 |
| Suasana Ruang Tunggu Gate 6 Bandara Juanda |
Menunggu di ruang tunggu gate 6 Bandara Juanda Surabaya, aku merasa sendiri. Lalu lalang manusia dengan troli, wheeled bag, atau hanya tas jinjing tak mengusik kesendirianku. Tiga orang berwajah timur (entah Papua, Flores atau Rote) asik berfoto-foto. Mereka tak mampu jua mencampuri kesendirianku. Kerlap-kerlip pohon Natal di ujung sana, di sebuah department store tidak mampu menggugah kesendirianku.
Aku berasyik masyuk sendiri. Switchfoot tak lelah menyanyi dari MP3 player mungilku yang berwarna oranye. Saat itulah aku melepaskan pikiranku bertelanjang kaki berlari melesat ke sabana terluas yang ia mau. Dia cekikikan mengingat ini akhir November. Dia tertawa lepas untuk mengetahui esok adalah awal Desember. Awal yang diinginkannya
special.
 |
| Switchfoot |
Pikiranku sekarang berdansa dengan tiga orang personil Two Door Cinema Club. Jejingkrakan kegirangan bersama Sam Halliday yang jatuh cinta pada bass. Kakinya mantap menghentak-hentak. Tak sabar mengunggu untuk mengetahui misteri bila esok dia masih bernafas atau mati.
 |
| Two Door Cinema Club |
Tiba-tiba pikiranku sudah bernyanyi bersama si androgyny La Roux di dekat pohon Natal tadi. Dia kegelian menatap rambut La Roux yang jika ditata lebih ke atas sedikit akan terlihat seperti ice cream cone.
 |
| La Roux (Elly Jackson) |
Lagi pikiranku diundang Coldplay menyanyikan Clocks. Pikiranku sumringah dan berteriak-teriak menyanyikan lirik lagu bersama Chris Martin yang juga tertawa-tawa melihat polah pikiranku. Pikiranku terhenti saat lirik "Am I the part of the cure or am I part of the disease" melantun. Tanpa pamit dia meninggalkan Guy Berryman yang telah berniat menciumnya.
 |
| Coldplay |
Suara sexy Gin Wigmore menarik pikiranku untuk berdansa segila-gilanya. Kini tak hanya kakinya yang telanjang, pikiranku pun melucuti diri. Membiarkan keringat mengucur leluasa, tidak terserap helai-helai benang yang menyelimuti.
 |
| Gin Wigmore |
Pikiranku tak mau pusing. Dia mendekati The Archies yang menyanyikan lagu termanis di era 60-an. Pikiranku pun membuat gerakan-gerakan super konyol saat dia mendengar The Archies membawakan tembang lawasnya. The Archies jauh lebih terhibur melihat pikiranku.
 |
| The Archies |
Pikiranku mengusik duet Ingrid Micahelson dan Jason Mraz menyanyikan You and I. Lagu yang muluk, pekik pikiranku di telinga mereka. Michaelson dan Mraz hanya mengerling setuju dan melanjutkan kemulukan mereka.
 |
| Ingrid Michaelson &Jason Mraz |
Pikiranku tergoda oleh Meiko yang beraliran indie pop folk menyuarakan hatinya yang sedang jatuh cinta. Pikiranku terbahak menyadari bahwa dia sendiri pun masih jatuh cinta pada orang yang telah pergi. Jadilah mereka berdua menyanyi seperti di karaoke.
 |
| Meiko |
Berturut-turut Robbie Williams mengajak pikiranku menyanyikan banyak hits-nya. Eternity, Better Man, Angels, She's the One hingga Come Undone. Tak lupa, Williams mengajari pikiranku bagaimana menjadi nakal yang seksi seperti dirinya.
 |
| Robbie Williams |
Almarhumah Amy Winehouse memanggil lembut pikiranku untuk segera bergabung di mejanya. Bersulang untuk kematian yang menjemukan, mereka kemudian menyanyikan Rehab. Pikiranku menyanyi dengan fals karena kelelahan sementara Winehouse tetap mengagumkan meski sudah menjadi roh.
 |
| Amy Winehouse |
Satu-satunya suara yang mampu menarik pikiranku pulang adalah suara seorang wanita yang lembut dari interkom. Wanita itu mengatakan pesawatku ke Bali sudah siap untuk take off. Terburu pikiranku mengenakan kembali pakaiannya dan bingung mencari sandal. Serampangan dia mengucap selamat tinggal pada mereka semua yang bersedia menyanyi bersama. Dia memohon doa pada mereka agar Desember berlangsung penuh dengan kejutan menyenangkan.
Aku tidak merasa sendiri lagi. Siap kembali.
~catatan saat bosan menunggu boarding~
Surabaya, 30 November 2012
No comments:
Post a Comment