LELAKI
Udara malam yang dingin tidak mengusik pujangga di depanku untuk merenung di pinggir pagar kayu pembatas balkon vila ini. Piyama tipis dengan motif polkadot merah muda kecil-kecil yang dikenakan tentunya tidak mampu menghalau dingin yang menerpa tubuhnya. Namun, dia seakan tahan meski kulihat sesekali badannya menggigil. Pujangga itu menatap langit. Ah, dia memang selalu mengagumi langit dan astronominya. Tergila-gila pada bintang, planet, nebula, hingga galaksi. Jika tidak percaya, coba saja kalian tanya padanya pengertian asterisme. Pasti dia akan berkata, "Asterisme itu merupakan kumpulan bintang di langit yang membentuk pola tertentu. Sebuah
asterisme bisa saja merupakan bagian dari sebuah rasi misalnya bintang
tujuh di rasi Ursa Major dan Ursa Minor. Asterisme juga bisa merupakan gabungan dari beberapa
bintang di berbagai rasi misalnya segitiga musim panas yang terdiri
dari bintang Vega, Deneb, dan Altair." Entah dia pujangga atau ahli astronomi, aku pun terkadang sulit menentukan. Dia membingungkan, terkadang membuat lelah.
"Kamu membuat saya lelah," ucapku padanya yang membelakangiku. Lama dia merespon karena dia tengah asyik bercengkrama dengan langit malam dan bintang-bintang. Mungkin mengumpulkan bala bantuan dari benda-benda langit itu untuk menjawab pernyataanku.
"Kalau begitu pergilah," sahutnya ringan tanpa golak apapun. Dia tetap membelakangiku. "Tidak pernah ada guna kamu bertahan. Hanya akan menimbulkan lelah yang teramat di tiap waktunya. Saya tidak mau kelelahan itu terakumulasi lalu menjelma rupa hal yang jauh lebih buruk. Ini antisipasi sebelum asteroid yang melintasi orbit bumi berubah menjadi boloid yang mampu menghasilkan ledakan super dahsyat di bumi. Asteroid itu adalah keadaan, sementara bumi adalah kita. Pergilah," lanjutnya masih membelakangiku.
"Begitu? Baiklah jika itu maumu. Selamat menikmati langitmu. Terbanglah tinggi. Kamu tidak membutuhkan saya. Kamu hanya butuh drama dalam hidupmu. Saya lelah meladeni drama itu yang kamu samarkan sebagai benda-benda langit. Saya lelah. Permisi," pamitku dan pergi. Tidak berhasil. Usahaku untuk mencairkan kebekuan di antara kami yang sudah berlangsung hampir seminggu tidak berhasil, termasuk kedatanganku dan mengajaknya berlibur ke vila. Sudah kandas.
PEREMPUAN
Aku tak pernah berani menatapkan muka padanya. Dia, seorang pelipur yang setia, yang sekarang sedang duduk di kursi rotan berdesain unik, entah alasannya tidak lagi mampu memberikan perhatian yang melimpah ruah. Di malam yang sedingin ini pun, dia seperti alpa untuk menyampirkan jaket lalu memeluk tubuhku yang hanya berbalut piyama tipis. Bahkan, untuk sekedar mengajakku masuk ke kamar demi udara yang lebih hangat pun tidak. Dia menjadi dingin. Aku kesal, aku marah dan kupandang langit sejauh-jauhnya demi menemukan tempat untuk menumpahkan segala emosi.
"Kamu membuat saya lelah," ucapnya padaku. Aku berusaha untuk tidak terlihat terkejut dengan terus membelakanginya.Masih menatap langit dengan gemintangnya yang memesona, aku menenangkan diri dari kekalutan. Sudah kuduga, dia sesungguhnya bosan padaku. Aku hanya seseorang yang melelahkan jalan pikirnya. Dia berhak istirahat dari tugasnya menjagaku.
"Kalau begitu pergilah," sahutku berusaha terdengar ringan tanpa golak apapun. Aku tetap
membelakanginya. "Tidak pernah ada guna kamu bertahan. Hanya akan
menimbulkan lelah yang teramat di tiap waktunya. Saya tidak mau
kelelahan itu terakumulasi lalu menjelma rupa hal yang jauh lebih buruk.
Ini antisipasi sebelum asteroid yang melintasi orbit bumi berubah
menjadi boloid yang mampu menghasilkan ledakan super dahsyat di bumi.
Asteroid itu adalah keadaan, sementara bumi adalah kita. Pergilah,"
lanjutku masih membelakanginya karena aku takut dia melihat ekspresi wajahku yang siap menggelontorkan airmata.
"Begitu? Baiklah jika itu maumu. Selamat menikmati langitmu. Terbanglah
tinggi. Kamu tidak membutuhkan saya. Kamu hanya butuh drama dalam
hidupmu. Saya lelah meladeni drama itu yang kamu samarkan sebagai
benda-benda langit. Saya lelah. Permisi," pamitnya dan pergi. Aku tidak membalikkan badanku untuk mencegahnya. Aku runtuh dalam tangis yang kudiamkan agar dia tidak mendengar isakku. Dia tidak pernah tahu, jika langit adalah pelarianku dari rasa kesal, marah dan cemburu. Sementara, aku membutuhkan bumi tempatku berpijak, tempatku menjadikan diri seorang manusia: Dia.
Sayang, bagi dia semua yang aku lakukan hanyalah drama.
LANGIT
Jika aku bisa berbicara pada mereka, maka akan aku katakan: Kalian sama-sama lelah, bosan dan jenuh. Ciptakan jarak dengan berjalan ke setapak lain sendiri. Ambillah waktu untuk masing-masing. Mungkin seminggu. Aku yakin, kalian akan seperti dulu lagi. Sepasang kekasih yang unik dan menyenangkan. Kalian favoritku.
#Catatan sebelum menjemput DJ Go Freek ke bandara dan dilanjutkan setelah mendrop mereka di hotel, ditemani nada dering Line Chat "Wara-Wiri", juga nada dering Whatsapp dari mantan kekasih yang bercerita bahwa TTM-nya sekarang adalah seorang gadis berhijab, juga ditemani segelas alpukat tumbuk dicampur susu cokelat, setengah mengantuk: Aku merindukanmu terlalu. Aku pun mulai meracau. Kacau.
No comments:
Post a Comment