Showing posts with label Monologue. Show all posts
Showing posts with label Monologue. Show all posts

Tuesday, December 25, 2012

#Hanya Sebuah Monolog II



Sempat..
Kita sempat mengadu keberuntungan untuk bersama dalam putaran waktu yang singkat..
Kita sempat memperjuangkan hati yang sama yang sempat kita anggap tulus..
Kita sempat saling mengucap janji di hati masing-masing.
Aku tidak tahu janjimu begitu juga janjiku yang tertutup rapat oleh senyumku.
Atau kita tak saling berjanji dengan bukti semuanya ini terhenti.
Aku sungguh ingin memelukmu malam ini, bayangmu begitu jelas, padat saat terlihat. Ini bukan sekedar bayang. Aku ingin memeklukmu, merapatkan setiap inci tubuh kita.
Seketas aku teringat nada nafasmu yang memburu saat ciuman pertama kita, kita sesekali tertawa dalam singkatnya merindu.
Sesaat putaran rotasi terhenti ketika kau menghentikan laju kebersamaan.
Semua tentangmu kini kupetimatikan, meski logika terus merayu menengok kembali
Aku terus menolak gravitasi perasaan yang terus menarik.
Terus melawan hypno fikiran untuk kembali.
Aku tak ubah magnet yang lemah melawan besi tua bernama kenangan.
Kau tahu?
Betapa sulitnya berfikir positif bahwa kamu baik-baik saja di sana tanpaku.
Setahuku kau begitu lemah, begitu rentan akan perubahan, bahkan perubahan pergeseran waktu kita bertemu.
Pertemuan kita begitu sederhana, kisah kita pun begitu sederhana dan perpisahan kita juga kita bentuk begitu sederhana.
Aku tidak berjanji kita bersama lagi, aromamu berubah dan kehadiranmu di depanku terlihat aneh walaupun hanya sekedar mengembalikan barang-barang terisi penuh kenangan.
Sampai saat ini kamu masih berada di dalam kelopak mataku, selalu terlihat saat aku berkedip. Entah seberapa sering aku melihatmu dalam sehari.
Aku masih terpasung nostalgia, bukannya aku betah duduk memangku kosong, aku hanya terpasung dan kehilangan kunci melupakanmu.
Rasanya buta menyenangkan, indah jika dibandingkan normal karna melihatmu kini sesal.
Aku tak ingin menginjak tempat saat-saat rutinitas pertemuan kita berada, di sana kenangan dan rekaman pembicaraan kita masih tercecer.
Aku berhasil mengenangmu, kini aku belajar melepaskan puzzle-puzzle kenangan.
Aku lupa satu hal.
Kita sedang belajar saling melupakan
Menghapus semua dengan memasukan anggota baru dalam hidup kita
Membuat replika kasih sayang untuk pasangan kita.
Semua tentangmu setia meremora.
Kamu adalah aroma coklat yang tak pernah bosan kuhirup..


By: Andra Daniel
24 December 2012
Sent via Facebook chat
Picture: AD's collections

#Hanya Sebuah Monolog I



Tak tahu apa yang kurasa
Seperti sebuah surat perasaan yang kau kirim dan tak mampu kubaca seluruh aksaranya, aku hanya mampu membaca di setiap jeda bait yang terisi nama dan senyummu. Aku masih setia memeluk tanda tanya di fikirku, tentangmu tak pernah usai kuputar dengan otak dan hati, tak cukup sebentar kau beserta awak kenangan di dalamnya, bertahan seolah kekal menungguku lapuk seperti dedaun kering yang hancur dengan sekali remasanmu. Membuatku tak cukup waras namun dengan segenap kebodohan aku menikmatinya, menikmati kematian yang sangat lamban bak hujan jutaan jarum di tubuhku yang berusaha mencari titik di mana aku tak mampu bergerak walaupun hanya menolehkan mataku lalu mati.
Kau dimana?
Jelaskan ini padaku berikan aku sedikit ampun dan berbicara kalimat-kalimat akhir, kan ku beri titik dan tak bertanya lagi.
Kau dimana?
Berikan aku jawaban atas soal yang kau sempurnakan hingga aku tak mampu menjawab meski dengan do’a setiap malamku.
Aku berharap Tuhan mengampuniku dengan memberikan jeda berfikir atau menghapus ingatan tanpa sisa. Aku lelah mengisak tangisimu tiap malam, aku lelah mendoamu di setiap denyut yang hanyut setiap detik memetik. Tak mampu membaca seberapa hasta jarak kita, jika jauh aku melihatmu sangat dekat jika dekat mengapa kau tak mampu ku dekap.
Kau adalah tanda tanya agung menyerupa takdir getir di ingatanku.

By: Andra Daniel
24 December 2012
Sent via Facebook chat
Picture: AD's collections