Monday, April 1, 2013

Perpisahan Paling Sunyi

Untuk kamu,

Tak berpanjang kata, aku ingin mengatakan mungkin perpisahan kita adalah perpisahan paling sunyi yang pernah kita alami. Tidak pernah aku, selama hidupku, menjalani perpisahan tanpa bunyi seperti perpisahanku denganmu. Aku pun yakin, perpisahan yang sering kamu jalani, yang terkecil sekalipun, tak ada yang sepi seperti perpisahan kita. Yah, setidaknya sekedar ucapan "Sampai jumpa" atau "Selamat tinggal" atau "Daaah". Namun, perpisahan yang kita cipta, tidak melahirkan kata apapun, bahkan lambaian tangan juga tidak.

Masing-masing kita, tanpa mengucap apapun, berpisah di setapak itu. Kaki-kaki kita melangkah mantap ke arah berbeda dan semakin menjauh. Mata kita sibuk berusaha menemukan hidup sementara tangan kita cerkas menggapai-gapai kesempatan. Tetapi, tidak tersedia kesempatan bagi kita untuk bertemu. Hidup merampas diri kita. Ambisi dan obsesi mengasingkan kita, membuat kita tidak awas dan tak acuh.

Hingga hari ini, ketika aku menuliskan ini dengan tulisan tanganku sendiri, aku mendapatkan kenyataan bahwa kita telah lama tidak memiliki kebersamaan. Kita bahkan tidak pernah bersama sebenarnya. Dua minggu lalu ketika aku ketahui dari salah seorang teman kita, yang juga sudah lama tidak kudengar kabarnya, bahwa kamu telah memiliki dua orang anak dan sedang sangat sukses dengan karirmu saat ini, aku merasa limbung. lebih lanjut teman itu mengatakan bahwa usaha bisnis kedai kopi yang sedang kamu gencarkan mendapat respon positif di berbagai daerah. Aku merasa bodoh secara mendadak. Kedai kopi favoritku ternyata tanpa sepengetahuanku adalah milikmu. Bayangkan, kita sudah sedekat itu, namun tetap saja kita tidak bersama. Ironis. Lebih bodoh lagi manusia kecil di dalam diriku yang memiliki kenaifan maha tinggi, yang bertahun-tahun meyakinkanku bahwa kita secara naluriah dan batiniah masih bersama, serta akan bersama lagi suatu saat nanti. Lalu, perpisahan dengan cara tidak elegan seperti ini yang kamu tuangkan ke dalam cerita hidupku, apa yang mesti aku lakukan?

Tidak, aku tidak sedang menuntutmu atas sakit hati yang secara tiba-tiba membludak di sekujur tubuhku. Sakit yang timbul karena aku mengetahuimu bahagia dari pihak kesekian. Bukan dari kamu. Selama ini aku menunggu dalam kubangan setia, meyakini bahwa kamu akan datang suatu hari nanti dan menyapaku kembali. Setia yang sia-sia. Namun, aku sudah lama tidak ada dalam logika dan imaji pikiranmu. Tidak pernah. Sungguh itu menyakitkan.

Kini, aku hanya ingin mengetuk pintu rasamu demi mengemis sekedar rasa hormat yang seharusnya bisa kamu berikan pada masa lalu. Perpisahan ini paling menyakitkan yang pernah kujalani, sekaligus paling sunyi.

Dari aku

Lelaki itu melipat kertas yang telah usai dibacanya. Matanya berkabut saat dia menahan tetesan airmata. Pandangannya kini dipindahkan pada sebuah lukisan digital seperti arsiran pensil di atas kertas putih. Sebuah lukisan sketsa seorang lelaki mengancingkan kancing di lengan baju seorang gadis mungil yang menatap ke arah lelaki itu dengan penuh binar. Jika diperhatikan lebih seksama lagi, lukisan itu terdiri dari tulisan kata-kata yang diedit sedemikian rupa hingga membentuk kedua sosok itu. Itu puisi-puisi mereka dahulu yang mereka tulis bersama di bawah sinar bulan.

"Lukisannya bagus, Pa. Dari siapa?" tanya istri lelaki itu yang tanpa disadari telah duduk di sisinya.

"Pelanggan, Ma. Tadi katanya dititipkan di meja barista." ucapnya tenang. "Rifky, pasang ini di dinding dekat jendela sana. Tolong," serunya kemudian pada salah seorang karyawan. Dia bangkit, berjalan menjauhi istrinya sembari menyimpan kertas surat tadi yang sudah terlipat ke dalam dompetnya.

Perpisahan itu tetap saja sunyi.

No comments:

Post a Comment