Monday, August 21, 2017

Kubiarkan Saja (2)

Hari Minggu. Hari ritualku bangun siang. Seharusnya. Ya, seharusnya. Tapi hari Minggu kali ini aku terbangun  pagi-pagi karena mendengar sebuah suara. Suara itu adalah suara yang kurindukan. Datangnya dari arah dapur rumahku. Aku buru-buru ke luar kamar .

"Dudud!" pekikku sambil memeluknya erat.

"Apaan sih lu? Bau jigong tau!" protesnya meronta dalam pelukanku. Aku makin menguncinya.

"Ehem... Kangen-kangenannya boleh nanti. Sekarang, Mas ilangin dulu bau jigongnya. Adik bantu siapin sarapan." Ibuku menyela keisenganku. Aku melepaskan pelukanku dan mengikuti dengan takzim perintah ibuku. Tapi, sebelumnya aku sempatkan mencubit keras pipi adik perempuanku satu-satunya itu. Dia menjerit kesal.

***

"Ngapain lu dateng kagak bilang2? Suami lu mana?"  tanyaku saat aku hanya tinggal berdua dengan adikku di teras rumah. Adikku tidak menjawab. Dia malah manyun.

"Lah, malah cemberut. Berantem sama Dimas yak?" usikku lagi.

"Berisik lu! Gue ke sini, tanpa suami, tanpa anak, gara-gara lu," pungkas adikku dengan kemarahan tertahan.

"Dih, apaan? Kok gue sih. Dudud... Dudud... Kangen yak sama abang lu ini? Kasih surprise nih ceritanya?" Aku masih mencoba menggodanya.

"Gue dari Bali," ucap adikku singkat. Kata-katanya berhasil membuatku membeku. Sekian detik kami terdiam. Kusulut rokokku.

"Liburan?" tanyaku sembari menyingkirkan serpihan-serpihan kecurigaan di kepala.

"Gigi lu! Gue ketemu dia. Di rumahnya. Dia udah nikah ternyata. Udah punya anak. Gue jadi mikir, kenapa dia tega lakuin hal ini ke lu. Ninggalin lu dan nikah sama orang lain. Sementara lu di sini menghukum diri lu sendiri, kagak jelas kapan lu mau nikahnya. Gue jadi sebel beneran sama dia," ungkap adikku. Aku sangat terkejut. Tapi, kusembunyikan keterkejutanku dalam hembusan asap rokok yang membubung di udara.

"Bukan salah dia. Lagian lu ngapain sih sampai cari dia ke Bali. Dapet alamatnya di mana lu? Sewa detektif yak?" sahutku berusaha santai. Getar halus mendesir di dadaku. Kubayangkan dia bertatap muka dengan adikku setelah 7 tahun berpisah. Pasti dia kebingungan.

"Gue tanya-tanya ke alumni kampus gue lah. Kan banyak yang kerja di Bali. Lagian lu masih juga belain dia. Ngebuktiin banget lu masih kagak bisa move on."

"Bukan gitu, Dudud." Aku berusaha melembutkan suara. "Gue udah lupain semua. Udah masa lalu. Justru lu yang bikin gue inget-inget lagi." Bibirku pahit saat mengatakan ini.

"Gue ngelakuin ini karena gue peduli sama lu, kakak gue satu-satunya. Di umur lu yang segini, lu belum nikah. Iya, gue tau lu punya tunangan sekarang. Tapi, kagak lu nikah-nikahin. Gue sebagai cewek ngerti banget perasaan tunangan lu. Gue aja khawatir lu kagak nikah-nikah, apalagi tunangan lu. Calon ipar gue itu pasti juga harap-harap cemas."

"Lu kata nikah pake daun, Dud? Pake duit. Gue belum cukup duit," tandasku.

"Nikah juga pake cinta. Dan gue tau, dari sorot mata lu, lu masih cinta dia. Gue ga mau rumah tangga lu nanti ga bahagia. Kan kasihan calon ipar gue, yang tulus sayang sama lu. Lagian lu juga harusnya nyadar dong, mantan pacar lu itu yang juga mantan sahabat gue, udah nikah, udah beranak juga. Dia yang ninggalin lu. Dan saat gue ketemu dia, gue nyerocos ini itu soal keadaan lu sekarang, dia cuma diem kayak patung. Gue cuma mau dia minta maaf ke lu. Tapi, dia udah ga peduli lagi sama lu."

Aku hisap dalam-dalam rokokku. Kuhembuskan asapnya ke udara. Desiran hangat di dada terus kurasakan. Rasa hangat yang sangat familiar. Rasa hangat yang nyaman. Rasa hangat yang hanya kudapat saat bersama dia. Adikku tetap berceloteh mengenai pertemuannya di Bali dengan dia. Bercerita bahwa tak ada reaksi signifikan dari wajahnya saat adikku menuntut penjelasan, bahwa dia biasa-biasa saja. Hatiku agak berdecit saat mendengar itu. Tapi, kubiarkan saja. Kubiarkan saja adikku bercerita dan berasumsi. Kubiarkan hati ini berdecit-decit. Sakit. Aku kemudian menyundutkan rokokku ke asbak dan bangkit berdiri.

"Lu dari tadi dengerin gue ga sih?" protes adikku. Aku hanya diam dan beranjak pergi. Adikku tertegun. Mungkin di pikirannya aku ini kakak yg tidak tahu terima kasih. Mungkin baginya, aku adalah kakak yang payah. Mungkin adikku akan semakin menyalahkan dia. Kubiarkan saja dia dengan segala pikirannya itu.

Kubiarkan saja hari Minggu kali ini menjadi tidak biasa.

Kubiarkan saja.

Sunday, February 19, 2017

Kubiarkan Saja

Wanita di depan pintu rumahku menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku mengerti. Ada kerinduan di sana. Ada rasa kecewa. Ada ribuan pertanyaan dan tuntutan.

"Hai. Been a while," ucapku demi mencairkan sepuluh detik saling menatap itu. Ya, aku mengenalnya. Dia adalah teman semasa kuliahku dulu. Teman. "Apa kabar, Chirr?" tanyaku. Dia tampak menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan berat sebelum menjawab, "Baik."

Aku mempersilakan dia duduk di bangku teras. Kami duduk terdiam. Aku memperhatikan anak-anak tetangga bermain sepeda dan mengoceh berisik. Dia dengan pikirannya sendiri. Ini terlalu canggung. teramat sangat canggung. Hampir 7 tahun tidak berjumpa dan tiba-tiba saja dia muncul di depan rumahku. Aku pun bertanya-tanya bagaimana caranya.

"Aku ambilkan minum dulu ya," pecahku atas keheningan di antara kami.

"Dia merasa bersalah," cegatnya. Aku tak jadi beranjak. Sebelum aku bertanya siapa yang dimaksud 'dia', temanku itu melanjutkan, "Sampai dengan detik ini dia belum juga menikah. Apa yang telah kamu lakukan padanya?" Dia bertanya atau menuntut. Tidak dapat kubedakan.

"A-apa?" Aku tergagap. Belum sepenuhnya mengerti yang dia katakan.

"Kamu menyakiti kakakku begitu dalam. Dari awal aku tidak setuju dengan hubungan kalian. Hubungan kalian merusak persahabatan kita. Lalu sekarang, hubungan kalian merusak hidup kakakku," sengitnya.

Aku terdiam. Membiarkan dia dan emosinya menyerangku. Membiarkan dirinya menganggapku sebagai orang yang jahat. Aku merasa tidak perlu menjelaskan apapun padanya. Kubiarkan kedatangannya sia-sia dengan tidak mendapat jawaban atau apapun sebenarnya yang dia inginkan dari kehadirannya secara tiba-tiba di hadapanku. Dia masih terus berbicara. Entah apa. Aku tidak lagi mendengarkan. Kubiarkan dia. Biar dia lega. Sedikit.

"Ibu..." anakku menghampiri. Aku tersenyum pada anakku dan sekilas aku lihat wajah temanku penuh dengan keterkejutan. Dia bergegas pergi. Tanpa berkata apapun. Mungkin hanya berbekal asumsi. Tentang aku, tentang kakaknya. Kubiarkan saja.

~catatan sebelum makan siang sambil mendengarkan Use Somebody versi Bossa Nova~

Tuesday, September 13, 2016

Kejutan-Kejutan Rani

Apa yang bisa dilakukan oleh anak berumur 2 tahun? Banyak, seringnya tidak terduga. Rani, anakku yang berusia 2 tahun 1 bulan 13 hari saat tulisan ini kuterbitkan, sudah bisa melakukan banyak hal. Dia sudah hafal banyak lagu anak. Biar kuberikan list lagunya:

1. Balonku
2. Topi Saya Bundar
3. Burung Kakak Tua
4. Lihat Kebunku
5. Cicak Di Dinding
6. Panjang Umur
7. Tiup Lilin
8. Potong Kue
9. Nama Hari
10. 1, 2, 3
11. Hujan Rintik-Rintik
12. Bintang Kecil
13. Pok Ame Ame
14. Satu Satu Aku Sayang Ibu
15. Pul Dedul (Lagu Daerah Bali)
16. Juru Pencar (Lagu Daerah Bali)
17. Dadong Dauh (Lagu Daerah Bali)
18. Ketut Garing (Bagian Reff, Lagu Daerah Bali)

Bahkan sebagian dari lagu-lagu tersebut sudah dihafal sebelum usianya genap 2 tahun. Dia juga hafal beberapa jargon-jargon iklan di televisi. Kalau bisa, iklan Sprite yang di-voice over Cak Lontong jangan sampai ditontonnya karena dia tidak akan berhenti bertanya.

Rani: Bu, apa tuh?
Aku: Sprite.
Rani: Sprite apa tuh?
Aku: Sprite minuman.
Rani: Sprite minuman apa tuh?
Aku: Minuman soda.
Rani: Minuman soda? Soda apa tuh?
Aku: Minuman soda dingin.
Rani: Soda dingin? Dingin apa tuh?
Aku: Dingin es.
Rani: Es apa tuh?
Aku: Es batu.
Rani: Es batu? Es...Es batu apa tuh?
Aku: *mentok, dan langsung menggelitiknya.

Kemarin, saat menemaninya bermain, secara mengejutkan dia berkata padaku dengan suara cadel khas anak-anak:

"Ibu, kemarin kan, ada meong kan, di sini kan. Ssshh... digituin sama Adik Ani. Lari dia ke genteng sama anjingnya. Terus lari, naik ke penjornya. Ssshh... digituin lagi sama Adik Ani. Lari dia ke sana, ke rumahnya Nyamprut."

Aku terkesima saat dia menceritakan itu. Yang kutahu, itu pasti adalah khayalannya karena tidak mungkin ada kucing dan anjing dari pintu rumahku lari ke atas genteng rumah tetangga. Tidak mungkin ada kucing dan anjing yang memanjat penjor, bambu hias untuk merayakan hari raya Galungan. Dia, anak umur 2 tahun sudah bisa menyampaikan apa yang ada di kepalanya dengan begitu lancar. Tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan untuk tidak dipercaya. Dia dengan sungguh percaya diri mendongengi saya.

Yah, mungkin, banyak anak seumuran anakku atau malah lebih muda darinya yang mampu melakukan hal-hal tersebut. Namun, itu tidak mengurangi rasa kagumku pada Rani yang dengan begitu beraninya berdongeng dan berfantasi.

Friday, June 24, 2016

PAST: DULU

Kau bukan matahari yang terbit lalu tenggelam sesukanya. Kau tidak bisa datang dalam mimpiku lalu muncul di dunia maya dan kemudian hilang lagi. Kau tidak bisa membiarkan tanyaku tiada berteman jawaban. Kau tidak bisa...tidak bisa... Tunggu! Kenapa aku menjadi sebal?

Seharusnya aku tahu kau memang hobi tetiba muncul lalu tanpa kata kau pamit. Seharusnya aku sudah hafal benar kebiasaanmu yang suka membuat orang heran dan bertanya-tanya ke mana kau pergi dan kau bergeming tak berkabar. Seharusnya aku sudah maklum dan tidak usah jengkel. Seharusnya aku... Tidak memikirkanmu.

Ini tidak adil. Kau tetap memperlakukanku seperti dulu. Bahkan waktu yang kita diami ini sudah bukan 'dulu' lagi. Kita telah menjadi orang yang terpisah. Kau tidak lagi bagian dari hatiku. Akupun sudah tidak berhak lagi menempati kalbumu, dan tidak ingin, tentu saja. Tapi, tetap saja kau membuat aku penasaran seolah kau ingin memancingku untuk kembali ke pusaran 'dulu'.

Apa kau kesepian?

Wednesday, May 25, 2016

PAST

Kata orang, kalau kita sedang merindukan seseorang, pasti terbawa mimpi. Aku sama sekali tidak pernah memikirkannya lagi. Tidak pernah  merindukannya lagi. Dia, satu sosok yang dulu lama mengisi hari-hariku. Sampai beberapa hari lalu, dia menyapa kembali dalam mimpi. Mungkin, dia yang sedang rindu dan memikirkanku.

Di mimpi, dia tetaplah dia, seseorang yang dewasa. Seseorang yang selalu menyenangkan diajak berdiskusi ataupun bercerita ringan. Dia tetaplah sosok yang disukai oleh banyak orang, terbukti di mimpiku, hadir pula teman-temanku yang mengagumi dirinya. Sama seperti di masa lalu.

Semesta bekerja dalam misteri. Semesta menggerakkan manusia-manusia beserta hatinya sekalian dengan tangan-tangan besi yang tak kasat mata. Semesta menakdirkan dan tak mampu dicegah. Tetiba dalam social media professional-ku, ada akun seseorang yang mengundangku untuk masuk ke dalam lingkaran pertemanannya. Itu adalah dia. Aku pun cukup terharu dengan nama yang dia pakai dalam akunnya tersebut. Nama panggilan kesayanganku dulu untuknya. Dulu.

Kusapa dalam hatiku saja, "Hai. Apa kabar?" Kubiarkan tanyaku menggantung. Biarkan semesta bekerja dalam misterinya yang luar biasa.

Wednesday, March 16, 2016

Malaikat-malaikat Tak Bersayap

Malaikat yang kita ketahui baik melalui buku cerita atau film-film selalu bersayap. Bersinar dan cemerlang. Mereka adalah penghuni surga. Namun, percayakah kalian bahwa setiap hari ada malaikat-malaikat di sekitar kita? Malaikat yang tidak bersayap. Malaikat yang adalah manusia. Manusia yang berbuat kebaikan pada orang lain.

Seperti kemarin, 15 Maret 2016. Saya dijemput dari kantor oleh suami saya tepat jam 7 malam. Kami mengendarai motor Vario keluaran lama menuju ke kos yang berjarak 15 menit dari kantor saya. Sekitar 200 meter setelahnya, motor suami saya mati.

"Habis bensin." kata suami saya sambil mengarahkan motor ke pinggir. Sontak aku melambaikan tangan kiri memberi tanda bahwa kendaraan kami hendak minggir mendadak.

"Memangnya tadi pagi kamu ga isi bensin?" saya bertanya agak kesal.

"Aku kira cukup." jawab suami saya. Saya dan dia turun dari motor. Dia menuntun motor mencari pom bensin yang jaraknya masih cukup jauh. Saya berjalan terseok dengan high heels di atas trotoar yang compang-camping. "Kota ini, negara ini sungguh tidak ramah pada pejalan kaki!" gerutu saya dalam hati, berhati-hati menginjakkan kaki di atas trotoar yang tidak rata dan berlubang di sana-sini akibat paving block-nya terlepas.

Suami saya sudah jauh di depan meninggalkan saya yang masih terus berusaha mengejar dengan high heels di atas trotoar rusak. Sungguh kombinasi yang tidak bagus dan tidak nyaman. Saya menyerah akhirnya. Ngos-ngosan, saya mengirim Blackberry Messenger dari smartphone kepada suami saya. Isinya: "Nanti jemput balik ya. Ga kuat jalan pake sepatu tinggi." Saya menunggu di dekat dagang lalapan.

Sekitar sepuluh menit kemudian, suami saya muncul. Saya melirik ke jarum tangki bensin dan jarumnya menunjuk tanda merah terbawah. Saya sudah hampir menyemprot suami saya karena tidak juga mengisi bensin dengan tangki penuh ketika suami saya berkata, "Di isi bensin segelas kecil sama pak polisi."

"Pak polisi? Kok?" tanya saya heran dalam ketidakmengertian.

"Iya, pak polisi di depan sana. Dia lihat aku dorong motor terus ditanya kenapa. Aku jawab habis bensin. Lalu pak polisinya ambil bensin dari motornya segelas kecil dan dimasukin ke tangkiku. Cukup buat ke pom bensin depan, katanya."

"Sudah bilang terima kasih? Bapak siapa namanya?" tanyaku terharu.

"Sudah, tapi aku lupa tanya nama. Di seragamnya sih Pak Made."

Begitulah. Di tengah puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan orang di sekeliling kita, pasti salah satu atau dua, atau tiga, bahkan semuanya adalah orang baik. Pasti selalu ada malaikat-malaikat tak bersayap di sekitar kita, yang dengan lapang dada dan tulus ikhlas menolong. Di antara riuhnya sorotan kepada tindak perilaku polisi-polisi kita, pasti ada banyak yang seperti Pak Made, yang rela menolong tanpa pamrih.

Dan saya ingin menjadi salah satu dari malaikat-malaikat tak bersayap itu. Menjadi berkat untuk orang lain.


Tuesday, March 1, 2016

10220

Selamat ulang tahun, wahai Aku.

Tepat hari ini, 2 Maret 2016, aku berulang tahun. Aku tidak mendapatkan apapun yang istimewa kecuali ucapan selamat dari orang terdekat dan rekan-rekan. Aku pun tidak mengharapkan apapun dari mereka. Segala yang kutahu adalah rasa syukur penuh karena aku masih memiliki kesempatan untuk mewujudkan impian dan cita-cita.

Setiap 2 Maret, aku selalu terkenang akan satu hari di ulang tahunku yang ke-23 pada tahun 2011. Menurutku, itulah hari ulang tahun teristimewaku. Mengapa bukan ulang tahun yang ke-17? Apa istimewanya? Bukan karena hadiah atau seseorang. Bahkan aku tidak mendapatkan sesuatu pun di hari itu, sama seperti hari ini. Aku hanya mendapat ucapan selamat. Ynag membuatnya teristimewa adalah karena pada 2 Maret 2011 semua detail kelahiranku di tahun 1988 sama, terutama dari segi kalender Bali.

Sebagai seorang kelahiran 2 Maret 1988, aku berarti terlahir di Buda (Rabu) Wage Menail. Nah, 2 Maret 2011 pun merupakan Buda (Rabu) Wage Menail. Tepat usiaku 23 tahun yang jika angka-angkanya dipecah, maka akan menyusun tanggal dan bulan lahirku kembali. Kata Bapakku, jarang-jarang seseorang berulang tahun tepat persis sama seperti itu. That's why I called it special yet unique.

Tahun ini memang hari ulang tahunku jatuh pada hari Rabu. Tapi, wewarannya berbeda. Kali ini Rabu Umanis Medangsia. Nope. That's not my Balinese Birthday. Bukan berarti ulang tahun kali ini tidak spesial. Hanya rasanya tidak seunik tahun 2011.

Bahasan ini menjadi semakin tidak penting, ya? Ketahuilah, ini adalah caraku untuk menghadiahi diriku sendiri saat berulang tahun. A writing, a memory. Agar aku tidak lupa saja. Lupa pada apapun yang bisa dengan mudah terlupakan.

Sekali lagi, selamat ulang tahun!