Saturday, December 29, 2012

REINKARNASI

Gambar dari sini
Mungkin reinkarnasi itu benar terjadi. Bagi yang beruntung, mereka akan terlahir sebagai manusia. Bagi yang beruntung, mereka akan terlahir di lingkungan sukses dan kaya. Bagi yang beruntung, mereka terlahir tanpa cacat, cantik dan tampan. Bagi yang beruntung, mereka akan dipertemukan kembali dengan belahan jiwa. Untuk mereka yang bernasib kurang baik, terlahir sebagai makhluk hidup saja mungkin sudah bagus. Lalu, aku dan kamu, apakah beruntung atau bernasib kurang baik di dalam perputaran kelahiran ulang ini? Aku lebih suka menyebutnya 'beruntung' meski bagi orang yang mengetahui kisah kita akan menyebut ini sebagai keburukan nasib.

Mungkin kita dulu adalah sepasang kekasih. Kita saling mencintai satu sama lain teramat sangat. Kita telah saling berjanji jauh sebelum kita mengantri menapak roda kelahiran. Janji bahwa nanti kita akan saling mengenal kembali, saling mencintai dan selalu ada untuk masing-masing.

Sampai tiba saatnya kita terjun ke alam yang dulu sempat kita kenal. Alam kehidupan tempat kita memadu kasih, memanen cinta dan menuai sayang. Akankah sama? Akankah alam itu mengenal kita? Kita hanya tahu misteri yang tidak pernah pasti. Di undakan waktu itu kita setia, saling memandang penuh cinta dan bergandeng tangan mesra. Masih sempat kita ulang janji itu sebelum menenggak cairan penghapus jejak: mengenal, mencintai, selalu ada. Kemudian terjunlah kita ke lembah pekat, terombang-ambing oleh getaran kala. Jungkir balik, berhimpitan, bergesekan dan perihnya luar biasa. Bukan lagi tanganku yang kau genggam, tidak lagi tanganmu yang kutaut. Hanya takdir. Ya, takdir itu kini dalam kita.

Kita tidak pernah mengingkari janji selama masa reinkarnasi. Jiwa-jiwa kita telah mengakar kuat bersama janji itu dan mustahil tercerabut. Meski lembaran hidup yang kita perankan berbeda, kita tahu di dalam jiwa-jiwa kita, kita tetaplah yang dulu: sepasang kekasih.

Dalam giliran reinkarnasi ini, kita runut janji awal: saling mengenal. Perlu puluhan tahun untuk kita saling menyapa dan mengucap nama. Itulah kemampuan dan kuasa absolut takdir dalam diri kita, tidak usah heran apalagi sesal. Dalam proses mengenal kembali ini, kita bercakap melalui puisi. Di sanalah kutemukan diriku. Di setiap liris kata yang kau tuliskan. Kau pun mendapati diri di masing-masing rima yang kususun. Takdir telah memperkenalkan kita di saat yang tidak terduga: aku dahaga dan kau terluka. Puisi yang kita karya dan dayakan adalah pelipur. Tak ada habisnya kita bentangkan di ribuan jalan hidup.

Puisi pun menyentak kita untuk saling jatuh cinta. Selayaknya bocah polos dalam ketelanjangan, cinta dan rindu kita terlalu kentara berdesakan di kerumunan bait. Sarat, lekat dan pekat. Tak bisa kutampung lebih lama, tak sanggup kau sembunyikan lebih dalam. Tak cukup tempat dan ruang, puisi-puisi kita tumpah menggenangi langkah nafas. Meruah, memanja hati dan jiwa yang telah lama berkelana. Saling mencinta, lunas sudah.

Melalui jendela-jendela kecil di puisi, kita saling mendengar tawa. Tawa bahagia yang tak tertawar. Tawa yang berlumur cinta juga rindu untuk merengkuh dimensi lain kehadiran masing-masing. Dimensi yang lebih padat dan nyata dengan jumlah yang lebih banyak, mungkin tiga, empat atau bahkan enambelas agar kita mampu saling menggapai dari pucuk ke pokok. Tak jarang kita saling mencicipi getir rasa hingga meriakkan airmata. Kau mendengar isakku, kuhayati kisahmu. Kutalangi dukamu dan kau tadahi laraku. Hingga kita tak lagi dua, melainkan satu cerminan. Janji terakhir pun tertebus: selalu ada.

Mari berhenti sejenak. Kumparan reinkarnasi ini, berkompromi dengan takdir, sesungguhnya tak pernah membiarkan kita bertemu. Mereka terlalu cemburu. Tinggallah kita: manusia-manusia yang berambisi menepati janji, yang tidak akan bisa lagi mengait jemari, terdampar di lelah perjalanan puisi.

Sudikah kau untuk menoleh kembali ke masa kita mengikat janji? Mungkin nanti, jika kita memperoleh giliran reinkarnasi  lagi, kita akan mengucap janji yang lebih spesifik, bila perlu kita catat detailnya di lembar-lembar ingatan. Biar tidak kecewa dan durja.

Akan tetapi, kita masih beruntung karena terlahir sebagai manusia yang dalam kungkungan takdir masih boleh melunasi janji-janji. Meski kita tidak pernah bersua seperti dahulu kala ataupun di alam sana, kita tetap sepasang kekasih yang mencinta. Jadi, mari kita nikmati reinkarnasi ini (terserah takdir mau berbuat apa).


Denpasar, 29 Desember 2012
01.48 AM
Inspired by my very best friend's Whatsapp message which said:
"Sepertinya dia orang yang pernah ada di kehidupanmu sebelumnya."

No comments:

Post a Comment