Wednesday, August 14, 2013

Memori Masa Kecil 3: Nenek dan Cempaka


Nenek adalah salah satu sosok yang turut mengiringi masa kecilku. Nenekku berbadan mungil dan berkulit putih. Wajah nenekku cantik dan rambutnya panjang bergelombang. Aku suka sebal kalau diminta mencari uban oleh nenek. Bagaimana tidak sebal? Hampir seluruh rambutnya telah menjadi uban sehingga aku bingung mau mencabut yang mana.

Selain mencari uban, kegiatan yang sering dulu aku lakukan bersama nenekku adalah pergi ke uma (sawah). Sawah itu milik kakek. Di sana selain tertanam padi, juga tertanam bunga pacar, pohon mangga, pohon sukun, dan satu pohon bunga cempaka. Nah, bunga cempaka ini yang punya kenangan tersendiri.

Sering kali, nenek mengajak cucu-cucunya berjalan ke uma. Perjalanan yang cukup jauh yaitu hampir 2 kilometer. Aku, kakak dan sepupu mengikuti nenek dengan ceria dalam perjalanan itu. Tidak ada yang mengeluh soal jauhnya jarak yang harus kami tempuh dengan kaki-kaki pendek kami, yang ada cuma riuh kicauan kami bercerita ini-itu.

Di sawah, kami akan menunggui nenek di bawah pohon cempaka yang besar itu. Nenek sedang memanjatnya. Nenek memetik bunga-bunga cempaka dan menjatuhkannya ke tanah. Tugas kami ialah memunguti bunga-bunga cempaka yang dijatuhkan nenek. Jika dikira sudah cukup oleh nenek, atau bunga yang mekar sudah habis, nenek akan turun lalu membungkus bunga yang kami kumpulkan dengan daun pisang. Selanjutnya kami bermain-main hingga sore tiba untuk kami pulang.

Bunga cempaka yang dikumpulkan biasanya akan dijual nenek ke pasar atau ke tetangga. Dijual seharga Rp 1000 lalu dibagi kepada cucu-cucunya masing-masing Rp 100. Diberikan upah segitu banyak menjadikan kami selalu ingin ikut ke uma. Tidak apalah menempuh perjalanan jauh asal kami dapat uang.

Dan nenek meninggal saat aku berusia 13 tahun.

No comments:

Post a Comment