Thursday, August 15, 2013

Memori Masa Kecil 6: Pagelaran Wayang


Saat usiaku 6 tahun, aku mendapat upah berupa pagelaran wayang kulit. Seharusnya, upah wayang ini digelar pada saat aku berumur 3 bulan. Namun, lagi-lagi karena keadaan finansial orangtuaku tidak mendukung kala itu, pagelaran wayang baru bisa diwujudkan saat aku sudah bisa calistung. Sedih.

Pagelaran wayang yang ditujukan sebagai upah atau hadiah itu diadakan di arena publik milik banjar/dusun. Berlokasi di depan balai banjar dan dalangnya adalah dalang Sidia yang waktu itu merupakan dalang paling wahid di banyak desa. Kalau zaman sekarang sih ada banyak dalang wayang yang terkenal, terutama dalang-dalang wayang Cenk Blonk-wayang kulit modern yang dilengkapi dengan sound system dan light effect. Wayang kulit klasik tradisional pun terpinggirkan karena kemajuan zaman dan kecanggihan teknologi.

Jujur saja, ketika aku berumur 6 tahun itu aku sama sekali tidak mengerti cerita wayang. Apalagi wayang klasik, adegan lucu sekali pun. Aku hanya bengong menontoni lamat-lamat bebayang di layar sambil terheran-heran pada suara dalang yang berubah-ubah sehingga membuatku menduga ada banyak dalang di belakang layar itu. Para tetangga rumah pun berduyun-duyun menonton hiburan yang jarang ada di waktu itu.

Satu-satunya hal yang paling kuingat kala itu adalah aku menonton di bangku penonton paling strategis dipangku oleh kakak sepupuku yang biasa kupanggil Bli Made Pung. Aku senang dipangku dan dimanja-manjanya. Aku adalah kesayangannya. Namun, tidak kukira jika malam itu adalah waktu terakhir yang  bisa aku habiskan bersamanya. Sesudah itu Bli Made Pung jatuh sakit dan menemui ajal.

Huft. Sedih sekali.

No comments:

Post a Comment