Kutu. Kutu rambut. Iya, sumpah dulu semasa kecil rambutku berkutu.
Memelihara rambut panjang sudah aku jalani sejak kecil. Dulu rambutku panjangnya sebokong, bahkan lebih. Hanya dipotong ujung-ujungnya oleh ibu. Berangkat ke sekolah, maka akan jadi tugas ibu untuk mengepang dua rambutku juga rambut kakakku. Sayangnya, aku kutuan.
Kuat dugaan rambutku berkutu karena ketularan seorang tetangga yang menjadi kawan karib dulu saat masih kanak. Aku dan kakakku sering tidur bareng kawan kami itu. Dia secara umum diketahui sebagai anak kutuan dan kutu di rambutnya termasuk yang susah dibasmi. Mungkin karena seringnya kebersamaan kami membuat kutu-kutu itu dengan leluasa lompat ke kepalaku dan menetaskan telur-telurnya di sana. Asli, gatal mampus.
Akhirnya, bapak membelikan aku dan kakakku obat kutu rambut. Botolnya kecil dari plastik murahan dengan logo yang ditempel asal-asalan. Warna cairan di dalamnya merah muda. Cairan anti kutu itu juga memiliki wangi yang luar biasa dahsyatnya. "Seperti hand-body," begitu dulu aku bilang. Setelah aku sedikit punya pengetahuan karena semakin besar dan pintar, barulah aku tahu obat anti kutu itu namanya Peditox.
Ibu mengoleskan obat itu ke kulit kepala dan rambutku. Lalu rambutku yang basah karena obat itu digelung dan dibungkus tas kresek. Didiamkan hampir satu jam dan setelah kreseknya dilepas, ratusan induk kutu serta anaknya tewas di dalam kresek. Semenjak itu, kutu-kutu seperti ogah singgah di kepalaku.
Temanku? Masih kutuan. Tapi, sekarang tidak lagi. Entah dia pakai Peditox atau apa.
No comments:
Post a Comment