Bapakku bukan seorang ayah yang terbaik di dunia, aku tahu.
Tapi, dia adalah yang terbaik yang aku miliki. Bukan aku jumawa mengatakan itu,
aku mengatakannya karena cara unik Bapak mendidik aku dan kakak-kakakku zaman
kecil.
Yang paling aku ingat adalah Bapak sering menggunakan
psikologi terbalik jika mendapati anaknya berbuat suatu yang salah di matanya.
Seperti contoh, ketika aku, kakakku, dan sepupuku memanjat tembok atau pohon.
Orang tua sepupuku atau mungkin orang tua anak-anak lain akan berseru “Hei,
turun. Jangan naik. Turun, nanti jatuh.” Maka, anak-anak kecil tidak
menghiraukan dan tetap nangkring di atas, menunggu orang tua mereka mendekati
pohon mengacung-acungkan sapu lidi penuh ancaman. Barulah anak-anak itu
bergegas turun, atau malah tetap bertengger di atas karena kalau turun, maka
sapu akan mendapatkan paha atau bokong mereka.
Tidak dengan Bapakku. Dia tidak akan berteriak atau
mengacungkan sapu lidi. Dia cukup berkata santai, “Ayo, terusin. Naik aja.
Sampai mana sih kamu bisa naik? Terus, terus.” Maka, aku dan kakak-kakakku
secara otomatis akan melorot turun dari pohon atau tembok yang sedang kami
panjat. Entah mengapa, kata-kata Bapak yang mendukung kami untuk terus memanjat
membuat kami kikuk dan takut.
Pernah juga aku ketahuan main judi oleh Bapak. Judi
mongmongan atau judi tebak gambar yang diadakan di depan balai dusun. Aku asyik
sekali bermain dengan harapan akan menang banyak. Aku sampai tidak mengetahui
jika Bapak telah berdiri di sampingku, kedua tangannya terkunci di belakang
punggungnya. Tatapannya santai dan dia bilang, “Udah menang berapa? Kalau
menang banyak, besok berarti punya uang jajan ya? Terus aja pasangin, itu
tikusnya tembus ke ular, siapa tahu keluar. Banyak uang deh.” Aku gemetar dan
langsung lari ke rumah, tidak mau main mongmongan lagi.
Ada beberapa hal yang bisa kuambil dari psikologi terbalik
yang diterapkan Bapak. Pertama, bahwa membuat anak paham tidak selalu dengan
teriakan dan ancaman. Kedua, anak akan mengerti sendiri hal-hal yang tidak
boleh dilakukan. Ketiga, memberitahu anak bahwa hal ini atau itu tidak boleh
dilakukan dengan langsung mengatakan “tidak”, sebenarnya mengebiri kemampuan
anak untuk berpikir. Anak hanya akan mengetahui bahwa hal itu dilarang karena
orangtuanya tidak menginginkannya melakukan hal itu, tanpa mengetahui alasan
lainnya. Seperti saat Bapak lebih memilih untuk mengatakan “Terus naik”, aku
pun berpikir bahwa tidak mungkin terus naik karena cabang pohon makin ke atas
makin mengecil dan jadi ranting, bahwa ini adalah cabang paling kokoh yang bisa
kupijak, bahwa jika kulanjutkan, aku akan jatuh dan luka. Aku tidak akan
percaya dan tidak akan turun jika Bapak mengatakan sebaliknya, karena aku
merasa aman di atas sana dan tidak mungkin terjatuh. Bapak mengatakan “Kalau
menang, besok punya uang jajan”, dan itu membuatku berpikir bagaimana jika aku
kalah, artinya besok aku tidak punya uang jajan. Maka, aku berhenti. Keempat,
dengan psikologi terbalik ini, Bapak mengajarkan bahwa semua hal boleh
dilakukan asal memikirkan akibatnya dan bertanggung jawab.
Jika terkenang masa-masa itu, aku hanya tersenyum dan berterima kasih di dalam hati pada Bapak yang telah mengajariku banyak hal.
*Catatan seusai menelepon Bapak
No comments:
Post a Comment