Thursday, February 11, 2016

Belajar Antri (Lagi)

Saya adalah orang yang paling tidak senang membalap antrian orang, apalagi dibalap. Entah itu antri di ATM, di kasir, di bank, di pembagian sembako, dan lain-lain. Saya akan menjadi sangat sewot ketika antrian saya diterobos. Judes saya akan keluar tanpa memperhatikan sekitar, tanpa takut menjadi objek penilaian orang, tanpa takut harga diri terluka.

Seperti kejadian hari Minggu, 7 Februari 2016 lalu. Saya sedang antri di kasir sebuah toko baju di kota kelahiran saya. Suasana di toko itu hiruk pikuk, penuh sesak oleh pelanggan yang berdatangan dengan keluarga atau teman untuk mencari pakaian Galungan seperti kebaya, baju safari, kamen, selendang, dan sebagainya. Antrian di kasir pun tak ayal sangat panjang oleh banyaknya pembeli. Saya sedang menggendong anak saya, sementara suami berdiri di samping saya. Tiba-tiba seorang perempuan menyelonong masuk ke dua antrian di depan saya. Kondisi toko yang pengap dan gerah, ditambah ada perempuan berpakaian kekinian menyelonong makin membuat saya terbakar emosi.

"Loh, mbak-nya ini kok motong antrian??" protes saya keras ke perempuan tersebut dalam bahasa Bali. Si mbak merasa bukan dia yang ditegur. Dia malah menengok kiri-kanannya untuk mencari orang yang salah. Dengan geram, saya mentowel kasar lengannya dengan hanger baju yang sedang saya pegang.

"Elu!!!" aku nyolot. Logat ke-Jakarta-anku keluar. Si mbak dengan kikuk menggaruk kepalanya yang kuyakini tak gatal lalu bergegas ke antrian semestinya. Mataku melotot mengikuti tiap langkahnya. Dalam hati, aku mengumpat dalam English, yang syukurnya tidak keluar menjadi verbal bullying yang lebih keras. "Get you ass back to the end of this fucking line, biatch!"

Yah, begitulah.

Wednesday, December 23, 2015

Di Antara Hujan

Pasti kamu pikir
bahwa kamu tahu
jika saat ini
di antara celah rerintik hujan
aku sedang berusaha mengingat
segala lampau tentangmu

Tidak.


-gloomy rainy day-

Saturday, August 22, 2015

Belajar Mengampuni

Aku tahu, ini adalah tulisan pertama setelah aku vakum untuk waktu yang cukup lama. Aku tidak mau beralasan banyak dan nikmati saja yang tercurah berikut ini.

Aku sedang mencuci piring sepulang kerja. Music player ponselku mengumandangkan lagu-lagu favoritku. Aku ikut bernyanyi-nyanyi kecil. Tanpa kusangka, ada sebuah suara menyapaku. Suara Tuhan. Tumben.

"Belajarlah mengampuni," ujarnya sambil lalu. Tidak seperti biasanya, dia kali ini berlalu begitu cepat. Hanya meninggalkan gema suaranya dalam otakku. Dulu, kami berbincang cukup panjang jika tak bersua dalam rentang waktu yang lama.

Ya, akhir-akhir ini aku semakin merasa tertekan oleh sebagian orang di sekitarku. Kata-kata mereka menyudutkanku tanpa mau tahu keadaanku. Mereka dengan riangnya menyalahkan dan merasa diri paling benar. Mereka melakukan hal-hal yang tidak menunjukkan intelektualitas dan kualitas mereka sebagai manusia.

Aku geram pada mereka. Aku benci. Aku muak dan ingin muntah tepat di wajah mereka. Namun, gema suara Tuhan kembali memantul-pantul dalam dinding kepalaku.

Aku menarik nafas. Benar, ampuni saja mereka. Faktanya, hidup mereka jauh lebih menyedihkan dari kisahku. Ada yang tidak mendapat pengakuan dari lingkungan yang sebenarnya paling bisa dia jadikan lindungan, ada yang gengsinya terlalu tinggi karena tampak kaya tapi dompet kosong, dan ada yang tidak tahu harus mengharap kepada siapa lagi.

Ampuni.

Suara music dari ponselku menyentak. Tuhan sudah lewat jauh.


~catatan akibat penat oleh suasana kantor~

Thursday, September 18, 2014

Bebait Rindu

Mungkinkah air mengalir tanpa arus?
Aku bertanya pada malam yang muli layu
Membisu

Mampukah terang ada tanpa cahaya?
Aku bertanya pada tanah yang mengering
Bergeming

Maukah angin bertiup tanpa adanya udara?
Aku bertanya pada waktu yang merayap
Senyap

Lalu bisakah cinta hadir tanpa kau?
Aku bertanya pada pantul wajah indahmu
Lengan-lengan kokohmu merangkulku hangat


Singaraja, 14 Agustus 2014

~catatan tengah malam sambil menyusui Cass~

Wednesday, September 17, 2014

Perjumpaan Nyata: Menjadi Seorang Ibu

Untuk: Cass

Di tulisan-tulisan sebelumnya sering aku nyatakan bahwa aku tidak sabar untuk berjumpa denganmu secara nyata. Lalu, saat itu pun tiba.

29 Juli 2014, aku mulai merasakanmu menggeliat, membuatku mulas. Sejak pagi hingga aku sudah tidak kuat lagi menahannya jam 5 sore. Aku pun pergi ke klinik dan para bidan di sana memintaku untuk langsung rawat inap karena sudah bukaan 3. Rasa mulas oleh geliatmu makin menjadi. Detak jantungmu pun terus menggebu seakan sudah bosan dan tak sabar untuk menyapaku. Malam tiba, semakin larut, semakin kuat doronganmu untuk mendobrak segala halangan.

30 Juli 2014, aku sudah tidak tahan. Kekuatanku telah sirna. Rasa putus asa mulai merayapi. Ingin rasanya aku berteriak jika itu bisa menghilangkan rasa sakit yang menyiksaku. Namun, aku tahu berteriak atau menangis tidak akan mengurangi sedikitpun kesakitan itu. Seumur hidupku itu adalah siksa raga dan batin terhebat yang pernah kualami. Aku hanya bisa meringis. Aku bersikeras, memantapkan diri untuk bisa membawamu ke dunia melalui persalinan normal. Hingga tepat jam 12 siang, kau keluar dari rahimku. Persalinan normal. Kau seorang bayi cantik dengan berat 3500 gram dan panjang 50 cm. Kau, Malaikatku. Tangisan pertamamu adalah tangisan paling merdu yang pernah aku dengar. Ada kelegaan yang luar biasa di hatiku. Kita bertemu. Kita berjumpa. Akhirnya. Selanjutnya aku hanya merasa lelah.

Kebahagiaan yang meliputi hati orang-orang sekitar nyaris saja kandas. Kematian, yang diceritakan orang-orang senantiasa mengintai persalinan, nyaris saja mampu merenggutku. Delapan jam seusai perjumpaan nyata kita, badanku kejang. Dingin luar biasa kurasakan di tubuh. Dingin yang sempurna. Dingin tanpa cela. Nafasku tercekat dan tersendat. Entah berapa lama aku menggigil. Di pikiranku saat itu adalah rasa rindu untuk memelukmu. Hanya ada kamu di awang-awangku. Segala upaya dan doa dilakukan oleh orang-orang di sekitarku untuk menyelamatkan nyawaku. Sungguh sebuah berkat bahwa aku masih hidup. Saat aku menuliskan bagian ini pun, hatiku bergidik. Ngeri.

Ya, kematian urung menjemputku. Sejak hari itu kita terus bersama. Aku melihat dan memperhatikan perkembanganmu. Menangis ketika kamu sakit. Bahagia ketika melihat senyummu. Aku memberikan yang terbaik untukmu semampuku. Semua aku lakukan demi dan untukmu. Kau perlu tahu itu.

Kini, semua dalam diriku secara fisik dan psikis telah berubah. Semua tidak akan kembali sama semenjak kehadiranmu. Itulah pengorbananku demi mendapatkan dirimu, Permataku.

Aku seorang Ibu.

Pregnancy
Cass and Ibu


I-want-to-poo-poo face

Cass and Bapak

Castiell Maharani

~catatan 49 hari Castiell dengan perasaan penuh haru dan rindu~

Tuesday, May 20, 2014

Berpuisi Untukmu

 Untuk: Fer


Sudah lama aku tidak menulis puisi, Sayang.
Kalau begitu, mari sini.
Duduklah kita di teras, di sampingku
Akan kulantunkan puisi untukmu
Sambil menatap halaman rumah kita
Mengomentari pohon cabai yang tumbuh liar tanpa pernah berbuah
Memandangi dandelion beterbangan lalu menyemuti sepatu-sepatu kita
Dan keluhan akan panasnya hari.

Lama aku tidak berpuisi, Sayang.
Dan inilah puisi bagimu
Kumohon jangan mengeluh lagi bahwa tak pernah ada puisi untukmu dariku.
Cernalah sembari kau menggenggam tanganku
Menjelajah masa lalu tentang bagaimana kita bertemu
Tentang pantai, tentang kelab malam, tentang kesusahan
Semua berlabuh di sini
Di teras rumah kita dan aku berpuisi



~catatan syukur atas kebersamaan denganmu: aku bahagia~

Saturday, April 12, 2014

PERJUMPAAN SELANJUTNYA

Untuk: Cass

Keajaiban, kamu ingat perjumpaan ketiga kita? Itu adalah perjumpaan yang paling tidak mengenakkan sejauh ini. Oleh karenanya, aku tidak menuliskan pengalaman kita itu di sini. Waktu itu aku merasa tidak cukup mampu untuk mengungkapkannya. Aku, sejujurnya, terpukul dan terpuruk.

Masih ingat? Ya, waktu itu kita bertemu dan keadaan jantungmu tidak bagus. Di dimensi dua itu, tampak jantungmu berkedip-kedip cepat. Namun, secepat kilat juga, detakmu menghilang. susah diketemukan. Tak berselang lama, detak itu muncul lagi. Bisa jadi nanti, katanya, kamu tidak sehat. Mendengar itu, aku jatuh ke dalam rasa bersalah tidak berujung. Hatiku remuk. Mungkin karena aku tidak memperhatikan kesehatan makanan dan minuman yang aku konsumsi. Mungkin karena aku jarang melakukan latihan fisik. Mungkin ini, mungkin itu. Rasa bersalah itu terus mendera, diikuti rasa takut dan was-was. Ingin segera membuat jadwal perjumpaan lagi denganmu agar aku tahu yang sebenar-benarnya. Aku tidak mau kamu sakit. Aku tidak mau kamu tidak sempurna. Aku mau kamu sehat dan kuat.

Sebulan berselang. Saatnya kita bertemu lagi. Dalam tenggang waktu sebulan sebelum kita bertemu lagi itu, kamu sudah bisa kurasakan menggeliat-geliat di dalamku. Rasanya ajaib sekali. Kadang kamu berkedut terlalu keras hingga membuat aku terkaget-kaget bahkan mengaduh. Kadang lembut seperti desiran angin. Semua gerakanmu itu membuatku bahagia. Senang bukan main. Kalau boleh, aku mau kamu bergerak-gerak terus sepanjang hari. Iya? Hahaha. Sembari kamu bergerak-gerak di ruang yang sempit itu, aku terus berdoa agar kamu tidak kekurangan apapun di dalam sana. Sehat dan kuat.

Perjumpaan kita kali keempat, sama seperti perjumpaan pertama dan kedua. Menyenangkan. Jantungmu dinyatakan sehat, berat badanmu normal walaupun posisi kepalamu masih di atas, di dekat rusuk kananku. Oh, pantas saja rusuk kananku sakit tak alang kepalang selama ini. Ternyata itu kamu. Tidak apa-apa, nanti kalau sudah saatnya kepalamu pasti di bawah. Dinyatakan juga sementara ini kamu adalah seorang malaikat yang cantik. Aku langsung memimpikanmu malam itu. Kulit putih, mata besar dan rambut keriting. Haha.

Apapunlah. Aku tidak terlalu merisaukan jikalau nanti kamu adalah malaikat cantik atau tampan. Yang terpenting bagiku adalah kamu sehat, kuat dan sempurna. Juga mampu menjadi teman dan sahabatku.

Oke, Keajaiban. Sampai di sini dulu perjumpaan kita kali ini. Sampai nanti. Tetaplah di dalamku, bersamaku sampai nanti tiba saatnya kamu berpindah ke dalam dekapan dan pangkuanku.

Salam sayang,
Ibu


PS: Bapak titip salam peluk cium.