Thursday, September 19, 2013

Bapakku dan Psikologi Terbaliknya

Bapakku bukan seorang ayah yang terbaik di dunia, aku tahu. Tapi, dia adalah yang terbaik yang aku miliki. Bukan aku jumawa mengatakan itu, aku mengatakannya karena cara unik Bapak mendidik aku dan kakak-kakakku zaman kecil.

Yang paling aku ingat adalah Bapak sering menggunakan psikologi terbalik jika mendapati anaknya berbuat suatu yang salah di matanya. Seperti contoh, ketika aku, kakakku, dan sepupuku memanjat tembok atau pohon. Orang tua sepupuku atau mungkin orang tua anak-anak lain akan berseru “Hei, turun. Jangan naik. Turun, nanti jatuh.” Maka, anak-anak kecil tidak menghiraukan dan tetap nangkring di atas, menunggu orang tua mereka mendekati pohon mengacung-acungkan sapu lidi penuh ancaman. Barulah anak-anak itu bergegas turun, atau malah tetap bertengger di atas karena kalau turun, maka sapu akan mendapatkan paha atau bokong mereka.

Tidak dengan Bapakku. Dia tidak akan berteriak atau mengacungkan sapu lidi. Dia cukup berkata santai, “Ayo, terusin. Naik aja. Sampai mana sih kamu bisa naik? Terus, terus.” Maka, aku dan kakak-kakakku secara otomatis akan melorot turun dari pohon atau tembok yang sedang kami panjat. Entah mengapa, kata-kata Bapak yang mendukung kami untuk terus memanjat membuat kami kikuk dan takut.

Pernah juga aku ketahuan main judi oleh Bapak. Judi mongmongan atau judi tebak gambar yang diadakan di depan balai dusun. Aku asyik sekali bermain dengan harapan akan menang banyak. Aku sampai tidak mengetahui jika Bapak telah berdiri di sampingku, kedua tangannya terkunci di belakang punggungnya. Tatapannya santai dan dia bilang, “Udah menang berapa? Kalau menang banyak, besok berarti punya uang jajan ya? Terus aja pasangin, itu tikusnya tembus ke ular, siapa tahu keluar. Banyak uang deh.” Aku gemetar dan langsung lari ke rumah, tidak mau main mongmongan lagi.

Ada beberapa hal yang bisa kuambil dari psikologi terbalik yang diterapkan Bapak. Pertama, bahwa membuat anak paham tidak selalu dengan teriakan dan ancaman. Kedua, anak akan mengerti sendiri hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Ketiga, memberitahu anak bahwa hal ini atau itu tidak boleh dilakukan dengan langsung mengatakan “tidak”, sebenarnya mengebiri kemampuan anak untuk berpikir. Anak hanya akan mengetahui bahwa hal itu dilarang karena orangtuanya tidak menginginkannya melakukan hal itu, tanpa mengetahui alasan lainnya. Seperti saat Bapak lebih memilih untuk mengatakan “Terus naik”, aku pun berpikir bahwa tidak mungkin terus naik karena cabang pohon makin ke atas makin mengecil dan jadi ranting, bahwa ini adalah cabang paling kokoh yang bisa kupijak, bahwa jika kulanjutkan, aku akan jatuh dan luka. Aku tidak akan percaya dan tidak akan turun jika Bapak mengatakan sebaliknya, karena aku merasa aman di atas sana dan tidak mungkin terjatuh. Bapak mengatakan “Kalau menang, besok punya uang jajan”, dan itu membuatku berpikir bagaimana jika aku kalah, artinya besok aku tidak punya uang jajan. Maka, aku berhenti. Keempat, dengan psikologi terbalik ini, Bapak mengajarkan bahwa semua hal boleh dilakukan asal memikirkan akibatnya dan bertanggung jawab.

Jika terkenang masa-masa itu, aku hanya tersenyum dan berterima kasih di dalam hati pada Bapak yang telah mengajariku banyak hal.




*Catatan seusai menelepon Bapak

No comments:

Post a Comment