Tuesday, August 13, 2013

Memori Masa Kecil 2: Bapak dan Rokok


Semenjak memori akan Nyoman Latra menghampiri, memori-memori lain juga turut hadir. Mereka mampir di kepalaku, tumpang-tindih, singkat dan acak. Salah satunya adalah ingatan akan bapakku yang dulu seorang perokok tingkat akut.

Bapak merokok seperti perokok aktif pada umumnya. Satu bungkus rokok sehari. Jika rokoknya habis, maka aku adalah yang ditunjuknya untuk membeli rokok. Kalau ada duit, beli sebungkus. Kalau tidak ada, cukup sebatang atau dua batang.

Aku ingat sekali merek rokok yang digemari bapakku: Bentoel Biroe dan Crystal. Harganya waktu itu Rp 200/batang. Upahku untuk membeli rokok di warung milik tetangga kami yang bernama Mutru (alm) adalah Rp 50. Upah itu cukup untuk membeli jajan seharian. Aku pun senang.

Ada satu cara unik bapak dalam merokok. Bapak sering meneteskan minyak angin ke spons filter rokok sebelum menyalakan dan menghisapnya. Dulu belum ada rokok rasa mint atau menthol, mungkin maksud bapak adalah untuk mendapatkan sensasi dingin semriwing di rokoknya. Ah, ada-ada saja.

Namun, bapak memutuskan untuk berhenti merokok. Berhenti sama sekali tanpa tahap pengurangan. Maka, hilang sudah satu penghasilanku. Tapi, aku tetap senang karena bapak hidup lebih sehat.

Ciao!

No comments:

Post a Comment