Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts

Monday, March 18, 2013

CINTA SIANG



Cinta ini adalah siang
Suhunya panas sebab gejolak hebat di hati
Senantiasa lapar dan dahaga oleh rindu yang tak pernah henti
Dan tidur adalah caranya untuk menjumpakan kita

Friday, March 15, 2013

CINTA MALAM

Untuk AD


Cintaku bukanlah bintang
Bukan pula rembulan 
Yang tertidur pulas di atas sana
 
Cintaku adalah kamu 
Yang kudengar berdoa 
Saat malam tiba

Tuesday, February 19, 2013

KIMIAWI CINTA


Phenylethylamine tercetus di otakku
Sehabis menangkap pesonamu

Dopamine, bekerja layaknya kokain
Didampingi Norepinephrine
Menimbulkan gelora disertai adiksi tinggi

Adrenalin memacu debar-debar jantung
Serotonin menjadikanku seolah sakit jiwa

Endorphin, penyamaran sempurna morfin
Mencipta kenyamanan di tubuhku

Berkonspirasilah mereka bersama darah
Menggempurku dengan Cinta






*Tahu bahwa cinta tidak hanya sekedar rasa, tetapi juga kimia sejak menulis skripsi tentang disfungsi seksual yang dialami Maria, tokoh utama dalam novel Eleven Minutes karya Paulo Coelho*

Saturday, December 29, 2012

REINKARNASI

Gambar dari sini
Mungkin reinkarnasi itu benar terjadi. Bagi yang beruntung, mereka akan terlahir sebagai manusia. Bagi yang beruntung, mereka akan terlahir di lingkungan sukses dan kaya. Bagi yang beruntung, mereka terlahir tanpa cacat, cantik dan tampan. Bagi yang beruntung, mereka akan dipertemukan kembali dengan belahan jiwa. Untuk mereka yang bernasib kurang baik, terlahir sebagai makhluk hidup saja mungkin sudah bagus. Lalu, aku dan kamu, apakah beruntung atau bernasib kurang baik di dalam perputaran kelahiran ulang ini? Aku lebih suka menyebutnya 'beruntung' meski bagi orang yang mengetahui kisah kita akan menyebut ini sebagai keburukan nasib.

Mungkin kita dulu adalah sepasang kekasih. Kita saling mencintai satu sama lain teramat sangat. Kita telah saling berjanji jauh sebelum kita mengantri menapak roda kelahiran. Janji bahwa nanti kita akan saling mengenal kembali, saling mencintai dan selalu ada untuk masing-masing.

Sampai tiba saatnya kita terjun ke alam yang dulu sempat kita kenal. Alam kehidupan tempat kita memadu kasih, memanen cinta dan menuai sayang. Akankah sama? Akankah alam itu mengenal kita? Kita hanya tahu misteri yang tidak pernah pasti. Di undakan waktu itu kita setia, saling memandang penuh cinta dan bergandeng tangan mesra. Masih sempat kita ulang janji itu sebelum menenggak cairan penghapus jejak: mengenal, mencintai, selalu ada. Kemudian terjunlah kita ke lembah pekat, terombang-ambing oleh getaran kala. Jungkir balik, berhimpitan, bergesekan dan perihnya luar biasa. Bukan lagi tanganku yang kau genggam, tidak lagi tanganmu yang kutaut. Hanya takdir. Ya, takdir itu kini dalam kita.

Kita tidak pernah mengingkari janji selama masa reinkarnasi. Jiwa-jiwa kita telah mengakar kuat bersama janji itu dan mustahil tercerabut. Meski lembaran hidup yang kita perankan berbeda, kita tahu di dalam jiwa-jiwa kita, kita tetaplah yang dulu: sepasang kekasih.

Dalam giliran reinkarnasi ini, kita runut janji awal: saling mengenal. Perlu puluhan tahun untuk kita saling menyapa dan mengucap nama. Itulah kemampuan dan kuasa absolut takdir dalam diri kita, tidak usah heran apalagi sesal. Dalam proses mengenal kembali ini, kita bercakap melalui puisi. Di sanalah kutemukan diriku. Di setiap liris kata yang kau tuliskan. Kau pun mendapati diri di masing-masing rima yang kususun. Takdir telah memperkenalkan kita di saat yang tidak terduga: aku dahaga dan kau terluka. Puisi yang kita karya dan dayakan adalah pelipur. Tak ada habisnya kita bentangkan di ribuan jalan hidup.

Puisi pun menyentak kita untuk saling jatuh cinta. Selayaknya bocah polos dalam ketelanjangan, cinta dan rindu kita terlalu kentara berdesakan di kerumunan bait. Sarat, lekat dan pekat. Tak bisa kutampung lebih lama, tak sanggup kau sembunyikan lebih dalam. Tak cukup tempat dan ruang, puisi-puisi kita tumpah menggenangi langkah nafas. Meruah, memanja hati dan jiwa yang telah lama berkelana. Saling mencinta, lunas sudah.

Melalui jendela-jendela kecil di puisi, kita saling mendengar tawa. Tawa bahagia yang tak tertawar. Tawa yang berlumur cinta juga rindu untuk merengkuh dimensi lain kehadiran masing-masing. Dimensi yang lebih padat dan nyata dengan jumlah yang lebih banyak, mungkin tiga, empat atau bahkan enambelas agar kita mampu saling menggapai dari pucuk ke pokok. Tak jarang kita saling mencicipi getir rasa hingga meriakkan airmata. Kau mendengar isakku, kuhayati kisahmu. Kutalangi dukamu dan kau tadahi laraku. Hingga kita tak lagi dua, melainkan satu cerminan. Janji terakhir pun tertebus: selalu ada.

Mari berhenti sejenak. Kumparan reinkarnasi ini, berkompromi dengan takdir, sesungguhnya tak pernah membiarkan kita bertemu. Mereka terlalu cemburu. Tinggallah kita: manusia-manusia yang berambisi menepati janji, yang tidak akan bisa lagi mengait jemari, terdampar di lelah perjalanan puisi.

Sudikah kau untuk menoleh kembali ke masa kita mengikat janji? Mungkin nanti, jika kita memperoleh giliran reinkarnasi  lagi, kita akan mengucap janji yang lebih spesifik, bila perlu kita catat detailnya di lembar-lembar ingatan. Biar tidak kecewa dan durja.

Akan tetapi, kita masih beruntung karena terlahir sebagai manusia yang dalam kungkungan takdir masih boleh melunasi janji-janji. Meski kita tidak pernah bersua seperti dahulu kala ataupun di alam sana, kita tetap sepasang kekasih yang mencinta. Jadi, mari kita nikmati reinkarnasi ini (terserah takdir mau berbuat apa).


Denpasar, 29 Desember 2012
01.48 AM
Inspired by my very best friend's Whatsapp message which said:
"Sepertinya dia orang yang pernah ada di kehidupanmu sebelumnya."

Tuesday, November 20, 2012

To Sir, With Soul

Yes, Sir!
You, Sir!
You are holding my strawberry cake in your arm
like a hand grenade
and you, Sir, are ready to throw it away
Make it boom boom boom

Yes, Sir, those pieces are me!
Ones that you've torn apart
then you burn burn burn them to ashes

Aye, Sir!
It's me, Sir!
Up on my knees
Begging please please please
Let me unlocked
Let me uncuffed
off your fantasy in my head

It's a great torment, Sir.




~Catatan ketika ingin terlepas dari cemburu~

Friday, November 16, 2012

Cheesy Love

Dedicated to my dearest fiance: Alex Kirk

Alex & I
I want to make a beautiful poem
for you, my Earth.
A poem that sings
how much love I have

It is big
as big as the universe
even bigger

It is beautiful
as beautiful as the flowers
even more

Now this poem sounds cheesy, my Heaven
I know

But when you read it carefully
You'll find in every alphabets
and every space: Me, in shape of love.