceritanya?" Aku masih mencoba menggodanya.

"Gue dari Bali," ucap adikku singkat. Kata-katanya berhasil membuatku membeku. Sekian detik kami terdiam. Kusulut rokokku.

"Liburan?" tanyaku sembari menyingkirkan serpihan-serpihan kecurigaan di kepala.

"Gigi lu! Gue ketemu dia. Di rumahnya. Dia udah nikah ternyata. Udah punya anak. Gue jadi mikir, kenapa dia tega lakuin hal ini ke lu. Ninggalin lu dan nikah sama orang lain. Sementara lu di sini menghukum diri lu sendiri, kagak jelas kapan lu mau nikahnya. Gue jadi sebel beneran sama dia," ungkap adikku. Aku sangat terkejut. Tapi, kusembunyikan keterkejutanku dalam hembusan asap rokok yang membubung di udara.

"Bukan salah dia. Lagian lu ngapain sih sampai cari dia ke Bali. Dapet alamatnya di mana lu? Sewa detektif yak?" sahutku berusaha santai. Getar halus mendesir di dadaku. Kubayangkan dia bertatap muka dengan adikku setelah 7 tahun berpisah. Pasti dia kebingungan.

"Gue tanya-tanya ke alumni kampus gue lah. Kan banyak yang kerja di Bali. Lagian lu masih juga belain dia. Ngebuktiin banget lu masih kagak bisa move on."

"Bukan gitu, Dudud." Aku berusaha melembutkan suara. "Gue udah lupain semua. Udah masa lalu. Justru lu yang bikin gue inget-inget lagi." Bibirku pahit saat mengatakan ini.

"Gue ngelakuin ini karena gue peduli sama lu, kakak gue satu-satunya. Di umur lu yang segini, lu belum nikah. Iya, gue tau lu punya tunangan sekarang. Tapi, kagak lu nikah-nikahin. Gue sebagai cewek ngerti banget perasaan tunangan lu. Gue aja khawatir lu kagak nikah-nikah, apalagi tunangan lu. Calon ipar gue itu pasti juga harap-harap cemas."

"Lu kata nikah pake daun, Dud? Pake duit. Gue belum cukup duit," tandasku.

"Nikah juga pake cinta. Dan gue tau, dari sorot mata lu, lu masih cinta dia. Gue ga mau rumah tangga lu nanti ga bahagia. Kan kasihan calon ipar gue, yang tulus sayang sama lu. Lagian lu juga harusnya nyadar dong, mantan pacar lu itu yang juga mantan sahabat gue, udah nikah, udah beranak juga. Dia yang ninggalin lu. Dan saat gue ketemu dia, gue nyerocos ini itu soal keadaan lu sekarang, dia cuma diem kayak patung. Gue cuma mau dia minta maaf ke lu. Tapi, dia udah ga peduli lagi sama lu."

Aku hisap dalam-dalam rokokku. Kuhembuskan asapnya ke udara. Desiran hangat di dada terus kurasakan. Rasa hangat yang sangat familiar. Rasa hangat yang nyaman. Rasa hangat yang hanya kudapat saat bersama dia. Adikku tetap berceloteh mengenai pertemuannya di Bali dengan dia. Bercerita bahwa tak ada reaksi signifikan dari wajahnya saat adikku menuntut penjelasan, bahwa dia biasa-biasa saja. Hatiku agak berdecit saat mendengar itu. Tapi, kubiarkan saja. Kubiarkan saja adikku bercerita dan berasumsi. Kubiarkan hati ini berdecit-decit. Sakit. Aku kemudian menyundutkan rokokku ke asbak dan bangkit berdiri.

"Lu dari tadi dengerin gue ga sih?" protes adikku. Aku hanya diam dan beranjak pergi. Adikku tertegun. Mungkin di pikirannya aku ini kakak yg tidak tahu terima kasih. Mungkin baginya, aku adalah kakak yang payah. Mungkin adikku akan semakin menyalahkan dia. Kubiarkan saja dia dengan segala pikirannya itu.

Kubiarkan saja hari Minggu kali ini menjadi tidak biasa.

Kubiarkan saja.

Sunday, February 19, 2017

Kubiarkan Saja

Wanita di depan pintu rumahku menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku mengerti. Ada kerinduan di sana. Ada rasa kecewa. Ada ribuan pertanyaan dan tuntutan.

"Hai. Been a while," ucapku demi mencairkan sepuluh detik saling menatap itu. Ya, aku mengenalnya. Dia adalah teman semasa kuliahku dulu. Teman. "Apa kabar, Chirr?" tanyaku. Dia tampak menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan berat sebelum menjawab, "Baik."

Aku mempersilakan dia duduk di bangku teras. Kami duduk terdiam. Aku memperhatikan anak-anak tetangga bermain sepeda dan mengoceh berisik. Dia dengan pikirannya sendiri. Ini terlalu canggung. teramat sangat canggung. Hampir 7 tahun tidak berjumpa dan tiba-tiba saja dia muncul di depan rumahku. Aku pun bertanya-tanya bagaimana caranya.

"Aku ambilkan minum dulu ya," pecahku atas keheningan di antara kami.

"Dia merasa bersalah," cegatnya. Aku tak jadi beranjak. Sebelum aku bertanya siapa yang dimaksud 'dia', temanku itu melanjutkan, "Sampai dengan detik ini dia belum juga menikah. Apa yang telah kamu lakukan padanya?" Dia bertanya atau menuntut. Tidak dapat kubedakan.

"A-apa?" Aku tergagap. Belum sepenuhnya mengerti yang dia katakan.

"Kamu menyakiti kakakku begitu dalam. Dari awal aku tidak setuju dengan hubungan kalian. Hubungan kalian merusak persahabatan kita. Lalu sekarang, hubungan kalian merusak hidup kakakku," sengitnya.

Aku terdiam. Membiarkan dia dan emosinya menyerangku. Membiarkan dirinya menganggapku sebagai orang yang jahat. Aku merasa tidak perlu menjelaskan apapun padanya. Kubiarkan kedatangannya sia-sia dengan tidak mendapat jawaban atau apapun sebenarnya yang dia inginkan dari kehadirannya secara tiba-tiba di hadapanku. Dia masih terus berbicara. Entah apa. Aku tidak lagi mendengarkan. Kubiarkan dia. Biar dia lega. Sedikit.

"Ibu..." anakku menghampiri. Aku tersenyum pada anakku dan sekilas aku lihat wajah temanku penuh dengan keterkejutan. Dia bergegas pergi. Tanpa berkata apapun. Mungkin hanya berbekal asumsi. Tentang aku, tentang kakaknya. Kubiarkan saja.

~catatan sebelum makan siang sambil mendengarkan Use Somebody versi Bossa Nova~

Tuesday, September 13, 2016

Kejutan-Kejutan Rani

Apa yang bisa dilakukan oleh anak berumur 2 tahun? Banyak, seringnya tidak terduga. Rani, anakku yang berusia 2 tahun 1 bulan 13 hari saat tulisan ini kuterbitkan, sudah bisa melakukan banyak hal. Dia sudah hafal banyak lagu anak. Biar kuberikan list lagunya:

1. Balonku
2. Topi Saya Bundar
3. Burung Kakak Tua
4. Lihat Kebunku
5. Cicak Di Dinding
6. Panjang Umur
7. Tiup Lilin
8. Potong Kue
9. Nama Hari
10. 1, 2, 3
11. Hujan Rintik-Rintik
12. Bintang Kecil
13. Pok Ame Ame
14. Satu Satu Aku Sayang Ibu
15. Pul Dedul (Lagu Daerah Bali)
16. Juru Pencar (Lagu Daerah Bali)
17. Dadong Dauh (Lagu Daerah Bali)
18. Ketut Garing (Bagian Reff, Lagu Daerah Bali)

Bahkan sebagian dari lagu-lagu tersebut sudah dihafal sebelum usianya genap 2 tahun. Dia juga hafal beberapa jargon-jargon iklan di televisi. Kalau bisa, iklan Sprite yang di-voice over Cak Lontong jangan sampai ditontonnya karena dia tidak akan berhenti bertanya.

Rani: Bu, apa tuh?
Aku: Sprite.
Rani: Sprite apa tuh?
Aku: Sprite minuman.
Rani: Sprite minuman apa tuh?
Aku: Minuman soda.
Rani: Minuman soda? Soda apa tuh?
Aku: Minuman soda dingin.
Rani: Soda dingin? Dingin apa tuh?
Aku: Dingin es.
Rani: Es apa tuh?
Aku: Es batu.
Rani: Es batu? Es...Es batu apa tuh?
Aku: *mentok, dan langsung menggelitiknya.

Kemarin, saat menemaninya bermain, secara mengejutkan dia berkata padaku dengan suara cadel khas anak-anak:

"Ibu, kemarin kan, ada meong kan, di sini kan. Ssshh... digituin sama Adik Ani. Lari dia ke genteng sama anjingnya. Terus lari, naik ke penjornya. Ssshh... digituin lagi sama Adik Ani. Lari dia ke sana, ke rumahnya Nyamprut."

Aku terkesima saat dia menceritakan itu. Yang kutahu, itu pasti adalah khayalannya karena tidak mungkin ada kucing dan anjing dari pintu rumahku lari ke atas genteng rumah tetangga. Tidak mungkin ada kucing dan anjing yang memanjat penjor, bambu hias untuk merayakan hari raya Galungan. Dia, anak umur 2 tahun sudah bisa menyampaikan apa yang ada di kepalanya dengan begitu lancar. Tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan untuk tidak dipercaya. Dia dengan sungguh percaya diri mendongengi saya.

Yah, mungkin, banyak anak seumuran anakku atau malah lebih muda darinya yang mampu melakukan hal-hal tersebut. Namun, itu tidak mengurangi rasa kagumku pada Rani yang dengan begitu beraninya berdongeng dan berfantasi.

Friday, June 24, 2016

PAST: DULU

Kau bukan matahari yang terbit lalu tenggelam sesukanya. Kau tidak bisa datang dalam mimpiku lalu muncul di dunia maya dan kemudian hilang lagi. Kau tidak bisa membiarkan tanyaku tiada berteman jawaban. Kau tidak bisa...tidak bisa... Tunggu! Kenapa aku menjadi sebal?

Seharusnya aku tahu kau memang hobi tetiba muncul lalu tanpa kata kau pamit. Seharusnya aku sudah hafal benar kebiasaanmu yang suka membuat orang heran dan bertanya-tanya ke mana kau pergi dan kau bergeming tak berkabar. Seharusnya aku sudah maklum dan tidak usah jengkel. Seharusnya aku... Tidak memikirkanmu.

Ini tidak adil. Kau tetap memperlakukanku seperti dulu. Bahkan waktu yang kita diami ini sudah bukan 'dulu' lagi. Kita telah menjadi orang yang terpisah. Kau tidak lagi bagian dari hatiku. Akupun sudah tidak berhak lagi menempati kalbumu, dan tidak ingin, tentu saja. Tapi, tetap saja kau membuat aku penasaran seolah kau ingin memancingku untuk kembali ke pusaran 'dulu'.

Apa kau kesepian?

Wednesday, May 25, 2016

PAST

Kata orang, kalau kita sedang merindukan seseorang, pasti terbawa mimpi. Aku sama sekali tidak pernah memikirkannya lagi. Tidak pernah  merindukannya lagi. Dia, satu sosok yang dulu lama mengisi hari-hariku. Sampai beberapa hari lalu, dia menyapa kembali dalam mimpi. Mungkin, dia yang sedang rindu dan memikirkanku.

Di mimpi, dia tetaplah dia, seseorang yang dewasa. Seseorang yang selalu menyenangkan diajak berdiskusi ataupun bercerita ringan. Dia tetaplah sosok yang disukai oleh banyak orang, terbukti di mimpiku, hadir pula teman-temanku yang mengagumi dirinya. Sama seperti di masa lalu.

Semesta bekerja dalam misteri. Semesta menggerakkan manusia-manusia beserta hatinya sekalian dengan tangan-tangan besi yang tak kasat mata. Semesta menakdirkan dan tak mampu dicegah. Tetiba dalam social media professional-ku, ada akun seseorang yang mengundangku untuk masuk ke dalam lingkaran pertemanannya. Itu adalah dia. Aku pun cukup terharu dengan nama yang dia pakai dalam akunnya tersebut. Nama panggilan kesayanganku dulu untuknya. Dulu.

Kusapa dalam hatiku saja, "Hai. Apa kabar?" Kubiarkan tanyaku menggantung. Biarkan semesta bekerja dalam misterinya yang luar biasa.

Wednesday, March 16, 2016

Malaikat-malaikat Tak Bersayap

Malaikat yang kita ketahui baik melalui buku cerita atau film-film selalu bersayap. Bersinar dan cemerlang. Mereka adalah penghuni surga. Namun, percayakah kalian bahwa setiap hari ada malaikat-malaikat di sekitar kita? Malaikat yang tidak bersayap. Malaikat yang adalah manusia. Manusia yang berbuat kebaikan pada orang lain.

Seperti kemarin, 15 Maret 2016. Saya dijemput dari kantor oleh suami saya tepat jam 7 malam. Kami mengendarai motor Vario keluaran lama menuju ke kos yang berjarak 15 menit dari kantor saya. Sekitar 200 meter setelahnya, motor suami saya mati.

"Habis bensin." kata suami saya sambil mengarahkan motor ke pinggir. Sontak aku melambaikan tangan kiri memberi tanda bahwa kendaraan kami hendak minggir mendadak.

"Memangnya tadi pagi kamu ga isi bensin?" saya bertanya agak kesal.

"Aku kira cukup." jawab suami saya. Saya dan dia turun dari motor. Dia menuntun motor mencari pom bensin yang jaraknya masih cukup jauh. Saya berjalan terseok dengan high heels di atas trotoar yang compang-camping. "Kota ini, negara ini sungguh tidak ramah pada pejalan kaki!" gerutu saya dalam hati, berhati-hati menginjakkan kaki di atas trotoar yang tidak rata dan berlubang di sana-sini akibat paving block-nya terlepas.

Suami saya sudah jauh di depan meninggalkan saya yang masih terus berusaha mengejar dengan high heels di atas trotoar rusak. Sungguh kombinasi yang tidak bagus dan tidak nyaman. Saya menyerah akhirnya. Ngos-ngosan, saya mengirim Blackberry Messenger dari smartphone kepada suami saya. Isinya: "Nanti jemput balik ya. Ga kuat jalan pake sepatu tinggi." Saya menunggu di dekat dagang lalapan.

Sekitar sepuluh menit kemudian, suami saya muncul. Saya melirik ke jarum tangki bensin dan jarumnya menunjuk tanda merah terbawah. Saya sudah hampir menyemprot suami saya karena tidak juga mengisi bensin dengan tangki penuh ketika suami saya berkata, "Di isi bensin segelas kecil sama pak polisi."

"Pak polisi? Kok?" tanya saya heran dalam ketidakmengertian.

"Iya, pak polisi di depan sana. Dia lihat aku dorong motor terus ditanya kenapa. Aku jawab habis bensin. Lalu pak polisinya ambil bensin dari motornya segelas kecil dan dimasukin ke tangkiku. Cukup buat ke pom bensin depan, katanya."

"Sudah bilang terima kasih? Bapak siapa namanya?" tanyaku terharu.

"Sudah, tapi aku lupa tanya nama. Di seragamnya sih Pak Made."

Begitulah. Di tengah puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang di sekeliling kita, pasti salah satu atau dua, atau tiga, bahkan semuanya adalah orang baik. Pasti selalu ada malaikat-malaikat tak bersayap di sekitar kita, yang dengan lapang dada dan tulus ikhlas menolong. Di antara riuhnya sorotan kepada tindak perilaku polisi-polisi kita, pasti ada banyak yang seperti Pak Made, yang rela menolong tanpa pamrih.

Dan saya ingin menjadi salah satu dari malaikat-malaikat tak bersayap itu. Menjadi berkat untuk orang lain.


Tuesday, March 1, 2016

10220

Selamat ulang tahun, wahai Aku.

Tepat hari ini, 2 Maret 2016, aku berulang tahun. Aku tidak mendapatkan apapun yang istimewa kecuali ucapan selamat dari orang terdekat dan rekan-rekan. Aku pun tidak mengharapkan apapun dari mereka. Segala yang kutahu adalah rasa syukur penuh karena aku masih memiliki kesempatan untuk mewujudkan impian dan cita-cita.

Setiap 2 Maret, aku selalu terkenang akan satu hari di ulang tahunku yang ke-23 pada tahun 2011. Menurutku, itulah hari ulang tahun teristimewaku. Mengapa bukan ulang tahun yang ke-17? Apa istimewanya? Bukan karena hadiah atau seseorang. Bahkan aku tidak mendapatkan sesuatu pun di hari itu, sama seperti hari ini. Aku hanya mendapat ucapan selamat. Ynag membuatnya teristimewa adalah karena pada 2 Maret 2011 semua detail kelahiranku di tahun 1988 sama, terutama dari segi kalender Bali.

Sebagai seorang kelahiran 2 Maret 1988, aku berarti terlahir di Buda (Rabu) Wage Menail. Nah, 2 Maret 2011 pun merupakan Buda (Rabu) Wage Menail. Tepat usiaku 23 tahun yang jika angka-angkanya dipecah, maka akan menyusun tanggal dan bulan lahirku kembali. Kata Bapakku, jarang-jarang seseorang berulang tahun tepat persis sama seperti itu. That's why I called it special yet unique.

Tahun ini memang hari ulang tahunku jatuh pada hari Rabu. Tapi, wewarannya berbeda. Kali ini Rabu Umanis Medangsia. Nope. That's not my Balinese Birthday. Bukan berarti ulang tahun kali ini tidak spesial. Hanya rasanya tidak seunik tahun 2011.

Bahasan ini menjadi semakin tidak penting, ya? Ketahuilah, ini adalah caraku untuk menghadiahi diriku sendiri saat berulang tahun. A writing, a memory. Agar aku tidak lupa saja. Lupa pada apapun yang bisa dengan mudah terlupakan.

Sekali lagi, selamat ulang tahun!

Friday, February 12, 2016

Debt Collector

Percayakah kalian jika sejak bulan Oktober 2015 hingga tulisan ini diturunkan saya bekerja paruh waktu sebagai debt collector alias penagih hutang? How come?

Ya, awalnya saya resign dari hotel tempat saya bekerja sebagai HR Coordinator karena sudah muak dengan orang-orang di sana. Kemudian saya melihat di salah satu harian para ekspat mengenai lowongan itu. Tidak disebutkan pekerjaannya apa, yang membuat saya tertarik adalah jam bekerja dan gajinya. Saya pun melamar dan diterima. Ternyata pekerjaannya adalah sebagai penagih hutang. Menyesal? Tidak. Saya malah girang!

Pekerjaannya mudah. Saya cukup menelepon beberapa nomor telepon debtor yang telah ada di sistem. Jika tersambung dengan mailbox, saya tinggalkan pesan. Jika langsung dijawab oleh debtor, saya akan informasikan bahwa Case Manager ingin berbicara dengannya, lalu saya transfer teleponnya. Jika salah sambung atau semua nomor debtor tidak aktif, saya ganti status debtor menjadi skip account. That's it.

Berikut pesan yang saya tinggalkan jika saya terhubung dengan mailbox:

"This message is for (nama debtor), my name is Lucy Smith, calling you in regards to a legal matter pertaining to a summon that has been filed against you. Details pertaining to your case can be obtained by contacting our office at 1 844 264 8035 with your case number (sebutkan case number debtor). Please resolve this issue and stop this summon. Thank you."

Berikut kalimat yang saya ucapkan pada debtor jika dijawab langsung oleh debtor:

"Hi, Sir/Ma'am. My name is Lucy Smith, I'm with A&D Group, calling you in regards to a legal matter. Right now our case manager would like to speak with you, would you please hold while I transfer the call?"

Ya, dalam bahasa Inggris karena database yang saya kerjakan adalah di Amerika Serikat. Saya harus menjadi Lucy Smith dan aksen saya harus terdengar seperti orang Amerika. Terkadang para debtor yang saya hubungi suka mengaku itu bukan dia dan langsung mengatakan salah sambung. Terkadang mereka mengamuk karena telah dihubungi berkali-kali dan mencari orang yang salah. Terkadang mereka mengaku sibuk dan meminta saya untuk meninggalkan pesan saja. Terkadang debtor yang saya cari sudah meninggal dunia.

Pekerjaan ini seru. Santai dan menyenangkan. Satu tantangannya adalah menahan kantuk karena jam kerja dari jam 9 malam sampai jam 2 dini hari.

Sayangnya, pekerjaan yang sangat saya sukai ini harus segera diakhiri. Tim kami yang berperan sebagai case manager mengaku sudah tidak punya account debtor baru. Sementara account debtor lama sudah berulang kali di recycle. Saya pun sedih.

Malam ini, 12 Februari 2016, akan menjadi malam terakhir saya di kantor yang sangat dinamis ini. Saya sedih luar biasa karena harus kehilangan penghasilan yang lumayan. Anyway, bye Boss Kevin and everyone!

Thursday, February 11, 2016

Belajar Antri (Lagi)

Saya adalah orang yang paling tidak senang membalap antrian orang, apalagi dibalap. Entah itu antri di ATM, di kasir, di bank, di pembagian sembako, dan lain-lain. Saya akan menjadi sangat sewot ketika antrian saya diterobos. Judes saya akan keluar tanpa memperhatikan sekitar, tanpa takut menjadi objek penilaian orang, tanpa takut harga diri terluka.

Seperti kejadian hari Minggu, 7 Februari 2016 lalu. Saya sedang antri di kasir sebuah toko baju di kota kelahiran saya. Suasana di toko itu hiruk pikuk, penuh sesak oleh pelanggan yang berdatangan dengan keluarga atau teman untuk mencari pakaian Galungan seperti kebaya, baju safari, kamen, selendang, dan sebagainya. Antrian di kasir pun tak ayal sangat panjang oleh banyaknya pembeli. Saya sedang menggendong anak saya, sementara suami berdiri di samping saya. Tiba-tiba seorang perempuan menyelonong masuk ke dua antrian di depan saya. Kondisi toko yang pengap dan gerah, ditambah ada perempuan berpakaian kekinian menyelonong makin membuat saya terbakar emosi.

"Loh, mbak-nya ini kok motong antrian??" protes saya keras ke perempuan tersebut dalam bahasa Bali. Si mbak merasa bukan dia yang ditegur. Dia malah menengok kiri-kanannya untuk mencari orang yang salah. Dengan geram, saya mentowel kasar lengannya dengan hanger baju yang sedang saya pegang.

"Elu!!!" aku nyolot. Logat ke-Jakarta-anku keluar. Si mbak dengan kikuk menggaruk kepalanya yang kuyakini tak gatal lalu bergegas ke antrian semestinya. Mataku melotot mengikuti tiap langkahnya. Dalam hati, aku mengumpat dalam English, yang syukurnya tidak keluar menjadi verbal bullying yang lebih keras. "Get you ass back to the end of this fucking line, biatch!"

Yah, begitulah.

Wednesday, December 23, 2015

Di Antara Hujan

Pasti kamu pikir
bahwa kamu tahu
jika saat ini
di antara celah rerintik hujan
aku sedang berusaha mengingat
segala lampau tentangmu

Tidak.


-gloomy rainy day-

Saturday, August 22, 2015

Belajar Mengampuni

Aku tahu, ini adalah tulisan pertama setelah aku vakum untuk waktu yang cukup lama. Aku tidak mau beralasan banyak dan nikmati saja yang tercurah berikut ini.

Aku sedang mencuci piring sepulang kerja. Music player ponselku mengumandangkan lagu-lagu favoritku. Aku ikut bernyanyi-nyanyi kecil. Tanpa kusangka, ada sebuah suara menyapaku. Suara Tuhan. Tumben.

"Belajarlah mengampuni," ujarnya sambil lalu. Tidak seperti biasanya, dia kali ini berlalu begitu cepat. Hanya meninggalkan gema suaranya dalam otakku. Dulu, kami berbincang cukup panjang jika tak bersua dalam rentang waktu yang lama.

Ya, akhir-akhir ini aku semakin merasa tertekan oleh sebagian orang di sekitarku. Kata-kata mereka menyudutkanku tanpa mau tahu keadaanku. Mereka dengan riangnya menyalahkan dan merasa diri paling benar. Mereka melakukan hal-hal yang tidak menunjukkan intelektualitas dan kualitas mereka sebagai manusia.

Aku geram pada mereka. Aku benci. Aku muak dan ingin muntah tepat di wajah mereka. Namun, gema suara Tuhan kembali memantul-pantul dalam dinding kepalaku.

Aku menarik nafas. Benar, ampuni saja mereka. Faktanya, hidup mereka jauh lebih menyedihkan dari kisahku. Ada yang tidak mendapat pengakuan dari lingkungan yang sebenarnya paling bisa dia jadikan lindungan, ada yang gengsinya terlalu tinggi karena tampak kaya tapi dompet kosong, dan ada yang tidak tahu harus mengharap kepada siapa lagi.

Ampuni.

Suara music dari ponselku menyentak. Tuhan sudah lewat jauh.


~catatan akibat penat oleh suasana kantor~

Thursday, September 18, 2014

Bebait Rindu

Mungkinkah air mengalir tanpa arus?
Aku bertanya pada malam yang muli layu
Membisu

Mampukah terang ada tanpa cahaya?
Aku bertanya pada tanah yang mengering
Bergeming

Maukah angin bertiup tanpa adanya udara?
Aku bertanya pada waktu yang merayap
Senyap

Lalu bisakah cinta hadir tanpa kau?
Aku bertanya pada pantul wajah indahmu
Lengan-lengan kokohmu merangkulku hangat


Singaraja, 14 Agustus 2014

~catatan tengah malam sambil menyusui Cass~

Wednesday, September 17, 2014

Perjumpaan Nyata: Menjadi Seorang Ibu

Untuk: Cass

Di tulisan-tulisan sebelumnya sering aku nyatakan bahwa aku tidak sabar untuk berjumpa denganmu secara nyata. Lalu, saat itu pun tiba.

29 Juli 2014, aku mulai merasakanmu menggeliat, membuatku mulas. Sejak pagi hingga aku sudah tidak kuat lagi menahannya jam 5 sore. Aku pun pergi ke klinik dan para bidan di sana memintaku untuk langsung rawat inap karena sudah bukaan 3. Rasa mulas oleh geliatmu makin menjadi. Detak jantungmu pun terus menggebu seakan sudah bosan dan tak sabar untuk menyapaku. Malam tiba, semakin larut, semakin kuat doronganmu untuk mendobrak segala halangan.

30 Juli 2014, aku sudah tidak tahan. Kekuatanku telah sirna. Rasa putus asa mulai merayapi. Ingin rasanya aku berteriak jika itu bisa menghilangkan rasa sakit yang menyiksaku. Namun, aku tahu berteriak atau menangis tidak akan mengurangi sedikitpun kesakitan itu. Seumur hidupku itu adalah siksa raga dan batin terhebat yang pernah kualami. Aku hanya bisa meringis. Aku bersikeras, memantapkan diri untuk bisa membawamu ke dunia melalui persalinan normal. Hingga tepat jam 12 siang, kau keluar dari rahimku. Persalinan normal. Kau seorang bayi cantik dengan berat 3500 gram dan panjang 50 cm. Kau, Malaikatku. Tangisan pertamamu adalah tangisan paling merdu yang pernah aku dengar. Ada kelegaan yang luar biasa di hatiku. Kita bertemu. Kita berjumpa. Akhirnya. Selanjutnya aku hanya merasa lelah.

Kebahagiaan yang meliputi hati orang-orang sekitar nyaris saja kandas. Kematian, yang diceritakan orang-orang senantiasa mengintai persalinan, nyaris saja mampu merenggutku. Delapan jam seusai perjumpaan nyata kita, badanku kejang. Dingin luar biasa kurasakan di tubuh. Dingin yang sempurna. Dingin tanpa cela. Nafasku tercekat dan tersendat. Entah berapa lama aku menggigil. Di pikiranku saat itu adalah rasa rindu untuk memelukmu. Hanya ada kamu di awang-awangku. Segala upaya dan doa dilakukan oleh orang-orang di sekitarku untuk menyelamatkan nyawaku. Sungguh sebuah berkat bahwa aku masih hidup. Saat aku menuliskan bagian ini pun, hatiku bergidik. Ngeri.

Ya, kematian urung menjemputku. Sejak hari itu kita terus bersama. Aku melihat dan memperhatikan perkembanganmu. Menangis ketika kamu sakit. Bahagia ketika melihat senyummu. Aku memberikan yang terbaik untukmu semampuku. Semua aku lakukan demi dan untukmu. Kau perlu tahu itu.

Kini, semua dalam diriku secara fisik dan psikis telah berubah. Semua tidak akan kembali sama semenjak kehadiranmu. Itulah pengorbananku demi mendapatkan dirimu, Permataku.

Aku seorang Ibu.

Pregnancy
Cass and Ibu


I-want-to-poo-poo face

Cass and Bapak

Castiell Maharani

~catatan 49 hari Castiell dengan perasaan penuh haru dan rindu~

Tuesday, May 20, 2014

Berpuisi Untukmu

 Untuk: Fer


Sudah lama aku tidak menulis puisi, Sayang.
Kalau begitu, mari sini.
Duduklah kita di teras, di sampingku
Akan kulantunkan puisi untukmu
Sambil menatap halaman rumah kita
Mengomentari pohon cabai yang tumbuh liar tanpa pernah berbuah
Memandangi dandelion beterbangan lalu menyemuti sepatu-sepatu kita
Dan keluhan akan panasnya hari.

Lama aku tidak berpuisi, Sayang.
Dan inilah puisi bagimu
Kumohon jangan mengeluh lagi bahwa tak pernah ada puisi untukmu dariku.
Cernalah sembari kau menggenggam tanganku
Menjelajah masa lalu tentang bagaimana kita bertemu
Tentang pantai, tentang kelab malam, tentang kesusahan
Semua berlabuh di sini
Di teras rumah kita dan aku berpuisi



~catatan syukur atas kebersamaan denganmu: aku bahagia~