Katanya, kiamat mundur.
Tidak jadi duabelas duabelas duabelas.
Mungkin Si Kiamat ketiduran.
Wekernya yang berisik tidak bekerja.
Takdir tidak sempat menoleh kalender di telepon canggihnya.
Dia disibukkan oleh urusan sidang koruptor.
Mungkin Tuhan kehilangan kacamata.
Rabun saat melihat tanggalan yang menyebabkan Dia alpa.
Tapi, para cenayang dan peramal itu bilang:
Masih ada angka unik lain yang tersisa di bulan ini.
Angka yang pas untuk memulai adegan film Hollywood kemarin.
Duapuluh duabelas duapuluh duabelas.
Proposal sudah diajukan ulang oleh Si Kiamat kepada Sang Takdir.
Ditembuskan ke Tuhan yang kini sudah pakai lensa.
Manusia pun ribut mendengar kabar itu.
Mereka mulai mengepak barang-barang.
Baju, makanan, minuman, obat,
dan gadget--untuk kepentingan update status, foto atau live blogging.
Berbondong-bondong mereka ke bukit, ke gunung
biar tidak kena tsunami.
Beramai-ramai ke ruang bawah tanah, ke bunker
biar tidak tersambar meteor.
Menarik nafas.
Tuhan belum sempat baca proposalnya.
Dia sedang asyik minum anggur sambil wall-walking.
Melihat kreasinya berdoa dan bersyukur di dinding
Berkicau-kicau memuji namaNya.
Menurutnya itu lebih keren daripada proposal.
Sang Takdir bolak-balik mengecek jam di teleponnya yang canggih.
Lalu dia pergi tanpa pamit.
Masih banyak urusan, batinnya agak kesal.
Si Kiamat bosan menunggu.
Dia lebih memilih melanjutkan tidur.
Wekernya sudah dibuang.
Para cenayang dan peramal berseru, "Tunggu kabar selanjutnya."
Tidak jadi duabelas duabelas duabelas.
Mungkin Si Kiamat ketiduran.
Wekernya yang berisik tidak bekerja.
Takdir tidak sempat menoleh kalender di telepon canggihnya.
Dia disibukkan oleh urusan sidang koruptor.
Mungkin Tuhan kehilangan kacamata.
Rabun saat melihat tanggalan yang menyebabkan Dia alpa.
Tapi, para cenayang dan peramal itu bilang:
Masih ada angka unik lain yang tersisa di bulan ini.
Angka yang pas untuk memulai adegan film Hollywood kemarin.
Duapuluh duabelas duapuluh duabelas.
Proposal sudah diajukan ulang oleh Si Kiamat kepada Sang Takdir.
Ditembuskan ke Tuhan yang kini sudah pakai lensa.
Manusia pun ribut mendengar kabar itu.
Mereka mulai mengepak barang-barang.
Baju, makanan, minuman, obat,
dan gadget--untuk kepentingan update status, foto atau live blogging.
Berbondong-bondong mereka ke bukit, ke gunung
biar tidak kena tsunami.
Beramai-ramai ke ruang bawah tanah, ke bunker
biar tidak tersambar meteor.
Menarik nafas.
Tuhan belum sempat baca proposalnya.
Dia sedang asyik minum anggur sambil wall-walking.
Melihat kreasinya berdoa dan bersyukur di dinding
Berkicau-kicau memuji namaNya.
Menurutnya itu lebih keren daripada proposal.
Sang Takdir bolak-balik mengecek jam di teleponnya yang canggih.
Lalu dia pergi tanpa pamit.
Masih banyak urusan, batinnya agak kesal.
Si Kiamat bosan menunggu.
Dia lebih memilih melanjutkan tidur.
Wekernya sudah dibuang.
Para cenayang dan peramal berseru, "Tunggu kabar selanjutnya."
No comments:
Post a Comment