Ibuku mengoceh di dapur sepulang kami dari sembahyang Saraswati di Pura Pasupati. Entah apa topik kami pada siang itu, yang jelas ada sebuah kata atau tepatnya sebuah nama yang beliau sebutkan menyentak memori masa kecilku: Nyoman Latra.
Ingatanku mencuat dan berlari cepat pada sosok seorang bapak berbadan tambun. Kumisnya melengkung lebat di bawah hidung. Topi petani bertengger di atas kepalanya. Sebuah sabit terselip di punggungnya. Tanpa alas kaki, dia berjalan menatap lurus dengan mata bulat. Sangar.
Anak-anak yang melihatnya akan langsung lari kalang kabut masuk ke dalam rumah. Termasuk aku. Betapa aku gemetaran kalau orangtuaku menakuti dengan mencatut nama Nyoman Latra. Sering ibuku bilang, "Sana, main di jalan! Jangan tidur siang! Nanti Nyoman Latra lewat, digorok kamu!" Maka, nyaliku ciut dan aku tanpa protes langsung merangkak ke tempat tidur.
Kini, di usiaku yang sudah seperempat abad, aku memandang kembali adegan-adegan itu dengan penuh curiga. Kenapa aku dulu dan anak-anak kecil lainnya sangat takut pada Nyoman Latra? Apakah karena ancaman-ancaman orangtua kami yang membuat Nyoman Latra tampak seram? Atau memang penampilan fisik Nyoman Latra yang membuat kami bergidik ngeri? Dugaanku yang kedua. Sementara orangtua kami hanya memiliki pengetahuan akan ketakutan kami dan memanfaatkannya dengan baik.
Apakah Nyoman Latra tahu bahwa dia dulu sangat ditakuti oleh anak-anak? Jika dia tahu, bagaimana perasaannya? Apakah dia sedih? Apakah dia merasa benci? Apakah dia merasa diperlakukan tidak adil oleh lingkungan dan Pencipta karena sesungguhnya dia pun manusia biasa?
"Sampai sekarang anak-anak kecil di sini takut sama Nyoman Latra," ungkap ibuku seperti mengerti pikiranku.
Kasihan.
No comments:
Post a Comment