Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Wednesday, October 9, 2013

Es Teh Manis Berembun


Aku sudah tidak sabar lagi. Buru-buru aku raih sepeda gayungku dan menggowesnya dengan kecepatan maksimal. Tak kupedulikan jalanan ramai oleh lalu-lalang mahasiswa, laju motor dan mobil, juga jejeran tukang cemilan. Aku kebut saja, bahkan banyak yang memaki-maki dan meneriakiku akibat nyaris kulanggar. Sungguh maaf, tapi aku tidak mau memperlambat lajuku. Aku harus segera sampai.

Di dekat kios tukang bubur ayam, aku menikung ke kiri. Melaju lagi masih dengan kecepatan maksimal. Induk ayam dan anak-anaknya berkeciap panik saat aku memotong jalurnya, mereka beterbangan dan berpencar ke segala arah. Kulewati juga dua orang tua berumur sekitar 70an yang sedang memandangi bidak-bidak catur, mereka bergeming saja. Terus aku mengendarai sepedaku, hingga aku tiba di depan sebuah warung berarsitektur bambu. Keringatku mengucur deras, tapi udara sejuk dari dalam warung sederhana itu menepis rasa panas yang kurasa.

"Es teh manis, satu!" teriak seorang lelaki yang berdiri di balik meja kasir. Lelaki itu tersenyum, memandangku tak lepas. Aku pun membalas senyumnya dan duduk di lesehan yang di sampingnya tergantung hiasan bambu yang mengeluarkan bebunyian merdu jika tertiup angin.

Lelaki itu, pemilik sekaligus pengelola warung bambu sederhana ini. Tinggi, tegap, manis, dan rupawan. Hanya itu saja yang aku tahu. Selebihnya aku buta dan aku jatuh cinta. Dia pun hanya mengenalku sebatas pelanggan yang datang tiap hari dengan satu pesanan saja: es teh manis.

"Satu es teh manis," ucapnya saat menyajikan minuman itu di mejaku.

"Berembun," kata terakhir yang diucapkannya nyaris bersamaan denganku.

Di dalam segelas es teh manis berembun aku tersesat.


~catatan sambil dengerin Banda Neira "Ke Antah Berantah" tiada henti~

Thursday, May 2, 2013

Balada Meja Makan


Meja makan dengan taplak bermotif bunga itu senantiasa bersabar. Ada aku di belakangnya, duduk di atas kursi. Juga lelaki itu di hadapanku. Meja itu bersabar menunggu denting-denting piring, sendok dan garpu. Meja itu bersabar menunggu kami makan sambil mengobrol. Sudah hampir seminggu ini kejadiannya tetap sama. Aku dan dia duduk berhadap-hadapan, di kursi masing-masing, tanpa membalikkan piring, tanpa menyendok nasi, mengambil lauk, dan lebih parah tanpa berbicara satu sama lain.Untung saja meja itu tidak bosan.

Aku pandangi wajah datar lelaki itu yang membuang muka ke arah jendela seakan tirainya yang senada dengan taplak meja jauh lebih menarik. Aku tetap memandanginya tanpa pernah mau memulai pembicaraan karena aku lelah menjadi pengalah. Setiap kali ada permasalahan, selalu aku yang memulai mengungkap dan meminta maaf meski dunia dan akhirat tahu benar itu bukan salahku. Aku rasa itu membuatnya menjadi angkuh. Kerendahan hatiku dianggapnya sebagai kerendahan diriku sendiri. Kali ini aku tidak bisa terima. Jadi, aku berdiam diri saja. Aku menunggu dia yang menungguku di hadapan meja yang juga menunggu kami.

Biasanya, dia akan bangkit berdiri lalu pergi setelah menunggu selama limabelas menit. Dia akan pergi ke luar rumah, entah ke mana dengan motornya. Tengah malam menjelang subuh dia kembali, berusaha membuka pintu kamar yang aku kunci dari dalam. Kubiarkan saja. Pagi-pagi ketika akan berangkat kerja, aku akan mendapatinya tidur di sofa di depan televisi. Aku tidak membangunkannya dan langsung saja pergi. 

Kulihat dia mengalihkan pandangannya. Inilah saat dia untuk bangkit. Benar saja, dia menggeser kursi dan mengambil ancang-ancang untuk berdiri. Gerak refleksku di luar dugaan. Aku melempar sendok ke arahnya dengan geram. Dia yang tak menyangka tampak terkejut dan memandangku dengan wajah tak percaya. Lanjut aku melempar nasi, lauk, sayur, gelas, piring, garpu dan terakhir mengobrak-abrik taplak meja.

"Pergi," ujarku pelan dan dingin. Aku sendiri tidak menyangka akan suaraku yang terdengar tenang tapi tajam. "Pergilah lagi seperti pengecut yang cundang. Pergilah kali ini jauh dan jangan kembali, tetap seperti pengecut yang cundang. Pergi. Cari kebahagiaanmu sendiri yang bisa kamu temukan di luar sana. Pergi. Kebahagiaan dan kebebasanmu bukan di sini bersamaku. Pergi. Tinggalkan aku yang hanya bisa membelenggu," lanjutku tetap datar. Aku sudah lelah.

Tiba-tiba dia meluruh dalam tangis. Kesabaran meja makan itu terbalas akhirnya. Itulah saat-saat yang paling dinantikannya selama seminggu ini: kami kembali menjadi manusia yang tiada sempurna.



#Catatan acak saat mendengarkan Endah n Rhesa menyanyikan "Pergi" dari Andezz

Wednesday, April 17, 2013

Langit Bersama Seorang Lelaki dan Perempuan

LELAKI
Udara malam yang dingin tidak mengusik pujangga di depanku untuk merenung di pinggir pagar kayu pembatas balkon vila ini. Piyama tipis dengan motif polkadot merah muda kecil-kecil yang dikenakan tentunya tidak mampu menghalau dingin yang menerpa tubuhnya. Namun, dia seakan tahan meski kulihat sesekali badannya menggigil. Pujangga itu menatap langit. Ah, dia memang selalu mengagumi langit dan astronominya. Tergila-gila pada bintang, planet, nebula, hingga galaksi. Jika tidak percaya, coba saja kalian tanya padanya pengertian asterisme. Pasti dia akan berkata, "Asterisme itu merupakan kumpulan bintang di langit yang membentuk pola tertentu. Sebuah asterisme bisa saja merupakan bagian dari sebuah rasi misalnya bintang tujuh di rasi Ursa Major dan Ursa Minor. Asterisme juga bisa merupakan gabungan dari beberapa bintang di berbagai rasi misalnya segitiga musim panas yang terdiri dari bintang Vega, Deneb, dan Altair." Entah dia pujangga atau ahli astronomi, aku pun terkadang sulit menentukan. Dia membingungkan, terkadang membuat lelah.

"Kamu membuat saya lelah," ucapku padanya yang membelakangiku. Lama dia merespon karena dia tengah asyik bercengkrama dengan langit malam dan bintang-bintang. Mungkin mengumpulkan bala bantuan dari benda-benda langit itu untuk menjawab pernyataanku.

"Kalau begitu pergilah," sahutnya ringan tanpa golak apapun. Dia tetap membelakangiku. "Tidak pernah ada guna kamu bertahan. Hanya akan menimbulkan lelah yang teramat di tiap waktunya. Saya tidak mau kelelahan itu terakumulasi lalu menjelma rupa hal yang jauh lebih buruk. Ini antisipasi sebelum asteroid yang melintasi orbit bumi berubah menjadi boloid yang mampu menghasilkan ledakan super dahsyat di bumi. Asteroid itu adalah keadaan, sementara bumi adalah kita. Pergilah," lanjutnya masih membelakangiku.

"Begitu? Baiklah jika itu maumu. Selamat menikmati langitmu. Terbanglah tinggi. Kamu tidak membutuhkan saya. Kamu hanya butuh drama dalam hidupmu. Saya lelah meladeni drama itu yang kamu samarkan sebagai benda-benda langit. Saya lelah. Permisi," pamitku dan pergi. Tidak berhasil. Usahaku untuk mencairkan kebekuan di antara kami yang sudah berlangsung hampir seminggu tidak berhasil, termasuk kedatanganku dan mengajaknya berlibur ke vila. Sudah kandas.

PEREMPUAN
Aku tak pernah berani menatapkan muka padanya. Dia, seorang pelipur yang setia, yang sekarang sedang duduk di kursi rotan berdesain unik, entah alasannya tidak lagi mampu memberikan perhatian yang melimpah ruah. Di malam yang sedingin ini pun, dia seperti alpa untuk menyampirkan jaket lalu memeluk tubuhku yang hanya berbalut piyama tipis. Bahkan, untuk sekedar mengajakku masuk ke kamar demi udara yang lebih hangat pun tidak. Dia menjadi dingin. Aku kesal, aku marah dan kupandang langit sejauh-jauhnya demi menemukan tempat untuk menumpahkan segala emosi.

"Kamu membuat saya lelah," ucapnya padaku. Aku berusaha untuk tidak terlihat terkejut dengan terus membelakanginya.Masih menatap langit dengan gemintangnya yang memesona, aku menenangkan diri dari kekalutan. Sudah kuduga, dia sesungguhnya bosan padaku. Aku hanya seseorang yang melelahkan jalan pikirnya. Dia berhak istirahat dari tugasnya menjagaku.

"Kalau begitu pergilah," sahutku berusaha terdengar ringan tanpa golak apapun. Aku tetap membelakanginya. "Tidak pernah ada guna kamu bertahan. Hanya akan menimbulkan lelah yang teramat di tiap waktunya. Saya tidak mau kelelahan itu terakumulasi lalu menjelma rupa hal yang jauh lebih buruk. Ini antisipasi sebelum asteroid yang melintasi orbit bumi berubah menjadi boloid yang mampu menghasilkan ledakan super dahsyat di bumi. Asteroid itu adalah keadaan, sementara bumi adalah kita. Pergilah," lanjutku masih membelakanginya karena aku takut dia melihat ekspresi wajahku yang siap menggelontorkan airmata.

"Begitu? Baiklah jika itu maumu. Selamat menikmati langitmu. Terbanglah tinggi. Kamu tidak membutuhkan saya. Kamu hanya butuh drama dalam hidupmu. Saya lelah meladeni drama itu yang kamu samarkan sebagai benda-benda langit. Saya lelah. Permisi," pamitnya dan pergi. Aku tidak membalikkan badanku untuk mencegahnya. Aku runtuh dalam tangis yang kudiamkan agar dia tidak mendengar isakku. Dia tidak pernah tahu, jika langit adalah pelarianku dari rasa kesal, marah dan cemburu. Sementara, aku membutuhkan bumi tempatku berpijak, tempatku menjadikan diri seorang manusia: Dia.

Sayang, bagi dia semua yang aku lakukan hanyalah drama.

LANGIT
Jika aku bisa berbicara pada mereka, maka akan aku katakan: Kalian sama-sama lelah, bosan dan jenuh.  Ciptakan jarak dengan berjalan ke setapak lain sendiri. Ambillah waktu untuk masing-masing. Mungkin seminggu. Aku yakin, kalian akan seperti dulu lagi. Sepasang kekasih yang unik dan menyenangkan. Kalian favoritku.








#Catatan sebelum menjemput DJ Go Freek ke bandara dan dilanjutkan setelah mendrop mereka di hotel, ditemani nada dering Line Chat "Wara-Wiri", juga nada dering Whatsapp dari mantan kekasih yang bercerita bahwa TTM-nya sekarang adalah seorang gadis berhijab, juga ditemani segelas alpukat tumbuk dicampur susu cokelat, setengah mengantuk: Aku merindukanmu terlalu. Aku pun mulai meracau. Kacau.

Monday, April 1, 2013

Perpisahan Paling Sunyi

Untuk kamu,

Tak berpanjang kata, aku ingin mengatakan mungkin perpisahan kita adalah perpisahan paling sunyi yang pernah kita alami. Tidak pernah aku, selama hidupku, menjalani perpisahan tanpa bunyi seperti perpisahanku denganmu. Aku pun yakin, perpisahan yang sering kamu jalani, yang terkecil sekalipun, tak ada yang sepi seperti perpisahan kita. Yah, setidaknya sekedar ucapan "Sampai jumpa" atau "Selamat tinggal" atau "Daaah". Namun, perpisahan yang kita cipta, tidak melahirkan kata apapun, bahkan lambaian tangan juga tidak.

Masing-masing kita, tanpa mengucap apapun, berpisah di setapak itu. Kaki-kaki kita melangkah mantap ke arah berbeda dan semakin menjauh. Mata kita sibuk berusaha menemukan hidup sementara tangan kita cerkas menggapai-gapai kesempatan. Tetapi, tidak tersedia kesempatan bagi kita untuk bertemu. Hidup merampas diri kita. Ambisi dan obsesi mengasingkan kita, membuat kita tidak awas dan tak acuh.

Hingga hari ini, ketika aku menuliskan ini dengan tulisan tanganku sendiri, aku mendapatkan kenyataan bahwa kita telah lama tidak memiliki kebersamaan. Kita bahkan tidak pernah bersama sebenarnya. Dua minggu lalu ketika aku ketahui dari salah seorang teman kita, yang juga sudah lama tidak kudengar kabarnya, bahwa kamu telah memiliki dua orang anak dan sedang sangat sukses dengan karirmu saat ini, aku merasa limbung. lebih lanjut teman itu mengatakan bahwa usaha bisnis kedai kopi yang sedang kamu gencarkan mendapat respon positif di berbagai daerah. Aku merasa bodoh secara mendadak. Kedai kopi favoritku ternyata tanpa sepengetahuanku adalah milikmu. Bayangkan, kita sudah sedekat itu, namun tetap saja kita tidak bersama. Ironis. Lebih bodoh lagi manusia kecil di dalam diriku yang memiliki kenaifan maha tinggi, yang bertahun-tahun meyakinkanku bahwa kita secara naluriah dan batiniah masih bersama, serta akan bersama lagi suatu saat nanti. Lalu, perpisahan dengan cara tidak elegan seperti ini yang kamu tuangkan ke dalam cerita hidupku, apa yang mesti aku lakukan?

Tidak, aku tidak sedang menuntutmu atas sakit hati yang secara tiba-tiba membludak di sekujur tubuhku. Sakit yang timbul karena aku mengetahuimu bahagia dari pihak kesekian. Bukan dari kamu. Selama ini aku menunggu dalam kubangan setia, meyakini bahwa kamu akan datang suatu hari nanti dan menyapaku kembali. Setia yang sia-sia. Namun, aku sudah lama tidak ada dalam logika dan imaji pikiranmu. Tidak pernah. Sungguh itu menyakitkan.

Kini, aku hanya ingin mengetuk pintu rasamu demi mengemis sekedar rasa hormat yang seharusnya bisa kamu berikan pada masa lalu. Perpisahan ini paling menyakitkan yang pernah kujalani, sekaligus paling sunyi.

Dari aku

Lelaki itu melipat kertas yang telah usai dibacanya. Matanya berkabut saat dia menahan tetesan airmata. Pandangannya kini dipindahkan pada sebuah lukisan digital seperti arsiran pensil di atas kertas putih. Sebuah lukisan sketsa seorang lelaki mengancingkan kancing di lengan baju seorang gadis mungil yang menatap ke arah lelaki itu dengan penuh binar. Jika diperhatikan lebih seksama lagi, lukisan itu terdiri dari tulisan kata-kata yang diedit sedemikian rupa hingga membentuk kedua sosok itu. Itu puisi-puisi mereka dahulu yang mereka tulis bersama di bawah sinar bulan.

"Lukisannya bagus, Pa. Dari siapa?" tanya istri lelaki itu yang tanpa disadari telah duduk di sisinya.

"Pelanggan, Ma. Tadi katanya dititipkan di meja barista." ucapnya tenang. "Rifky, pasang ini di dinding dekat jendela sana. Tolong," serunya kemudian pada salah seorang karyawan. Dia bangkit, berjalan menjauhi istrinya sembari menyimpan kertas surat tadi yang sudah terlipat ke dalam dompetnya.

Perpisahan itu tetap saja sunyi.

Friday, March 22, 2013

DIANA HARI INI


Diana sedang gila. Semenjak dia pulang subuh-subuh dari warung internet dekat kos dua hari lalu, dia menjadi pendiam. Wajahnya bertekuk-tekuk pertanda sedang memikirkan sesuatu. Tak ada yang berani mendekat untuk bertanya ada apa. Namun, wajah itu terkadang mengguratkan senyum tipis. Meski tipis, tapi terlihat amat kegirangan. Oleh karenanya dia disebut sedang gila.

Hari ini dia mencuci baju sambil mendengarkan iPod lewat headset putih kesayangannya. Kepalanya tergerak-gerak seperti mengikuti not lagu. Tidak peduli apapun, siapapun di sekelilingnya yang memandangi dengan tatapan aneh setengah mengejek. Dia tidak dengar. Tidak pula melihat karena sibuk berkonsentrasi pada cuciannya. Atau pada lagu yang ia dengarkan? Entahlah.

Hari ini lain lagi. Dia libur kuliah. Biasanya hari libur dia pasti bertandang ke kamar kami satu-satu untuk sekedar ‘ngecek’ atau curhat. Tapi, dari membersihkan belek mata hingga matahari sudah setengah tiang di ufuk barat, dia tidak muncul untuk ngabsen di kamar kami. Terdengar sayup-sayup lagu dari kamarnya. Lagu yang sama, diputar berulang-ulang. Untungnya suara penyanyi lagu itu tidak jadi  serak atau soak karena mesti konser seharian di kamar Diana.

Hari ini kulihat dia melamun di ruang tamu. Earphone tersambung dari ponsel ke telinganya. Menutupi misteri suara di sekitar orbit Diana. Dia tergidik-gidik sendiri. Tersenyum lalu berganti wajah kagum yang luar biasa. Hey, tunggu. Wajah itu, wajah jatuh cinta. Ha, siapa gerangan?

Hari ini kuberanikan diri bertanya. Kugedor pintu kamarnya hingga nyaris runtuh. Dia keluar kamar dengan mata berlinang. Tapi, itu bukan airmata kesedihan. Itu airmata haru. Lagi-lagi, jatuh cinta.

“Siapa lelaki itu?” tembakku langsung. Diana tergagu. Senyum merekah. Alih-alih menjawab tanyaku, dia berlari ke kamar, mengambil iPod kemudian memasang headset putih kesayangannya di telingaku. Volumenya pekak di telingaku. Dunia seakan bisu. Hanya suara dua orang penyanyi dari iPod yang terdengar. Seperti di surga rasanya mendengar mereka bernyanyi. Dan…wow! Suara penyanyi prianya! Tak bisa kujelaskan. Sungguh lelaki. Cukup dua kata itu saja. Siapa dia? Membuatku…

“Ugoran Prasad. Multiple eargasms, huh?” ucap Diana seperti membaca pikiranku. Atau ekspresi wajahku? Entahlah.



~a note while listening to Frau feat. Ugoran Prasad of MelBi’s Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa~


PS: Sudah pernah kirim cerita ini di facebook, di sini sedikit saya ubah satu kata di versi facebook agar tampak lebih sopan. Hehehe

Sunday, March 3, 2013

SEBUAH UCAPAN


"Selamat ulang tahun, Sayang."

Aku tergila-gila pada skenario. Kini, skenario tentang kamu mengucapkan selamat ulang tahun padaku yang terus bermain di otakku. Sebentar lagi jam 12 tepat tengah malam dan kamu akan menderingkan teleponku lalu aku dengar lembut suaramu. Pasti kamu akan ucapkan selamat dan doa terbaik. Pasti.

Tengah malam berlalu. Aku mendapat banyak ucapan selamat berupa pesan singkat, telepon dan kiriman dinding. Tak satupun dari kamu. Hingga subuh aku tidak bisa tidur. Pagi, aku sibukkan diri. Siang, aku berusaha nikmati hari. Sore, aku memaksakan diri tersenyum. Malam, aku semakin tersiksa. Tidak ada telepon darimu. Tidak ada ucapan selamat. Sebentar lagi hari berganti. Waktuku hampir habis. Ke mana kamu?

"Selamat ulang tahun, Diriku. Berhentilah menunggu," ujarku sebelum hariku benar-benar tuntas. Pagi tiba dengan leluasa, menghanguskan skenarioku dalam abu.



~Kali ini bukan curhat colongan yaa...karena ucapan selamat ulang tahun untukku komplit, bahkan melebihi kuota. Hahaha~

Saturday, February 9, 2013

MEMBAGIMU




Kita masih saja terus berjalan. Menyusuri bibir pantai dan ombak menjilat kaki-kaki kita yang telanjang. Di depan tampak matahari yang berkemas pulang. Warnanya jingga kemerahan, luntur hinga ke awan. Kita berjalan bersisian dengan jarak pantas. Ah, jarak. Kata ini tetap mewanti-wantiku. Jaga. Jaga. Tidak, kau terlalu dekat, geser sedikit.

“Wah, sudah lumayan juga kita jalan,” ucapmu sambil menoleh ke belakang. Tidak ada lagi jejak kita. Tersapu bersih oleh buih. Tinggal keramaian di belakang sana yang tampak mini.

“Mau balik?” tanyaku. Kamu menunduk tak segera menjawab. Memainkan jemari kakimu dengan pasir yang basah. Lalu kau menoleh ke matahari di ujung sana. Matahari tinggal seperempat.

“Yah,” ucapmu. Bisa kurasakan keraguan di kata itu. Aku diam saja, memberimu waktu untuk memberi ketegasan.

“Sudah seminggu. Ini hari terakhir,” akhirnya kau bersuara lagi.

“Benar,” kini kudengar ragu menggantung di suaraku.

Angin semilir memainkan ombak yang berdebur tenang. Harmonisasi yang manis. Langit di atas kita menggelap sudah, namun menyisakan sejumput rona merah di cakrawala. Rekam jejak matahari yang kini sudah sampai di puri. Romantisme alam itu yang membuatku, untuk pertama kali dalam seminggu ini, menggamit jemari tanganmu dan meremasnya lembut. Aku tidak berani menatap matamu saat kau membalas genggamanku. Genggaman itu beranjak, mendekatkan tubuh kita, menghasilkan sebuah pelukan. Pelukan pertama. Sang jarak berseru-seru panik di antara kita. Megap-megap karena kita semakin erat dan dekat. Wajah kita sama-sama menggeser untuk saling berhadapan. Pertama kali, mata kita bertatapan sedekat itu. Kurasakan jantungmu berderu, kurasakan nafasku memburu. Setitik jarak yang kita punya menyentak tubuh kita untuk saling menjauh. Merenggangkan diri, memberi batas lagi.

“Selamat melanjutkan liburan. Masih seminggu lagi, kan?” ujarku seriang mungkin. Kamu tersenyum legit meski masih tampak kikuk.

“Iya, seminggu lagi. Terima kasih untuk seminggu yang telah lewat. Ayo, balik.” ajakmu, namun aku menggeleng.

“Aku masih mau di sini. Kamu balik sendiri saja. Terima kasih juga.”

Tanpa mengucap apapun lagi, kamu melangkah pergi. Aku menatap punggungmu menjauh dan perasaan benci mulai tumbuh. Aku benci kenyataan bahwa seminggu yang tersisa dan seterusnya tidak akan kau lewatkan bersamaku, melainkan dengan istrimu.

Jarak menari-nari gembira.

Friday, January 11, 2013

CEMBURU

"Maaf, baru sempat baca pesannya. Baru sampai rumah. Tadi pergi beli serabi panas buat Shila. Lokasinya jauh sekali. Abang kedinginan karena hujan angin, tapi tidak apa-apa demi melihat secercah senyum kecil di wajahnya." Begitu pesan singkat yang kubaca di ponselku. Aku tersenyum sambil membayangkan kamu menyerahkan serabi kepada Shila yang kini mau tersenyum kembali untukmu. Lalu kalian berpelukan. Luruhlah segala benteng permusuhan kalian selama dua hari ini. Hm, romantis. Kamu sosok yang romantis.

Dan aku yang melankolis tidak bisa menahan lama-lama senyum di bibirku. Berganti rasa cemburu yang teramat sangat. Tiba-tiba kamu dan Shila memuakkan. Bukan, bukan kalian yang memuakkan. Tetapi, cemburuku yang membuatku merasa kalian memuakkan. Sesungguhnya aku berbahagia untuk kalian. Oh, tidak! Aku berdusta lagi. Ya, bahagia. Mungkin tidak juga. Aduh, cemburu ini membuatku buta akan apa yang harus aku rasakan.

"Abang memeluk Shila," ceritaku pada seorang kawan.

Kawanku itu tertawa dan dengan nada mengejek dia berkata, "Apa salahnya dia memeluk istrinya?"

Benar. Apa salahnya?

Salahnya, aku cemburu. Parahnya, Abang tahu. Tetapi, mengapa dia harus menceritakan hal-hal yang sesungguhnya tidak ingin aku ketahui? Tentang dia menunggu Shila pulang untuk makan siang bersama, tentang taruhan-taruhan super konyol pun seru untuk tim sepak bola favorit masing-masing, tentang catatan-catatan kecil dari berbagai film yang ditonton, tentang Shila yang memasak, tentang menjemput Shila, tentang menemani Shila bekerja hingga larut, dan tentang memeluknya. Sebentar, bukankah aku yang meminta? Tidakkah aku yang bertanya? Rupanya cemburu ini mengantarkanku pada keingintahuan akan sesuatu yang kutahu akan mengganggu jiwaku. Hal ini merupakan pakan bagi cemburuku, membuatnya makin menggembung.

Juga masih dia mengatakan sering rindu padaku. Rindu yang intens membuat dia berkabar padaku. Aku senantiasa berdoa semoga ini benar-benar rindu, murni rindu, bukan motif lain semisal adiksi menyakiti seseorang atau kelainan jiwa lainnya.

"Wajarkah kalau aku merasa cemburu?" kubalas pesan singkatnya.

"Sangat wajar."

"Kenapa?"

"Kamu sudah tahu sendiri jawabannya."

Maka, sampai kapanpun aku akan tetap cemburu.


Denpasar, 11 Januari 2013 1:18 PM
Catatan untuk diri sendiri agar lebih 'nrimo'

Thursday, January 3, 2013

MENDUNG & KAMU


Langit. Langit temaram keabuan. Langit tanpa tebaran cahaya matahari. Langit berhiaskan awan-awan tipis pucat menggelayut diam. Langit yang menduplikasi wajahmu.

Kamu. Kamu tertunduk diam, sediam awan-awan kelabu di kepalamu. Tidak peduli cerita dan tanyaku, diammu yang mendengar dan menjawabku.

"Bunga anggrek ungu yang kita beli waktu itu sudah berbunga lagi. Cantik sekali. Kau harus melihatnya," ujarku untuk yang kesekian kali. Kalimat yang sama, topik yang tetap. Setiap hari selalu begitu. Aku ingin menggugah bosanmu dan mendengar kau berkata bahwa aku membuatmu penat dengan cerita yang itu melulu. Aku, kemudian ingin melihat senyummu sehabis kau berkata begitu. Kamu yang merutuki aku bodoh sesudahnya. Namun, kau bergeming.

Langit tak lagi sanggup menahan bebannya. Langit menumpahkan serintik demi rintik kegundahannya. Lama-lama menderas. Jika sudah begitu, aku panik. Aku berlutut, memelas dan memohon.

"Tidak, tidak. Jangan. Kumohon. Lupakanlah dia. Maksudku, relakan. Itu sudah takdirnya. Jangan kau menghukum diri. Bergembiralah. Aku mohon."

Kata-katamu luruh dalam bening-bening sungai yang mengalir di pipimu. Menimpali reruntuhan hujan yang dituangkan langit. Untuk pertama kali, aku mendapat pertanda setelah setiap hari menemanimu. Sebuah isyarat bahwa kamu hanya membutuhkan mendung untuk menangkupi suara hatimu.

Kutinggalkan kamu menangisi pusara kekasihmu.



~catatan saat The Vuje menyanyikan Mendung di kepalaku~
Blue Ocean, 3 January 2012 12:45 PM

Wednesday, December 19, 2012

Pengantin Perawan

Gambar diambil dari sini

Di kamar pengantin yang telah disiapkan dengan manis dan romantis, aku dan suamiku duduk di pinggir tempat tidur. Kami saling berpandangan. Sholat sunnah dua rakaat sudah kami laksanakan. Kami pun sudah membaca surat Al-fatihah, Al-ikhlas dan sholawat atas nabi sebanyak tiga kali. Inilah saatnya.

Penuh kelembutan suamiku mengusap ubun-ubunku dengan tangan kanannya. Berbisik dia mengucap doa bahwa dia berserah pada Allah akan semua kebaikan dan keburukanku. Jantungku berdetak kencang. Degupnya menggetarkan seluruh badanku. Suamiku menuntun dan membimbing. Aku tetap saja berdebar. 

Sakit yang luar biasa kurasakan membuatku merasa terlahir kembali. Nikmat yang kureguk mampu membuyarkan sekelebat bayang seorang gadis yang selama ini menghantui. Gadis yang terbaring lemah di tempat pembuangan sampah. Gadis yang kehilangan seluruh kekuatan dan kehormatannya setelah digumuli tujuh lelaki. Bergilir di bawah langit hitam yang hujan.

Suamiku tidak tahu. Tidak pernah.



~A note while listening to Madonna's Like a Virgin~

TELANJANG


Kucuran air dari kamar mandi terdengar keras. Pasti air dingin, favoritnya. Basuhlah semua, Sayangku. Bersihkan semua jejak yang kutinggalkan. Jejak peluh, jejak desah, jejak lenguh, jejak orgasme. Biar bisa lagi kuukir ulang jejak-jejak itu di tubuhmu dengan ketelanjanganku.

Pintu kamar mandi terbuka. Dia keluar, menyerbu indera penciumanku dengan aroma sabun dan shampoo yang menggoda. Pasti dia basah. Ah, ingin rasanya kurengkuh dia kembali ke tempat tidur, mengulangi gejolak kemarin malam. Mungkin lebih panas dan nakal.

"Aku mau kau pengangguran," gumamku. Dia tidak menyahut. Sibuk mengancingkan kemeja, memakai celana, mengencangkan ikat pinggang, menalikan dasi, memakai sepatu, mengecek segala gadget, memasukkan semua dokumen ke dalam tas kerja, mengambil jas, menyentak kunci mobil dan berjalan ke arah pintu.

"Aku tahu kamu tidak memakan uangku. Tapi, istri dan anakku memerlukannya. Dah, Sayang." ucapnya sebelum benar-benar menutup pintu.

Di atas tempat tidur yang poranda, dengan mata terpejam, aku telanjang.




*Gambar diambil dari sini


Monday, December 10, 2012

HARI KETUJUH

Di dalam taksi yang meluncur perlahan membelah malam menuju Jl. Raya Seminyak ini, aku gelisah. Tanganku basah oleh keringat meskipun AC di dalam taksi ini menyala. Aku mencoba mengalihkan pikiran ke ruas jalan yang macet. Lama-lama Bali akan seperti Jakarta. Ini baru sampai di Jl. Imam Bonjol, namun kendaraan sudah memadati ruas jalan. Motor-motor meliuk sesukanya, membalap kiri-kanan untuk sampai di tempat tujuan lebih cepat. Terkadang agak memaksa dan membahayakan. Mobil-mobil juga tidak mau mengalah, memotong jalan seenaknya tanpa memikirkan badan mobilnya yang melintang sama dengan empat motor dijajar menghalangi kendaraan lain. Bule dan orang lokal sama saja, mengklakson bahkan meneriaki kendaraan-kendaraan yang menghambat mereka tanpa peduli siapa di pihak benar dan salah. Kemacetan itu, klakson-klakson itu, selipan motor dan lintangan mobil di jalan itu tidak mampu menghalangi kegelisahan yang telah menemukanku. Kini rasa gelisah ini memelukku erat. Aku sampai menggigit bibir bawahku karenanya. Mengapa aku mesti gelisah begini? Sudah sering kulakukan perjalanan dari Denpasar ke Kuta atau Seminyak untuk menemui kawan-kawan mancanegara yang datang berlibur. Menemani mereka surfing di Double Six atau hanya sekedar berjemur di sana menikmati Bintang. Menemani mereka menggila di Sky Garden atau hanya duduk menikmati musik di Apache dan kadang setengah mabuk menangis di Ground Zero untuk korban-korban Bom Bali yang tidak kami kenal. Perjalanan ini juga sudah sering kulakukan untuk dia.

Ya, dia. Seorang lelaki yang sudah kukenal semasa kanak. Seorang lelaki yang kemudian menjelajah dunia dari satu beasiswa ke beasiswa lainnya. Hausnya akan ilmu tidak pernah terpuaskan. Masa liburan selalu dia datang ke sini, ke Bali. Datang, bukan pulang. Tidak ada tempat yang bisa menjadi rumah untuknya. Bukan salah tempat-tempat itu, tapi memang dia yang enggan terikat. Ah, kenangan akan dia yang selalu kutemui di restoran Zanzibar atau Blue Ocean atau Lanai atau Warung Made atau Bubba Gump atau dimanapun dia memintaku menemuinya menambah gelisahku. Sudah rutin enam hari ini aku menemuinya. Tentu saja atas permintaannya. Ini hari ketujuh. Seharusnya jadi hari terakhir, seperti yang dijanjikannya. Enam hari kemarin kami selalu melakukan hal yang sama. Sama persis tiap malamnya, tanpa ada yang terlewat. Enam hari yang lalu aku tidak gelisah saat melakukan ini semua. Ah, kenapa?

"Ryoshi, Mbak." Suara sopir taksi yang kutumpangi memecah lamunanku. Aku terdiam sejenak sebelum membayar argo dan turun dari taksi untuk mengumpulkan nyawa yang berserakan di khayal-khayalku. Di depan restauran Jepang itu aku berdiri. Jantungku berdegup keras saat kulangkahkan kaki memasuki lantai satu restoran tersebut. Aku harus segera menuju lantai dua, tempat aku berjanji bertemu dengannya. Lantai dua Ryoshi selalu ada live band music. Band-band indie local maupun mancanegara, kebanyakan beraliran jazz dan blues, kadang ada juga rock band. Dulu aku bertemu pertama kali dengan temanku bernama Duncan, seorang pemain steel drum beraliran jazz di sini. Duncan kukuh bilang steel drum sementara aku bilang steel frying pan karena alatnya itu memang mirip penggorengan martabak. Oke, lupakan si Prancis pelit Duncan. Fokus mencari sosok sahabatku. Dia duduk di salah satu tempat duduk lesehan depan panggung kecil. Dia melambai padaku saat dia melihatku. Berusaha keras aku tersenyum saat menghampirinya.

"Ayo, duduk. Pesan langsung ya? Edamame? Kesukaanmu, kan? Dua porsi sekaligus, oke?" cerocosnya begitu aku duduk bersimpuh. Live band sekarang adalah band rock. Penyanyinya seorang wanita Indonesia yang cantik dan eksotis. Suaranya dahsyat. Namanya Marina, kutahu.

"Minum cha? Spider Maki?" lanjutnya sementara aku sibuk menenangkan diri dengan mendengar suara serak seksi Marina. Aku hanya tersenyum. Dia lanjut memesan.

"Kamu diam sekali hari ini. Kenapa?" selidiknya.

"Hanya capek. Apa kabar hari ini?" tanyaku menyembunyikan kegelisahan.

"Baik, seperti kemarin. I'm really excited."

"Iya, tentu saja kamu bersemangat. Bersemangat untuk besok," kerlingku padanya. Ah, cepat sekali aku menguasai diri.

"Hahahahaha. Entahlah. Aku harus berterima kasih padamu jika besok semua berjalan lancar," gelaknya. Obrolan kami berlanjut. Obrolan ringan yang disisipi tawa. Dia pandai membuat lelucon. Sesekali Marina mengajak pengunjung menyanyi bersama. Kami ikut menyanyi kalau kami tahu lagunya.

"Ride, Sally ride. Wipe your weeping eyes. Ride, Sally ride..." gemuruh pengunjung saat lagu Al Green dinyanyikan. Sahabatku itu terbahak melihatku yang dengan semangat menyerukan lirik ride Sally ride.

"Kenapa? Aku salah lirik?" protesku. Dia hanya menggeleng dan tetap terkikik-kikik.

"Bukan, bukan itu. Hahaha. Aku heran kenapa kamu tahu lagu itu. Aku saja tidak tahu. Lagu tahun berapa itu?" sindirnya.

"Al Green! Kamu tidak tahu Al Green? Penyanyi soul dari Amerika! Dia itu keren! Ride, Sally Ride jadi bonus track di albumnya Gets Next to You tahun 1971. Kamu tidak tahu?" ucapku kaget.

"Hey, aku mendengarkan musik 90-an karena musik kita ada di zaman itu. Tahun 1971 bahkan kamu masih belum dipikirkan untuk dilahirkan. Hahaha," kilahnya.

"Ya, 90-an macam NSync dan Westlife. Itu favoritmu, kan?" godaku.

"Nope! Well, 90's was the year of boybands of course but no. They're not my favorites."

"Lalu siapa? Red Hot Chili Peppers, Radiohead, U2, REM, Foo Fighters, Smashing Pumpkins?"

"Exactly! Exactly! Don't forget Oasis! The best Britpop ever, bahkan Coldplay bukan apa-apa dibanding Oasis!" serunya senang.

"Hah!" komentarku pendek. Aku sangat tidak menyukai band Inggris itu. Bukan karena musiknya melainkan karena Gallagher klan.

Lelaki itu menunjukkan wajah senang. Dia tahu dia menang telak. Dia tahu aku tak mau membahas lebih lama tentang Oasis.

"Ok then. We have finished our dinner. Now it's time!" ucapnya sambil menyingkirkan piring dan gelas dari hadapan kami ke pinggir meja. Aku menarik nafas dalam. Kegelisahan ini entah kenapa belum pergi juga.

"Wajahmu jangan tegang begitu. Kita sudah melatih ini berkali-kali di tempat yang berbeda-beda," katanya sebelum beranjak ke panggung tempat tadi Marina menyanyi.

Dia naik ke atas panggung, mengambil mikrofon dan berdiri tegak di sana. Matanya menatap lembut lurus tepat ke mataku. Serentak pengunjung riuh bertepuk tangan dan ada yang iseng bersuit-suit.

"Sorry, guys. I have to ruin your night here. I have to take this stage from you, Marina. But, hey, thanks to you guys who let me to have this moment of my life. When I get off this stage, you may murder me. Hahaha," ucapnya di atas panggung dengan gaya sok. Pengunjung bergemuruh bertepuk tangan. Marina mengangkat gelas minumnya sambil tersenyum manis. Cepatlah, bodoh! umpatku.

"Today is gonna be the day that they're gonna throw it back to you. But now you should've somehow realised what you gotta do. I don't believe that anybody feels the way I do about you now," Dia mulai menyanyi dengan suara yang dibagus-baguskan. Aku kaget dia memilih menyanyikan lagu Oasis. Dia turun dari panggung, bernyanyi menuju arahku, menghampiri aku yang duduk kaku seperti sebatang pohon.

"There are many things that I would like to say to you, but I don't know how..." Dia kini tepat berdiri di hadapanku. Berhenti di lirik itu lalu berseru, "Guys, you see this beautiful woman in front of me. She's my best friend since I was like 8 or 9, I can't tell. She's always there for me when I want her to be there. She always has her time for me. She always gives me shoulders to lean on. She never refuses when I ask for her help. She always says yes. Now, I hope she can say 'Yes' too when I ask her for one more thing," dia merogoh saku celananya, mengeluarkan kotak berbahan suede berwarna kuning terang, membuka kotak itu sembari berlutut.

"Will you marry me?" dia menatapku penuh harap. Aku tidak mengerti. Selama enam hari ini aku memang menemui dia untuk membantunya berlatih mengucapkan kata-kata lamaran pada kekasih hatinya dengan aku berpura-pura menjadi wanita beruntung itu. Sengaja dia pilih suasana makan malam romantis agar lebih nyata. Selama enam hari terakhir yang dia lakukan payah. Tidak pernah mulus. Aku sampai harus terus-menerus mengarahkan dia. Ini harusnya begini, itu ke sana, kamu bilang begini, kalau dia begitu kamu katakan seperti ini, blahblahblah. Dia tidak pernah menguasai semua ilmu yang kuajarkan.

Hari ketujuh ini harusnya jadi hari terakhir dia berlatih karena besok dia harus sudah melamar sang kekasih hati sebelum gadis itu terbang ke Singapura untuk bekerja. Tetapi, aku tidak mengerti. Semua yang dilakukannya di luar skenario yang kubuat. Seharusnya dia tidak menyanyi, seharusnya kata-kata yang diucapkannya bukan itu, seharusnya kotak cincin itu berwarna merah muda, seharusnya cincin di dalam kotak itu polos tanpa berlian, seharusnya yang dia lamar bukan aku. Aku tersentak. Aku? Aku? Hah?

"Say yes! Yes! Yes! Yes!" gemuruh pengunjung Ryoshi ditingkahi tepuk tangan. Koor dadakan itu membuat aku tersadar apa yang sedang terjadi. Dia masih berlutut dengan cincin berlian putih berkilau. Dia melamarku. Ya, aku. Tiba-tiba suara tak ada. Semua menunggu aku berkata.

"Wonderwall?" entah kenapa dari ribuan kata yang bisa kuucap, tiba-tiba hanya Wonderwall yang meluncur mulus dari mulutku. Serentak penonton yang hening meledak dalam tawa. Wajah sahabatku memerah, namun dia tertawa juga.

"Iya, Wonderwall. Oasis. Dirilis 30 Oktober 1995 dari album "(What's the Story) Morning Glory?". Bercerita tentang seseorang yang datang dan menyelamatkan hidupmu," jelasnya seolah aku tidak tahu.

"Aku tidak suka Oasis," desisku. Bisa kurasakan wajahku memucat.
 
"Aku tahu itu bukan lagu yang ideal untuk melamar. Terlebih kamu benci Gallagher bersaudara. Tapi, melihat kamu tadi di ujung tangga sana, dengan wajah gelisah, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Entah apa yang menutupi mataku selama ini sehingga tidak melihat malaikat yang selalu ada untukku. Aku malah sibuk mengejar gadis lain yang membuatku bersusah payah transit di Singapura demi menyatakan cinta. Meminta bantuanmu untuk menjelajah dia ada di mana. Lalu mengejar dia ke Jakarta, mengemis cintanya. Tetap dengan bantuanmu mencari rumahnya. Lalu, dan sekali lagi menemui kamu untuk membantuku. Enam hari kemarin aku masih tidak tahu apa yang kuinginkan. Now I do. Apapun yang aku butuhkan ada di kamu. Kamu rumahku, tempat ke mana aku selalu ingin pulang. Sedari dulu." Aku tidak menyahut. "Kakiku kram. Cepat katakanlah sesuatu. Kalau kamu sebenarnya ingin mengatakan 'tidak', sekali lagi kamu bantu aku dengan berpura-pura mengatakan 'ya' biar aku tidak malu," bisiknya dengan ringisan. Kakinya pasti sekarang kesemutan.

"Hahahahahahaha," aku meledak dalam tawa mendengar dia berbisik seperti itu. Para turis di Ryoshi heran. Aku bangkit dari dudukku sembari kubantu dia berdiri. "Guys, he wants me to pretend to say 'yes' to save his butt!" pekikku. Orang-orang kembali tertawa dan berhuhu panjang. Kelakuanku membuat wajahnya makin memerah. Aku berdiri di hadapannya. Menatapnya dalam-dalam. Kegelisahanku raib dengan gaibnya. Kegelisahanku meninggalkan jawaban: aku gelisah karena aku tidak pernah rela dia melamar gadis itu. Aku tersenyum dan dengan lembut kukecup bibirnya. Ini hari ketujuh. Hari terakhir seperti yang direncanakannya.

"Yes," ucapku mantap. " That's not a pretence. I totally mean it. Yes, I will."

Ryoshi kembali bergemuruh sementara dia berjingkrak-jingkrak berlari ke atas panggung dan menyanyi, "There are many things that I would like to say to you, but I don't know how. Because maybe you're gonna be the one that saves me. And afterall, you're my wonderwall."


~MabukOasis~

Thursday, December 6, 2012

MIMPI

Aku spesial. Ini hanya pendapatku. Kau boleh menyangkal sekuat tenaga dan aku tak akan berargumen. Aku terlahir biasa saja. Sembilan bulan sepuluh hari. Lahir normal dan katanya ibuku tak kuat menahan sakit sehingga harus mengambil epidural yang sebelumnya ia tolak. Aku minum ASI ekslusif, menangis, tersenyum, dan lucu. Tak ketinggalan ngompol dan pup. Normal. Biasa. Namun, aku spesial karena saat umur tujuh tahun hingga dua puluh tiga saat ini, aku selalu bermimpi. Bukan sembarang mimpi. Di dalam mimpi aku melihat yang akan terjadi esok hari, lusa, esok lusa bahkan bertahun-tahun yang akan datang. Tidak percaya? Terserah saja. Aku juga bisa menerima mimpi atas pesanan. Hanya biarkan saja aku tertidur setelah aku menyetel pikiranku agar berkonsentrasi pada dirimu. Namun, kadang mimpi-mimpi ini mengganggu karena kadang aku mendapat mimpi yang menyedihkan. Dan ketika aku memberitahukan mimpi itu pada seseorang, aku seperti bukan aku. Trance. Seperti waktu itu…

“Anakku kemarin ngompol. Tumben banget loh. Pas aku tanya kenapa adik bisa ngompol, dia bilang karena mimpi main trus kebelet pipis trus lari-lari ke toilet, pipis deh di toilet. Hahaha. Heran deh! Kenapa tiap mimpi kencing kita beneran kencing? Kenapa tiap mimpi dapet duit banyak ga beneran dapet duitnya? Hahaha. Mimpi apapun selain pipis, kok ga pernah kenyataan.” cerita seorang teman kantor padaku.

“Tidak dengan aku,” kujawab datar.

“Maksudnya? Kamu pernah mimpi jadi kenyataan?”

“Bukan pernah lagi. Selalu. Tiap malam aku bermimpi tentang sesuatu dan seseorang. Dan terjadi.” Kalimat itu menggantung di sana. Perasaan ‘bukan aku’ muncul lagi. Ingin aku bertahan di tubuhku agar ‘si bukan aku’ ini enggan mampir. Tapi, aku tak bisa. Dia leluasa mengendalikanku. “Kemarin aku memimpikan kamu dan anakmu. Menyeberang jalan. dan truk menyambar. Dan anakmu mati.”

PLAAK!! Sebuah tamparan mengembalikan aku pada tubuhku. Pipiku terasa kebas. Pasti merah. Mataku terasa berair menahan perih.

“Kurang ajar! Kamu mendoakan anakku mati?! Makan tuh mimpi kamu!” bentak temanku itu dan berlalu. Aku hanya bisa menatap kepergiannya. Esok hari kudengar kabar duka itu. Mimpiku kenyataan. Anaknya mati tersambar truk ketika sedang menyeberang jalan.

Tapi, ada satu hal yang paling menganggu pikiranku. Aku tidak bisa memimpikan seseorang ini. Tidak pernah sekalipun. Hingga dia sulit sekali tertebak. Setiap pertemuan-pertemuanku dengannya terjadi tanpa sepengetahuanku atau lebih tepatnya mimpiku. Walaupun aku sudah berkonsentrasi penuh pada dirinya hingga jatuh tertidur, aku tak bisa menemuinya di mimpi. Malah kumimpikan sesuatu hal atau orang lain. Mimpiku tidak pernah memberitahuku kalau kami akan bertemu, berkenalan, bersahabat bahkan hingga saling jatuh cinta. Tidak pernah hadir di mimpiku bahwa dia akan senang atau sakit. Akan terus bersamaku atau tidak…

“Kamu tidak pernah hadir di mimpiku. Aku tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padamu, pada kita.” ungkapku suatu ketika. Dia hanya tersenyum.

“Aku ini sudah nyata di depanmu. Untuk apa lagi kamu minta aku jadi mimpi?” ucapnya sembari terbahak.

“Bukan begitu. Ini aneh banget. Kamu satu-satunya orang yang tidak bisa kuimpikan. Orang lain dengan mudah kutemui dalam mimpi. Tidak kamu. Kenapa?”

“Sudah kubilang tadi. Karena aku nyata, bukan mimpi. Oke?”

“Tapi…”

“Hayoo…nanti aku beneran jadi mimpi nyesel kamu. Hahahaha.” candanya. Aku tersenyum. Hambar. Masih tetap terheran-heran.

Tanpa peringatan atau penglihatan dari mimpi, ternyata itu adalah hari terakhir aku bercakap dengannya. Dia tidak menemuiku setelahnya dan seterusnya. Entah hilang ke mana. Lenyap tak berbekas. Cintaku pun nanar mencari-cari. Haus dan lapar. Rindu akan belahan cinta yang selama ini lekat menyatu. Timpang sudah cintaku. Terseok-seok.

Kini dia sungguh-sungguh hanya mimpi bagiku. Mimpi yang ada di tiapku membuka atau menutup mata. Melek atau tidur. Satu-satunya mimpiku yang tak pernah nyata. Abadi jadi mimpi. Aku bercinta dengan mimpi. Terindah.

Mau kumimpikan dirimu? Ayo!


PS: Cerita pendek ini ternyata sudah sejak 24 Juli 2011 mendekam di notebook-ku. Hahaha. Selamat bermain-main, Anakku! Gih, sana! Berkejaran bersama angin dan kenalilah dunia! Ibu menyayangimu!