Aku spesial. Ini hanya
pendapatku. Kau boleh menyangkal sekuat tenaga dan aku tak akan berargumen. Aku
terlahir biasa saja. Sembilan bulan sepuluh hari. Lahir normal dan katanya
ibuku tak kuat menahan sakit sehingga harus mengambil epidural yang sebelumnya
ia tolak. Aku minum ASI ekslusif, menangis, tersenyum, dan lucu. Tak
ketinggalan ngompol dan pup. Normal. Biasa. Namun, aku spesial karena saat umur
tujuh tahun hingga dua puluh tiga saat ini, aku selalu bermimpi. Bukan
sembarang mimpi. Di dalam mimpi aku melihat yang akan terjadi esok hari, lusa,
esok lusa bahkan bertahun-tahun yang akan datang. Tidak percaya? Terserah saja.
Aku juga bisa menerima mimpi atas pesanan. Hanya biarkan saja aku tertidur
setelah aku menyetel pikiranku agar berkonsentrasi pada dirimu. Namun, kadang
mimpi-mimpi ini mengganggu karena kadang aku mendapat mimpi yang menyedihkan.
Dan ketika aku memberitahukan mimpi itu pada seseorang, aku seperti bukan aku.
Trance. Seperti waktu itu…
“Anakku kemarin ngompol.
Tumben banget loh. Pas aku tanya kenapa adik bisa ngompol, dia bilang karena
mimpi main trus kebelet pipis trus lari-lari ke toilet, pipis deh di toilet.
Hahaha. Heran deh! Kenapa tiap mimpi kencing kita beneran kencing? Kenapa tiap
mimpi dapet duit banyak ga beneran dapet duitnya? Hahaha. Mimpi apapun selain
pipis, kok ga pernah kenyataan.” cerita seorang teman kantor padaku.
“Tidak dengan aku,”
kujawab datar.
“Maksudnya? Kamu pernah
mimpi jadi kenyataan?”
“Bukan pernah lagi.
Selalu. Tiap malam aku bermimpi tentang sesuatu dan seseorang. Dan terjadi.”
Kalimat itu menggantung di sana. Perasaan ‘bukan aku’ muncul lagi. Ingin aku
bertahan di tubuhku agar ‘si bukan aku’ ini enggan mampir. Tapi, aku tak bisa.
Dia leluasa mengendalikanku. “Kemarin aku memimpikan kamu dan anakmu.
Menyeberang jalan. dan truk menyambar. Dan anakmu mati.”
PLAAK!! Sebuah tamparan
mengembalikan aku pada tubuhku. Pipiku terasa kebas. Pasti merah. Mataku terasa
berair menahan perih.
“Kurang ajar! Kamu
mendoakan anakku mati?! Makan tuh mimpi kamu!” bentak temanku itu dan berlalu.
Aku hanya bisa menatap kepergiannya. Esok hari kudengar kabar duka itu. Mimpiku
kenyataan. Anaknya mati tersambar truk ketika sedang menyeberang jalan.
Tapi, ada satu hal yang
paling menganggu pikiranku. Aku tidak bisa memimpikan seseorang ini. Tidak
pernah sekalipun. Hingga dia sulit sekali tertebak. Setiap
pertemuan-pertemuanku dengannya terjadi tanpa sepengetahuanku atau lebih
tepatnya mimpiku. Walaupun aku sudah berkonsentrasi penuh pada dirinya hingga
jatuh tertidur, aku tak bisa menemuinya di mimpi. Malah kumimpikan sesuatu hal
atau orang lain. Mimpiku tidak pernah memberitahuku kalau kami akan bertemu,
berkenalan, bersahabat bahkan hingga saling jatuh cinta. Tidak pernah hadir di
mimpiku bahwa dia akan senang atau sakit. Akan terus bersamaku atau tidak…
“Kamu tidak pernah hadir
di mimpiku. Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padamu, pada kita.”
ungkapku suatu ketika. Dia hanya tersenyum.
“Aku ini sudah nyata di
depanmu. Untuk apa lagi kamu minta aku jadi mimpi?” ucapnya sembari terbahak.
“Bukan begitu. Ini aneh
banget. Kamu satu-satunya orang yang tidak bisa kuimpikan. Orang lain dengan
mudah kutemui dalam mimpi. Tidak kamu. Kenapa?”
“Sudah kubilang tadi.
Karena aku nyata, bukan mimpi. Oke?”
“Tapi…”
“Hayoo…nanti aku beneran
jadi mimpi nyesel kamu. Hahahaha.” candanya. Aku tersenyum. Hambar. Masih tetap
terheran-heran.
Tanpa peringatan atau
penglihatan dari mimpi, ternyata itu adalah hari terakhir aku bercakap
dengannya. Dia tidak menemuiku setelahnya dan seterusnya. Entah hilang ke mana.
Lenyap tak berbekas. Cintaku pun nanar mencari-cari. Haus dan lapar. Rindu akan
belahan cinta yang selama ini lekat menyatu. Timpang sudah cintaku.
Terseok-seok.
Kini dia sungguh-sungguh
hanya mimpi bagiku. Mimpi yang ada di tiapku membuka atau menutup mata. Melek
atau tidur. Satu-satunya mimpiku yang tak pernah nyata. Abadi jadi mimpi. Aku
bercinta dengan mimpi. Terindah.
Mau kumimpikan dirimu?
Ayo!
PS: Cerita pendek ini ternyata sudah sejak 24 Juli 2011 mendekam di notebook-ku. Hahaha. Selamat bermain-main, Anakku! Gih, sana! Berkejaran bersama angin dan kenalilah dunia! Ibu menyayangimu!

No comments:
Post a Comment