Tuesday, August 13, 2013

Memori Masa Kecil 1: Nyoman Latra


Ibuku mengoceh di dapur sepulang kami dari sembahyang Saraswati di Pura Pasupati. Entah apa topik kami pada siang itu, yang jelas ada sebuah kata atau tepatnya sebuah nama yang beliau sebutkan menyentak memori masa kecilku: Nyoman Latra.

Ingatanku mencuat dan berlari cepat pada sosok seorang bapak berbadan tambun. Kumisnya melengkung lebat di bawah hidung. Topi petani bertengger di atas kepalanya. Sebuah sabit terselip di punggungnya. Tanpa alas kaki, dia berjalan menatap lurus dengan mata bulat. Sangar.

Anak-anak yang melihatnya akan langsung lari kalang kabut masuk ke dalam rumah. Termasuk aku. Betapa aku gemetaran kalau orangtuaku menakuti dengan mencatut nama Nyoman Latra. Sering ibuku bilang, "Sana, main di jalan! Jangan tidur siang! Nanti Nyoman Latra lewat, digorok kamu!" Maka, nyaliku ciut dan aku tanpa protes langsung merangkak ke tempat tidur.

Kini, di usiaku yang sudah seperempat abad, aku memandang kembali adegan-adegan itu dengan penuh curiga. Kenapa aku dulu dan anak-anak kecil lainnya sangat takut pada Nyoman Latra? Apakah karena ancaman-ancaman orangtua kami yang membuat Nyoman Latra tampak seram? Atau memang penampilan fisik Nyoman Latra yang membuat kami bergidik ngeri? Dugaanku yang kedua. Sementara orangtua kami hanya memiliki pengetahuan akan ketakutan kami dan memanfaatkannya dengan baik.

Apakah Nyoman Latra tahu bahwa dia dulu sangat ditakuti oleh anak-anak? Jika dia tahu, bagaimana perasaannya? Apakah dia sedih? Apakah dia merasa benci? Apakah dia merasa diperlakukan tidak adil oleh lingkungan dan Pencipta karena sesungguhnya dia pun manusia biasa?

"Sampai sekarang anak-anak kecil di sini takut sama Nyoman Latra," ungkap ibuku seperti mengerti pikiranku.

Kasihan.

Wednesday, July 31, 2013

Sebelum Usai


31 Juli 2013, sebentar lagi berakhir. Sebelum tanggalan ini menginjak usai, aku ingin terbangun sejenak untuk menuliskan ini. Perasaan kosong sejak entah kapan. Mungkin sejak kamu pergi, dia pergi dan seseorang baru mengisi sedikit demi sedikit cawan hidupku.

Adakah rinduku padamu, Insipirasi? Selalu. Tiap detik kamu menghampiri dan bermain dengan pikiranku. Kamu mengintip sedikit celah yang kamu gores di hatiku. Rasanya? Semriwing. Sudah. Kamu, apa kabar? Ada sekepal godaan untuk mengetahui langsung darimu. Ada segenggam rasa penasaran untuk mendengar dayu suaramu. Hanya saja, mereka sebatas godaan, hanya sebatas rasa. Selebihnya, aku tidak terlalu peduli. Berbahagialah kamu, demi aku, demi kita dan anak kita yang bernama Kenangan.

Kutahu kamu kesepian dan butuh kawan bicara, Kamu Yang Pernah Kusayangi. Itulah mengapa aku tetap di sini untukmu, menjadi kawan bagimu, mendengarkan semua ceritamu. Seringkali keadaanmu yang kini membuatku meragu, haruskah aku mengunduh kembali masa-masa kita di waktu lalu dan memeliharanya bersama? Iya. Ah tidak usah, terima kasih. Iya. Duh, tidak deh. Astaga. Mari, kita tetap bersama saja, sebagai teman. Kapanpun kamu membutuhkanku, aku ada. Aku janji. Kamu tidak akan pernah sendiri, sampai nanti kamu ada yang bisa utuh menemani.

Kecemburuanmu bisa kumengerti, Kekasihku. Keterbatasan waktuku untukmu memang melewati tapal batas toleransi. Kesibukanku dengan teman-temanku juga dunia lain di kepalaku pantas membuatmu uring-uringan, merasa tidak pernah dihargai. Sesungguhnya kamu bisa memiliki aku duapuluh empat jam per tujuh, jika kamu bisa menerima aku dengan kepingan dunia lain yang mengekor di belakangku. Sebuah dunia yang tak perlu kau ketahui. Sebuah dunia yang mau tidak mau menjadikanku "Aku". Terimalah dia, satu dengan aku.

Ah, 31 Juli 2013 ini sebentar lagi usai. Sebelum jam mengeksekusinya, ke detik akhir, inilah perasaanku yang sepi entah sejak kapan. Sentaklah. Sebelum usai.



#Catatan depan kos dengan angin berhembus semilir mengucapkan selamat datang kembali padaku

Tuesday, June 18, 2013

Thursday, June 13, 2013

Sabtu 20130608

Malam minggu
Kutandaskan bersamamu
Selingkuhanku


Kuta, 8 Juni 2013



#Uhuk

INSTAN


Ketemu sehari
Langsung jadi




#catatan iseng sambil babysitting baby Epica Kenzie

Saturday, June 8, 2013

Dari Kunci Jadi Hati


Kepada HL


Dia meminta padaku sebuah kunci
Kuberikan secarik hati













#Ahay

Tuesday, June 4, 2013

Berdamai dengan Cinta Masa Lalu


Untuk AS, AD dan AK
(Kenapa A semua awalnya?)


Pagi hari sambil nongkrong di toilet, mata ini masih enggan membuka dan kuap pun masih intens terjadi, aku mendengarkan musik dari handphone. Satu lirik lagu membuatku membuka mata, kantuk sirna karena otak mulai memamahbiak kata-kata dalam lirik itu.

"How can I move on when I'm still in love with you?"

Ehem, lagu itu bukan soundtrack of my life pada saat ini. But, I have been there before. Aku pernah mengalami satu masa ketika aku tidak mau move on. Aku masih mencintainya setengah gila. Jika pun aku menjalin hubungan dengan orang lain, hubungan itu terasa palsu.

Banyak kawan menasehati, banyak artikel tentang tips move on yang aku baca. Secara garis besar semua tips atau nasehat itu hampir sama.

  1. Lupakan, cari yang baru, kamu masih muda ~~ Well, aku sudah berusaha melupakan dan mencari yang baru. Tetapi, tidak manjur. Malah aku makin terpuruk oleh rasa bersalah karena tidak tulus.
  2. Bersenang-senang bersama sahabat/keluarga ~~ Aku bersenang-senang, tetapi tidak bisa menikmatinya. Aku selalu berandai-andai dia ada di tengah-tengah kebersamaan itu.
  3. Dengarkan lagu-lagu rock atau tonton film-film thirller/horror ~~ Aku mencoba mendengarkan seluruh album Linkin Park, tetapi setelah dicermati liriknya, aku malah semakin depresi lalu frustrasi ikut berteriak-teriak dengan Mr. Bennington. Film thriller/horror malah semakin membangkitkan kenangan akan perdebatan kami soal hantu dan setan.
  4. Hapus nomernya/facebooknya/twitternya atau apapun yang bisa membuka jalan komunikasi ~~ Kurasa tidak perlu. Toh juga dia kuhubungi tidak pernah menyahut.
  5. Makan cokelat atau es krim, jus buah, nasi padang atauapapun yang kamu suka ~~ Sayangnya patah hati tidak membuat selera makanku berubah, aku tetap rakus. Tips ini percuma.
  6. Manjakan diri di salon kecantikan/spa ~~ Sudah ada jadwal sebulan sekali untuk masker rambut, body massage dan body scrub. Masa mau dibikin tiga kali sebulan? Bisa bangkrut!
  7. Sibukkan diri dengan pekerjaan ~~ Kubenamkan diri di pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah tangga. Masih saja terselip sedikit waktu untuk termenung memikirkannya.
Kira-kira begitulah tips dan nasehat dari kawan dan artikel yang kubaca di media online yang sukses membuatku makin galau. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengikuti tips itu. Aku memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu.  Berdamai untuk tidak melupakan. Aku biarkan dia bermain-main dengan pikiranku selama yang dia suka sampai bosan, lalu dia mulai berkunjung di pikiranku hanya sesekali saja. Aku tidak memaksa diri untuk membuatnya pergi bahkan semua pesan singkat dan surel masih kusimpan dan sesekali aku baca kembali hanya untuk mengingatkanku bahwa dulu aku pernah bahagia sekaligus bodoh. Membaca kembali pesan/surel itu juga meyakinkanku bahwa aku mampu lebih bahagia dari itu, tetapi kali ini tidak bodoh lagi. Aku lebih memilih memelihara dia sebagai kenangan. Selayaknya terapi bagi pecandu yang dosisnya diturunkan sedikit demi sedikit, aku pakai kenangan itu candu sekaligus terapiku hingga akhirnya aku terbiasa akan kehadirannya dan tidak ada lagi yang istimewa.

Move on? Aku cukup berikan dua tips saja kepada kalian. Pertama, lupakan tujuh tips di atas tadi. Kedua sekaligus terakhir, tidak peduli kamu masih mencintainya sebesar apapun, berdamai sajalah, kini dia masa lalumu.

Lirik lagu tadi kembali terdengar: "How can I move on when I'm still in love with you?" Sigh, kugelontor air ke dalam toilet.



#Catatan sebagai bukti bahwa inspirasi bisa datang kapan dan di mana saja