Thursday, December 6, 2012

GINADA : AN INSPIRING TRADITIONAL SONG


Eda ngaden awak bisa
Depang anake ngadanin
Geginane buka nyampat
Anak sai tumbuh luhu
Ilang luhu, ebuk katah
Wiadin ririh,
Enu liu pelajahin

Tulisan di atas merupakan sebuah pupuh dalam bahasa Bali. Pupuh di atas merupakan sebuah Pupuh Ginada. Pupuh adalah sebuah tembang yang memiliki hukum Padalingsa yang terdiri dari guru laghu dan guru dingdong. Guru laghu itu jumlah bilangan suku kata dalam satu baris sementara guru dingdong itu vokal akhir tempat jatuhnya guru laghu tadi. Kira-kira begitulah sisa pengertian yang masih menempel di kepalaku. Pelajaran pupuh ini aku dapat saat di sekolah dasar, jadi maklum saja kalau aku salah yah! ^_^ Kalau belum mengerti, aku contohin nih:

E-da nga-den a-wak bi-sa ==> ada 8 guru laghu.
Guru laghu itu berakhir pada vokal a, maka Padalingsanya menjadi 8a

De-pang a-na-ke nga-da-nin==> ada 8 guru laghu.
Guru laghu itu berakhir pada vokal i, maka Padalingsanya menjadi 8i

And so on and so forth. Gunanya padalingsa ini apa sebenernya? Padalingsa sangat berguna untuk menentukan ketukan tembang pada saat dinyanyikan. Guys, ada 13 jenis pupuh dalam tembang Bali. Pupuh biasanya berisi cerita patriotik atau nasehat-nasehat hidup. Misalnya, Pupuh Durma yang bercerita tentang kisah hidup Durma, atau Pupuh Mijil yang bercerita tentang telur seorang nenek yang dicuri oleh anak-anak nakal. Dua pupuh ini paling sering dinyanyikan sebagai ninaboboku waktu kecil :D

Lalu apa arti Pupuh Ginada di atas? Sebelumnya, biar kujelaskan dulu mengapa aku pilih Pupuh Ginada untuk aku bahas. Pupuh Ginada yang aku kutip itu adalah bentuk paling familiar dari sebuah Pupuh Ginada (Ada Pupuh Ginada yang digunakan untuk menceritakan Kisah Mahabharata). Pupuh Ginada di atas adalah salah satu prinsipku dalam hal merendahkan hati dan mensyukuri hidup. Secara literal, pupuh di atas dapat diartikan:

Jangan kira kau pintar
Biar orang lain yang menilai
Hidup itu seperti menyapu
Pasti selalu ada sampah
Sampah hilang, debu tersisa
Kalaupun pintar
Masih banyak yang harus dipelajari

Dengan tempo yang lembut dan pelan, kata-kata dalam tiap pupuh ini menelusuk hati. Pupuh ini mengajarkan bagaimana kita harus menjaga kepala agar tidak membesar dalam kesombongan. Pupuh ini mengajarkan bagaimana menghadapi hidup yang tidak pernah habis perkara. Pupuh ini mengajarkan kita untuk tidak pernah menyerah mengetahui dan menghadapi apapun. Iya, sampah atau masalah pasti selalu ada di dalam hidup kita. Jangan memungkiri. Beres persoalan satu, masih juga ada debu yang mengganggu. Tetapi, bersyukurlah karena dengan begitu kita tidak pernah berhenti belajar. Sebuah pesan yang agung, bukan?

Semoga bisa menginspirasi.

No comments:

Post a Comment