Selamat pagi.
Bingung memilih kata-kata untuk mengawali tulisan kali ini. Kuputuskan sapaan selamat pagi karena ini masih pagi dan pagi selalu membawa semangat tanpa batas.
Pagi juga menginspirasiku untuk membahas persahabatanku dengan Yang Maha Tinggi. Sahabat yang dalam kesederhanaan mampu menghadirkan ketidakmengertian di benak insan-insan hasil karyaNya. Sahabat yang bisa membuat tanda tanya beranak pinak macam induk-induk babi dalam kandang. Semakin besar tanda tanya itu digurat, semakin mengerdil keingintahuan kita lalu menyurut memasrahkan diri dalam kesederhanaanNya tadi.
"Bagaimana bisa kamu bersahabat dengan Tuhan sementara kamu adalah orang paling tidak relijius yang pernah aku temui?" Mungkin itu tanya lain yang biasa kalian ajukan padaku. Tanda tanya yang berhasil aku elaborasi dari bentuk sederhananya: "Agamamu sebenernya apa sih?" Biasanya aku jawab sekenanya, "Insya Allah di KTP Hindu." Namun, orang-orang semakin tergelitik dengan jawabanku dan mulai menelisik. Maka, panjanglah penjelasanku pada mereka.
Aku terlahir di keluarga Hindu. Bapakku adalah seorang pendeta Hindu atau pemangku. Sistem patrilineal masyarakat Bali membuat Ibuku otomatis menjadi pemangku juga, namun bukan sebagai pemimpin upacara utama. Ibuku hanya bertugas melayani tugas kependetaan Bapakku. Bapakku bisa dikatakan seorang relijius modern. Artinya, Beliau merupakan seseorang yang sangat memuji Tuhan dengan jalan Hindu, tapi tidak fanatik akan Hindu ataupun posisinya sebagai orang yang disucikan. Beliau rajin setiap pagi menguncarkan mantram-mantram penuh puja-puji pada Ida Sang Hyang Widhi. Bisa dihabiskan hampir 1 jam tiap kali Beliau duduk bersila di kamar suci. Meski rajin bersembahyang tiap pagi setiap harinya, Bapakku tidak pernah memungkiri ada agama lain di Republik Indonesia ini. Agama-agama yang dianggapnya jalan lain menuju Roma. Tentu 'Roma' di sini adalah Kekuatan Tertinggi itu sendiri, Tuhan, atau apapun kita menyebutNya. Bapakku dulu bekerja di sekolah Katolik dan tidak jarang saat aku oleh-olehi angsle Beliau berujar "Alhamdulilah, dibeliin angsle! Kamsyah, kamsyah!"
Tidak jauh berbeda dengan Bapakku, aku pun tidak memiliki garis keras fanatisme. Bedanya, Bapakku rajin bersembahyang sementara aku hanya rajin berdoa. Tidak berbeda? Bagiku iya. Bersembahyang senantiasa diiringi ritual-ritual dan segala perlengkapannya selain sebuah hati yang ikhlas, sementara berdoa kau hanya butuh hati yang tulus. Sesekali Bapakku memintaku untuk bersembahyang. "Kalau punya waktu, panasi bokong Tuhan dengan dupa." candanya yang sekaligus menjadi pertanda ketidakfanatikannya tentang konsep Tuhan. Terkadang aku menimpalinya dengan "Iya" singkat atau balik bercanda, "Titip salam aja deh!" Bapakku tidak pernah memaksakan kehendak pada anak-anaknya untuk setiap hari melakukan Tri Sandya atau dalam kasus klasik: meminta anaknya mencari jodoh yang seiman. Bagi Bapakku yang sederhana, agama apapun itu baik adanya. Konsep-konsep sederhana Bapakku tentang religi dan Tuhan ini yang kuambil. Bapakku menjadikan Tuhan sebagai satu sosok yang santai, lucu dan lugas. Dengan caranya, Bapakku berkawan akrab dengan Tuhan. Seiring perkawanan itu, Bapakku menghargai wadah-wadah Tuhan yang lain tanpa memaksakan wadahnya, dalam hal ini Hindu, sebagai yang benar dan jaminan masuk surga. Walaupun sesungguhnya Bapakku sangat mencintai Hindu.
Kembali ke persahabatanku dengan Sang Pemilik Hidup. Sudah berlangsung berapa lama persahabatan ini? Aku sendiri tidak yakin. Seingatku, semasa kecil aku yang kadar bodohnya masih banyak selalu menganggap Hindu itu paling benar dan entah doktrin dari siapa Islam itu jahat. Ingat, itu dulu sebelum kadar bodohku sedikit berkurang. Semakin bertambah umur dan bertambah teman yang campur aduk suku, agama, ras dan golongannya, Tuhan membukakan mata hatiku. Aku bisa melihat keindahan dalam setiap tempurung religi di muka bumi ini dan berkesimpulan orang-orang dengan isi di balik tempurung kepalanya yang membuat religi-religi itu hilang makna dalam keagungan ajarannya. Aku tidak mau lagi terjebak dalam wacana "Hai umatku, akulah Kebenaran, ikutlah aku kalau kau mau masuk surga tanpa tersesat ke neraka!" Pikiranku sekarang lebih kepada karma. Bukan berarti aku bercangkang Hindu, maka aku percaya karma. Percaya akan karma ini perlu perjalanan hidup yang jatuh bangun. Coba-coba berbuat jahat dan setulus-tulusnya berbuat baik untuk membuktikannya. Perenunganku akan karma ini membuat konsep surga-neraka hilang, yang tersisa hanya konsep upah-ganjaran atau kerennya punishment and reward. Kau lakukan sesuatu, kau dapat sesuatu. Persetan dengan kau diselamatkan di surga atau dipenjara di neraka nanti ketika kiamat oleh agamamu. Bukan oleh Tuhan, karena Tuhan maha baik yang tidak pernah menjahati umatnya dengan menciptakan neraka. Semua yang ada hanyalah yang kau lakukan hari ini.
Terkadang, manusia-manusia sekarang membuat konsep religi semakin mengerikan. Tidak jarang agama itu dibuat menjadi sebuah produk MLM-multi level marketing. Berlomba-lomba mencari dan mengajak orang-orang untuk masuk ke agama mereka dengan dalih jaminan masuk surga dan terselamatkan. Sepertinya semakin banyak yang bisa direkrut semakin tinggi kans mereka untuk menduduki posisi diamond director nanti di surga sana yang entah seperti apa bentuknya. Ada seseorang bahkan dengan berani mengatakan, "Ayo, ajak bapak ibumu juga. Masa cuma kamu sendiri nanti yang terselamatkan masuk surga sementara bapak ibumu kepanasan di neraka." Aku mengernyit dan tersenyum kaku. Sebisa mungkin aku jawab dengan bijak, "Biarlah mereka menentukan sendiri. Aku juga punya hak untuk memilih." Dalam hati: "What an eff? Man, you are totally nuts! How the heck do you know?"
Aku enggan terjerumus lagi dalam cangkang religi yang sempit dan terkadang tidak masuk akal. Aku ingin lebih menguniversal dengan konsep Tuhan yang terbentuk dalam pribadiku. Kujadikan Tuhan sahabatku yang bisa kuajak curhat tiap hari tanpa harus melakukan ritual khusus. Kuangkat Tuhan sebagai tangan kananku yang selalu punya waktu untuk membantuku, tanpa perlu aku meminta dengan mata terpejam dan kepala tertunduk. Kupercayakan Tuhan sebagai manajerku untuk mengatur jadwal kehidupanku agar berjalan dengan lancar. Tidak jarang kujadikan Tuhan tempat pelampiasan amarahku, mulutku yang kau tahu tanpa filter, mencaci-maki Tuhan tanpa ampun. Tuhan tidak pernah marah padaku. Walaupun sesungguhnya Tuhan tidak pernah berbicara padaku, namun dengan caraNya tersendiri Dia menuntunku selalu. DibiarkanNya aku memuja dengan caraku tanpa banyak cincong.
Persahabatanku dengan Tuhan Yang Maha Esa terjalin erat. Dalam cangkang Hindu, Tuhan berstana di aku tanpa punya nama. Aku bebas menyebutnya apa saja dan Dia tahu yang kumaksud adalah Dia yang punya kekuatan luar biasa, yang punya segala probabilitas, yang absurd dalam ketidakterbatasan. Aku tidak pernah merasa sebagai Hindu. Iya, aku memang tidak relijius. Tetapi, aku mengimani Tuhan.
Kalian yang mengajukan pertanyaan padaku mungkin semakin tidak mengerti. Tapi, bisakah kalian sedikit berpura-pura paham dan menghormati pemahamanku? Seperti aku yang berdiam diri saja, tanpa mengganggu atau menggugat kerelijiusan kalian. Seperti aku yang percaya kalian akan terselamatkan oleh kelakuan kalian tanpa peduli agama yang kalian imani.
sekali waktu kalau ke Bali, sepertinya harus berkunjung ke rumahmu dan bertemu bapakmu yang hebat itu :)
ReplyDelete