Tuesday, March 1, 2016

10220

Selamat ulang tahun, wahai Aku.

Tepat hari ini, 2 Maret 2016, aku berulang tahun. Aku tidak mendapatkan apapun yang istimewa kecuali ucapan selamat dari orang terdekat dan rekan-rekan. Aku pun tidak mengharapkan apapun dari mereka. Segala yang kutahu adalah rasa syukur penuh karena aku masih memiliki kesempatan untuk mewujudkan impian dan cita-cita.

Setiap 2 Maret, aku selalu terkenang akan satu hari di ulang tahunku yang ke-23 pada tahun 2011. Menurutku, itulah hari ulang tahun teristimewaku. Mengapa bukan ulang tahun yang ke-17? Apa istimewanya? Bukan karena hadiah atau seseorang. Bahkan aku tidak mendapatkan sesuatu pun di hari itu, sama seperti hari ini. Aku hanya mendapat ucapan selamat. Ynag membuatnya teristimewa adalah karena pada 2 Maret 2011 semua detail kelahiranku di tahun 1988 sama, terutama dari segi kalender Bali.

Sebagai seorang kelahiran 2 Maret 1988, aku berarti terlahir di Buda (Rabu) Wage Menail. Nah, 2 Maret 2011 pun merupakan Buda (Rabu) Wage Menail. Tepat usiaku 23 tahun yang jika angka-angkanya dipecah, maka akan menyusun tanggal dan bulan lahirku kembali. Kata Bapakku, jarang-jarang seseorang berulang tahun tepat persis sama seperti itu. That's why I called it special yet unique.

Tahun ini memang hari ulang tahunku jatuh pada hari Rabu. Tapi, wewarannya berbeda. Kali ini Rabu Umanis Medangsia. Nope. That's not my Balinese Birthday. Bukan berarti ulang tahun kali ini tidak spesial. Hanya rasanya tidak seunik tahun 2011.

Bahasan ini menjadi semakin tidak penting, ya? Ketahuilah, ini adalah caraku untuk menghadiahi diriku sendiri saat berulang tahun. A writing, a memory. Agar aku tidak lupa saja. Lupa pada apapun yang bisa dengan mudah terlupakan.

Sekali lagi, selamat ulang tahun!

Friday, February 12, 2016

Debt Collector

Percayakah kalian jika sejak bulan Oktober 2015 hingga tulisan ini diturunkan saya bekerja paruh waktu sebagai debt collector alias penagih hutang? How come?

Ya, awalnya saya resign dari hotel tempat saya bekerja sebagai HR Coordinator karena sudah muak dengan orang-orang di sana. Kemudian saya melihat di salah satu harian para ekspat mengenai lowongan itu. Tidak disebutkan pekerjaannya apa, yang membuat saya tertarik adalah jam bekerja dan gajinya. Saya pun melamar dan diterima. Ternyata pekerjaannya adalah sebagai penagih hutang. Menyesal? Tidak. Saya malah girang!

Pekerjaannya mudah. Saya cukup menelepon beberapa nomor telepon debtor yang telah ada di sistem. Jika tersambung dengan mailbox, saya tinggalkan pesan. Jika langsung dijawab oleh debtor, saya akan informasikan bahwa Case Manager ingin berbicara dengannya, lalu saya transfer teleponnya. Jika salah sambung atau semua nomor debtor tidak aktif, saya ganti status debtor menjadi skip account. That's it.

Berikut pesan yang saya tinggalkan jika saya terhubung dengan mailbox:

"This message is for (nama debtor), my name is Lucy Smith, calling you in regards to a legal matter pertaining to a summon that has been filed against you. Details pertaining to your case can be obtained by contacting our office at 1 844 264 8035 with your case number (sebutkan case number debtor). Please resolve this issue and stop this summon. Thank you."

Berikut kalimat yang saya ucapkan pada debtor jika dijawab langsung oleh debtor:

"Hi, Sir/Ma'am. My name is Lucy Smith, I'm with A&D Group, calling you in regards to a legal matter. Right now our case manager would like to speak with you, would you please hold while I transfer the call?"

Ya, dalam bahasa Inggris karena database yang saya kerjakan adalah di Amerika Serikat. Saya harus menjadi Lucy Smith dan aksen saya harus terdengar seperti orang Amerika. Terkadang para debtor yang saya hubungi suka mengaku itu bukan dia dan langsung mengatakan salah sambung. Terkadang mereka mengamuk karena telah dihubungi berkali-kali dan mencari orang yang salah. Terkadang mereka mengaku sibuk dan meminta saya untuk meninggalkan pesan saja. Terkadang debtor yang saya cari sudah meninggal dunia.

Pekerjaan ini seru. Santai dan menyenangkan. Satu tantangannya adalah menahan kantuk karena jam kerja dari jam 9 malam sampai jam 2 dini hari.

Sayangnya, pekerjaan yang sangat saya sukai ini harus segera diakhiri. Tim kami yang berperan sebagai case manager mengaku sudah tidak punya account debtor baru. Sementara account debtor lama sudah berulang kali di recycle. Saya pun sedih.

Malam ini, 12 Februari 2016, akan menjadi malam terakhir saya di kantor yang sangat dinamis ini. Saya sedih luar biasa karena harus kehilangan penghasilan yang lumayan. Anyway, bye Boss Kevin and everyone!

Thursday, February 11, 2016

Belajar Antri (Lagi)

Saya adalah orang yang paling tidak senang membalap antrian orang, apalagi dibalap. Entah itu antri di ATM, di kasir, di bank, di pembagian sembako, dan lain-lain. Saya akan menjadi sangat sewot ketika antrian saya diterobos. Judes saya akan keluar tanpa memperhatikan sekitar, tanpa takut menjadi objek penilaian orang, tanpa takut harga diri terluka.

Seperti kejadian hari Minggu, 7 Februari 2016 lalu. Saya sedang antri di kasir sebuah toko baju di kota kelahiran saya. Suasana di toko itu hiruk pikuk, penuh sesak oleh pelanggan yang berdatangan dengan keluarga atau teman untuk mencari pakaian Galungan seperti kebaya, baju safari, kamen, selendang, dan sebagainya. Antrian di kasir pun tak ayal sangat panjang oleh banyaknya pembeli. Saya sedang menggendong anak saya, sementara suami berdiri di samping saya. Tiba-tiba seorang perempuan menyelonong masuk ke dua antrian di depan saya. Kondisi toko yang pengap dan gerah, ditambah ada perempuan berpakaian kekinian menyelonong makin membuat saya terbakar emosi.

"Loh, mbak-nya ini kok motong antrian??" protes saya keras ke perempuan tersebut dalam bahasa Bali. Si mbak merasa bukan dia yang ditegur. Dia malah menengok kiri-kanannya untuk mencari orang yang salah. Dengan geram, saya mentowel kasar lengannya dengan hanger baju yang sedang saya pegang.

"Elu!!!" aku nyolot. Logat ke-Jakarta-anku keluar. Si mbak dengan kikuk menggaruk kepalanya yang kuyakini tak gatal lalu bergegas ke antrian semestinya. Mataku melotot mengikuti tiap langkahnya. Dalam hati, aku mengumpat dalam English, yang syukurnya tidak keluar menjadi verbal bullying yang lebih keras. "Get you ass back to the end of this fucking line, biatch!"

Yah, begitulah.

Wednesday, December 23, 2015

Di Antara Hujan

Pasti kamu pikir
bahwa kamu tahu
jika saat ini
di antara celah rerintik hujan
aku sedang berusaha mengingat
segala lampau tentangmu

Tidak.


-gloomy rainy day-

Saturday, August 22, 2015

Belajar Mengampuni

Aku tahu, ini adalah tulisan pertama setelah aku vakum untuk waktu yang cukup lama. Aku tidak mau beralasan banyak dan nikmati saja yang tercurah berikut ini.

Aku sedang mencuci piring sepulang kerja. Music player ponselku mengumandangkan lagu-lagu favoritku. Aku ikut bernyanyi-nyanyi kecil. Tanpa kusangka, ada sebuah suara menyapaku. Suara Tuhan. Tumben.

"Belajarlah mengampuni," ujarnya sambil lalu. Tidak seperti biasanya, dia kali ini berlalu begitu cepat. Hanya meninggalkan gema suaranya dalam otakku. Dulu, kami berbincang cukup panjang jika tak bersua dalam rentang waktu yang lama.

Ya, akhir-akhir ini aku semakin merasa tertekan oleh sebagian orang di sekitarku. Kata-kata mereka menyudutkanku tanpa mau tahu keadaanku. Mereka dengan riangnya menyalahkan dan merasa diri paling benar. Mereka melakukan hal-hal yang tidak menunjukkan intelektualitas dan kualitas mereka sebagai manusia.

Aku geram pada mereka. Aku benci. Aku muak dan ingin muntah tepat di wajah mereka. Namun, gema suara Tuhan kembali memantul-pantul dalam dinding kepalaku.

Aku menarik nafas. Benar, ampuni saja mereka. Faktanya, hidup mereka jauh lebih menyedihkan dari kisahku. Ada yang tidak mendapat pengakuan dari lingkungan yang sebenarnya paling bisa dia jadikan lindungan, ada yang gengsinya terlalu tinggi karena tampak kaya tapi dompet kosong, dan ada yang tidak tahu harus mengharap kepada siapa lagi.

Ampuni.

Suara music dari ponselku menyentak. Tuhan sudah lewat jauh.


~catatan akibat penat oleh suasana kantor~

Thursday, September 18, 2014

Bebait Rindu

Mungkinkah air mengalir tanpa arus?
Aku bertanya pada malam yang muli layu
Membisu

Mampukah terang ada tanpa cahaya?
Aku bertanya pada tanah yang mengering
Bergeming

Maukah angin bertiup tanpa adanya udara?
Aku bertanya pada waktu yang merayap
Senyap

Lalu bisakah cinta hadir tanpa kau?
Aku bertanya pada pantul wajah indahmu
Lengan-lengan kokohmu merangkulku hangat


Singaraja, 14 Agustus 2014

~catatan tengah malam sambil menyusui Cass~

Wednesday, September 17, 2014

Perjumpaan Nyata: Menjadi Seorang Ibu

Untuk: Cass

Di tulisan-tulisan sebelumnya sering aku nyatakan bahwa aku tidak sabar untuk berjumpa denganmu secara nyata. Lalu, saat itu pun tiba.

29 Juli 2014, aku mulai merasakanmu menggeliat, membuatku mulas. Sejak pagi hingga aku sudah tidak kuat lagi menahannya jam 5 sore. Aku pun pergi ke klinik dan para bidan di sana memintaku untuk langsung rawat inap karena sudah bukaan 3. Rasa mulas oleh geliatmu makin menjadi. Detak jantungmu pun terus menggebu seakan sudah bosan dan tak sabar untuk menyapaku. Malam tiba, semakin larut, semakin kuat doronganmu untuk mendobrak segala halangan.

30 Juli 2014, aku sudah tidak tahan. Kekuatanku telah sirna. Rasa putus asa mulai merayapi. Ingin rasanya aku berteriak jika itu bisa menghilangkan rasa sakit yang menyiksaku. Namun, aku tahu berteriak atau menangis tidak akan mengurangi sedikitpun kesakitan itu. Seumur hidupku itu adalah siksa raga dan batin terhebat yang pernah kualami. Aku hanya bisa meringis. Aku bersikeras, memantapkan diri untuk bisa membawamu ke dunia melalui persalinan normal. Hingga tepat jam 12 siang, kau keluar dari rahimku. Persalinan normal. Kau seorang bayi cantik dengan berat 3500 gram dan panjang 50 cm. Kau, Malaikatku. Tangisan pertamamu adalah tangisan paling merdu yang pernah aku dengar. Ada kelegaan yang luar biasa di hatiku. Kita bertemu. Kita berjumpa. Akhirnya. Selanjutnya aku hanya merasa lelah.

Kebahagiaan yang meliputi hati orang-orang sekitar nyaris saja kandas. Kematian, yang diceritakan orang-orang senantiasa mengintai persalinan, nyaris saja mampu merenggutku. Delapan jam seusai perjumpaan nyata kita, badanku kejang. Dingin luar biasa kurasakan di tubuh. Dingin yang sempurna. Dingin tanpa cela. Nafasku tercekat dan tersendat. Entah berapa lama aku menggigil. Di pikiranku saat itu adalah rasa rindu untuk memelukmu. Hanya ada kamu di awang-awangku. Segala upaya dan doa dilakukan oleh orang-orang di sekitarku untuk menyelamatkan nyawaku. Sungguh sebuah berkat bahwa aku masih hidup. Saat aku menuliskan bagian ini pun, hatiku bergidik. Ngeri.

Ya, kematian urung menjemputku. Sejak hari itu kita terus bersama. Aku melihat dan memperhatikan perkembanganmu. Menangis ketika kamu sakit. Bahagia ketika melihat senyummu. Aku memberikan yang terbaik untukmu semampuku. Semua aku lakukan demi dan untukmu. Kau perlu tahu itu.

Kini, semua dalam diriku secara fisik dan psikis telah berubah. Semua tidak akan kembali sama semenjak kehadiranmu. Itulah pengorbananku demi mendapatkan dirimu, Permataku.

Aku seorang Ibu.

Pregnancy
Cass and Ibu


I-want-to-poo-poo face

Cass and Bapak

Castiell Maharani

~catatan 49 hari Castiell dengan perasaan penuh haru dan rindu~