Aku termasuk sangat lambat dalam kemampuan mengendarai sepeda. Sampai sekarang pun kelambatan kemampuan mengendarai sepeda motor menjadi satu kelemahan terbesarku. Aku baru belajar mengendarai sepeda gowes ketika usiaku hampir 10 tahun. Saat itu, aku duduk di bangku kelas 4 SD. Teman-teman seusiaku bahkan adik-adik sepupuku sudah jago gaya lepas tangan dua.
Sepupuku dibelikan sebuah sepeda kecil dengan roda bantuan dua buah oleh orangtuanya. Aku begitu kagum memandang sepeda itu karena aku tidak pernah punya sepeda. Sedikit iri. Hanya saja, sebagai anak yang terlatih untuk memaklumi keadaan orangtua, aku diam saja. Aku berlari di belakang adik sepupuku yang semangat menggenjot sepeda. Ikut-ikut saja bergembira hingga akhirnya dia memperbolehkan aku meminjam sepedanya untuk belajar.
Aku belajar dengan keras. Terpeleset, terjatuh tidak jadi soal. Di dalam pikiranku hanya agar aku bisa. Lucunya, di saat adik sepupuku sudah bisa mengendarai sepeda tanpa roda bantuan, aku masih tertatih-tatih dengan dua roda bantuan di belakang. Secara bertahap sesuai dengan kemahiran dan keberanianku, satu roda bantuan dicopot. Perlu waktu lama untuk mencopot satu roda lagi karena aku masih ngeri. Sampai akhirnya, di saat adik sepupuku sudah mengendarai sepeda yang jauh lebih besar dengan rem kaki, aku baru bisa mengendarai sepedanya yang kecil tanpa roda bantuan sama sekali.
Yah, terdengar menyedihkan. So pathetic I am.

No comments:
Post a Comment