Perjumpaanku dengan Tuhan kali ini aku lakukan di pinggir tempat tidur. Aku berlutut di lantai, kedua tanganku di bibir kasur, jemariku terkait. Aku enggan menundukkan kepala dan memejamkan mata. Aku tidak mau tengadah seolah Tuhan berstana di lelangit kamar. Tuhan sedang berlutut juga, di seberangku. Mata teduhNya berpapasan dengan mataku. WajahNya yang segar dan bercahaya sangat menenangkan.
Aku mulai berbicara, bercerita tentang hari yang telah aku lalui dan yang akan aku hadapi. Dia mendengarkan dengan takzim. Ceritaku mulai menjelma keluh. Segala ketidaksesuaian inginku dengan kenyataan kuungkap dengan penuh kecewa. Kekecewaan yang melahirkan tuntutan ini dan itu. Tetap, Tuhan mendengarkanku dengan seksama. Lelah mengeluh, aku merasakan tangan Tuhan meremas bahuku perlahan. Kekuatan menjalar ke dalam hatiku, memompa jantungku, dan menggembungkan paru-paruku. Kudengar bisikanNya bahwa aku boleh meminta satu hal sebagai obat kecewaku. Aku balas berbisik dan melihat Dia tersenyum bijaksana.
"Sudah selesai berdoanya?"
Kamu datang tepat di saat aku bangkit berdiri. Aku menoleh dan mendapatimu tersenyum. Senyum yang kamu berdayakan dengan susah payah di tengah kesibukanmu yang menyisakan lelah. Aku pun tersenyum dan mengangguk.
"Sudah. Belum beres pekerjaannya, Sayang?"
"Sedikit lagi. Minta apa tadi sama Tuhan?"
"Abang, sekali lagi."
"Abang di sini, Sayang. Sudah milik Sayang seutuhnya. Sekarang begini saja, minta apa sama Abang?"
"Eliana."
Lelah sirna dari tubuhmu. Kamu berjalan mendekatiku, menarik tubuhku ke dalam pelukanmu. Hangat dan nyaman, juga bahagia. Tak henti aku diciumi di sepanjang sisa malam.
Tuhan menepati perkataanNya, mengabulkan permintaanku: kamu, sekali lagi.
#Err..
No comments:
Post a Comment