Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

Wednesday, October 9, 2013

Es Teh Manis Berembun


Aku sudah tidak sabar lagi. Buru-buru aku raih sepeda gayungku dan menggowesnya dengan kecepatan maksimal. Tak kupedulikan jalanan ramai oleh lalu-lalang mahasiswa, laju motor dan mobil, juga jejeran tukang cemilan. Aku kebut saja, bahkan banyak yang memaki-maki dan meneriakiku akibat nyaris kulanggar. Sungguh maaf, tapi aku tidak mau memperlambat lajuku. Aku harus segera sampai.

Di dekat kios tukang bubur ayam, aku menikung ke kiri. Melaju lagi masih dengan kecepatan maksimal. Induk ayam dan anak-anaknya berkeciap panik saat aku memotong jalurnya, mereka beterbangan dan berpencar ke segala arah. Kulewati juga dua orang tua berumur sekitar 70an yang sedang memandangi bidak-bidak catur, mereka bergeming saja. Terus aku mengendarai sepedaku, hingga aku tiba di depan sebuah warung berarsitektur bambu. Keringatku mengucur deras, tapi udara sejuk dari dalam warung sederhana itu menepis rasa panas yang kurasa.

"Es teh manis, satu!" teriak seorang lelaki yang berdiri di balik meja kasir. Lelaki itu tersenyum, memandangku tak lepas. Aku pun membalas senyumnya dan duduk di lesehan yang di sampingnya tergantung hiasan bambu yang mengeluarkan bebunyian merdu jika tertiup angin.

Lelaki itu, pemilik sekaligus pengelola warung bambu sederhana ini. Tinggi, tegap, manis, dan rupawan. Hanya itu saja yang aku tahu. Selebihnya aku buta dan aku jatuh cinta. Dia pun hanya mengenalku sebatas pelanggan yang datang tiap hari dengan satu pesanan saja: es teh manis.

"Satu es teh manis," ucapnya saat menyajikan minuman itu di mejaku.

"Berembun," kata terakhir yang diucapkannya nyaris bersamaan denganku.

Di dalam segelas es teh manis berembun aku tersesat.


~catatan sambil dengerin Banda Neira "Ke Antah Berantah" tiada henti~

Thursday, May 2, 2013

Balada Meja Makan


Meja makan dengan taplak bermotif bunga itu senantiasa bersabar. Ada aku di belakangnya, duduk di atas kursi. Juga lelaki itu di hadapanku. Meja itu bersabar menunggu denting-denting piring, sendok dan garpu. Meja itu bersabar menunggu kami makan sambil mengobrol. Sudah hampir seminggu ini kejadiannya tetap sama. Aku dan dia duduk berhadap-hadapan, di kursi masing-masing, tanpa membalikkan piring, tanpa menyendok nasi, mengambil lauk, dan lebih parah tanpa berbicara satu sama lain.Untung saja meja itu tidak bosan.

Aku pandangi wajah datar lelaki itu yang membuang muka ke arah jendela seakan tirainya yang senada dengan taplak meja jauh lebih menarik. Aku tetap memandanginya tanpa pernah mau memulai pembicaraan karena aku lelah menjadi pengalah. Setiap kali ada permasalahan, selalu aku yang memulai mengungkap dan meminta maaf meski dunia dan akhirat tahu benar itu bukan salahku. Aku rasa itu membuatnya menjadi angkuh. Kerendahan hatiku dianggapnya sebagai kerendahan diriku sendiri. Kali ini aku tidak bisa terima. Jadi, aku berdiam diri saja. Aku menunggu dia yang menungguku di hadapan meja yang juga menunggu kami.

Biasanya, dia akan bangkit berdiri lalu pergi setelah menunggu selama limabelas menit. Dia akan pergi ke luar rumah, entah ke mana dengan motornya. Tengah malam menjelang subuh dia kembali, berusaha membuka pintu kamar yang aku kunci dari dalam. Kubiarkan saja. Pagi-pagi ketika akan berangkat kerja, aku akan mendapatinya tidur di sofa di depan televisi. Aku tidak membangunkannya dan langsung saja pergi. 

Kulihat dia mengalihkan pandangannya. Inilah saat dia untuk bangkit. Benar saja, dia menggeser kursi dan mengambil ancang-ancang untuk berdiri. Gerak refleksku di luar dugaan. Aku melempar sendok ke arahnya dengan geram. Dia yang tak menyangka tampak terkejut dan memandangku dengan wajah tak percaya. Lanjut aku melempar nasi, lauk, sayur, gelas, piring, garpu dan terakhir mengobrak-abrik taplak meja.

"Pergi," ujarku pelan dan dingin. Aku sendiri tidak menyangka akan suaraku yang terdengar tenang tapi tajam. "Pergilah lagi seperti pengecut yang cundang. Pergilah kali ini jauh dan jangan kembali, tetap seperti pengecut yang cundang. Pergi. Cari kebahagiaanmu sendiri yang bisa kamu temukan di luar sana. Pergi. Kebahagiaan dan kebebasanmu bukan di sini bersamaku. Pergi. Tinggalkan aku yang hanya bisa membelenggu," lanjutku tetap datar. Aku sudah lelah.

Tiba-tiba dia meluruh dalam tangis. Kesabaran meja makan itu terbalas akhirnya. Itulah saat-saat yang paling dinantikannya selama seminggu ini: kami kembali menjadi manusia yang tiada sempurna.



#Catatan acak saat mendengarkan Endah n Rhesa menyanyikan "Pergi" dari Andezz

Wednesday, April 17, 2013

Langit Bersama Seorang Lelaki dan Perempuan

LELAKI
Udara malam yang dingin tidak mengusik pujangga di depanku untuk merenung di pinggir pagar kayu pembatas balkon vila ini. Piyama tipis dengan motif polkadot merah muda kecil-kecil yang dikenakan tentunya tidak mampu menghalau dingin yang menerpa tubuhnya. Namun, dia seakan tahan meski kulihat sesekali badannya menggigil. Pujangga itu menatap langit. Ah, dia memang selalu mengagumi langit dan astronominya. Tergila-gila pada bintang, planet, nebula, hingga galaksi. Jika tidak percaya, coba saja kalian tanya padanya pengertian asterisme. Pasti dia akan berkata, "Asterisme itu merupakan kumpulan bintang di langit yang membentuk pola tertentu. Sebuah asterisme bisa saja merupakan bagian dari sebuah rasi misalnya bintang tujuh di rasi Ursa Major dan Ursa Minor. Asterisme juga bisa merupakan gabungan dari beberapa bintang di berbagai rasi misalnya segitiga musim panas yang terdiri dari bintang Vega, Deneb, dan Altair." Entah dia pujangga atau ahli astronomi, aku pun terkadang sulit menentukan. Dia membingungkan, terkadang membuat lelah.

"Kamu membuat saya lelah," ucapku padanya yang membelakangiku. Lama dia merespon karena dia tengah asyik bercengkrama dengan langit malam dan bintang-bintang. Mungkin mengumpulkan bala bantuan dari benda-benda langit itu untuk menjawab pernyataanku.

"Kalau begitu pergilah," sahutnya ringan tanpa golak apapun. Dia tetap membelakangiku. "Tidak pernah ada guna kamu bertahan. Hanya akan menimbulkan lelah yang teramat di tiap waktunya. Saya tidak mau kelelahan itu terakumulasi lalu menjelma rupa hal yang jauh lebih buruk. Ini antisipasi sebelum asteroid yang melintasi orbit bumi berubah menjadi boloid yang mampu menghasilkan ledakan super dahsyat di bumi. Asteroid itu adalah keadaan, sementara bumi adalah kita. Pergilah," lanjutnya masih membelakangiku.

"Begitu? Baiklah jika itu maumu. Selamat menikmati langitmu. Terbanglah tinggi. Kamu tidak membutuhkan saya. Kamu hanya butuh drama dalam hidupmu. Saya lelah meladeni drama itu yang kamu samarkan sebagai benda-benda langit. Saya lelah. Permisi," pamitku dan pergi. Tidak berhasil. Usahaku untuk mencairkan kebekuan di antara kami yang sudah berlangsung hampir seminggu tidak berhasil, termasuk kedatanganku dan mengajaknya berlibur ke vila. Sudah kandas.

PEREMPUAN
Aku tak pernah berani menatapkan muka padanya. Dia, seorang pelipur yang setia, yang sekarang sedang duduk di kursi rotan berdesain unik, entah alasannya tidak lagi mampu memberikan perhatian yang melimpah ruah. Di malam yang sedingin ini pun, dia seperti alpa untuk menyampirkan jaket lalu memeluk tubuhku yang hanya berbalut piyama tipis. Bahkan, untuk sekedar mengajakku masuk ke kamar demi udara yang lebih hangat pun tidak. Dia menjadi dingin. Aku kesal, aku marah dan kupandang langit sejauh-jauhnya demi menemukan tempat untuk menumpahkan segala emosi.

"Kamu membuat saya lelah," ucapnya padaku. Aku berusaha untuk tidak terlihat terkejut dengan terus membelakanginya.Masih menatap langit dengan gemintangnya yang memesona, aku menenangkan diri dari kekalutan. Sudah kuduga, dia sesungguhnya bosan padaku. Aku hanya seseorang yang melelahkan jalan pikirnya. Dia berhak istirahat dari tugasnya menjagaku.

"Kalau begitu pergilah," sahutku berusaha terdengar ringan tanpa golak apapun. Aku tetap membelakanginya. "Tidak pernah ada guna kamu bertahan. Hanya akan menimbulkan lelah yang teramat di tiap waktunya. Saya tidak mau kelelahan itu terakumulasi lalu menjelma rupa hal yang jauh lebih buruk. Ini antisipasi sebelum asteroid yang melintasi orbit bumi berubah menjadi boloid yang mampu menghasilkan ledakan super dahsyat di bumi. Asteroid itu adalah keadaan, sementara bumi adalah kita. Pergilah," lanjutku masih membelakanginya karena aku takut dia melihat ekspresi wajahku yang siap menggelontorkan airmata.

"Begitu? Baiklah jika itu maumu. Selamat menikmati langitmu. Terbanglah tinggi. Kamu tidak membutuhkan saya. Kamu hanya butuh drama dalam hidupmu. Saya lelah meladeni drama itu yang kamu samarkan sebagai benda-benda langit. Saya lelah. Permisi," pamitnya dan pergi. Aku tidak membalikkan badanku untuk mencegahnya. Aku runtuh dalam tangis yang kudiamkan agar dia tidak mendengar isakku. Dia tidak pernah tahu, jika langit adalah pelarianku dari rasa kesal, marah dan cemburu. Sementara, aku membutuhkan bumi tempatku berpijak, tempatku menjadikan diri seorang manusia: Dia.

Sayang, bagi dia semua yang aku lakukan hanyalah drama.

LANGIT
Jika aku bisa berbicara pada mereka, maka akan aku katakan: Kalian sama-sama lelah, bosan dan jenuh.  Ciptakan jarak dengan berjalan ke setapak lain sendiri. Ambillah waktu untuk masing-masing. Mungkin seminggu. Aku yakin, kalian akan seperti dulu lagi. Sepasang kekasih yang unik dan menyenangkan. Kalian favoritku.








#Catatan sebelum menjemput DJ Go Freek ke bandara dan dilanjutkan setelah mendrop mereka di hotel, ditemani nada dering Line Chat "Wara-Wiri", juga nada dering Whatsapp dari mantan kekasih yang bercerita bahwa TTM-nya sekarang adalah seorang gadis berhijab, juga ditemani segelas alpukat tumbuk dicampur susu cokelat, setengah mengantuk: Aku merindukanmu terlalu. Aku pun mulai meracau. Kacau.

Monday, April 1, 2013

Perpisahan Paling Sunyi

Untuk kamu,

Tak berpanjang kata, aku ingin mengatakan mungkin perpisahan kita adalah perpisahan paling sunyi yang pernah kita alami. Tidak pernah aku, selama hidupku, menjalani perpisahan tanpa bunyi seperti perpisahanku denganmu. Aku pun yakin, perpisahan yang sering kamu jalani, yang terkecil sekalipun, tak ada yang sepi seperti perpisahan kita. Yah, setidaknya sekedar ucapan "Sampai jumpa" atau "Selamat tinggal" atau "Daaah". Namun, perpisahan yang kita cipta, tidak melahirkan kata apapun, bahkan lambaian tangan juga tidak.

Masing-masing kita, tanpa mengucap apapun, berpisah di setapak itu. Kaki-kaki kita melangkah mantap ke arah berbeda dan semakin menjauh. Mata kita sibuk berusaha menemukan hidup sementara tangan kita cerkas menggapai-gapai kesempatan. Tetapi, tidak tersedia kesempatan bagi kita untuk bertemu. Hidup merampas diri kita. Ambisi dan obsesi mengasingkan kita, membuat kita tidak awas dan tak acuh.

Hingga hari ini, ketika aku menuliskan ini dengan tulisan tanganku sendiri, aku mendapatkan kenyataan bahwa kita telah lama tidak memiliki kebersamaan. Kita bahkan tidak pernah bersama sebenarnya. Dua minggu lalu ketika aku ketahui dari salah seorang teman kita, yang juga sudah lama tidak kudengar kabarnya, bahwa kamu telah memiliki dua orang anak dan sedang sangat sukses dengan karirmu saat ini, aku merasa limbung. lebih lanjut teman itu mengatakan bahwa usaha bisnis kedai kopi yang sedang kamu gencarkan mendapat respon positif di berbagai daerah. Aku merasa bodoh secara mendadak. Kedai kopi favoritku ternyata tanpa sepengetahuanku adalah milikmu. Bayangkan, kita sudah sedekat itu, namun tetap saja kita tidak bersama. Ironis. Lebih bodoh lagi manusia kecil di dalam diriku yang memiliki kenaifan maha tinggi, yang bertahun-tahun meyakinkanku bahwa kita secara naluriah dan batiniah masih bersama, serta akan bersama lagi suatu saat nanti. Lalu, perpisahan dengan cara tidak elegan seperti ini yang kamu tuangkan ke dalam cerita hidupku, apa yang mesti aku lakukan?

Tidak, aku tidak sedang menuntutmu atas sakit hati yang secara tiba-tiba membludak di sekujur tubuhku. Sakit yang timbul karena aku mengetahuimu bahagia dari pihak kesekian. Bukan dari kamu. Selama ini aku menunggu dalam kubangan setia, meyakini bahwa kamu akan datang suatu hari nanti dan menyapaku kembali. Setia yang sia-sia. Namun, aku sudah lama tidak ada dalam logika dan imaji pikiranmu. Tidak pernah. Sungguh itu menyakitkan.

Kini, aku hanya ingin mengetuk pintu rasamu demi mengemis sekedar rasa hormat yang seharusnya bisa kamu berikan pada masa lalu. Perpisahan ini paling menyakitkan yang pernah kujalani, sekaligus paling sunyi.

Dari aku

Lelaki itu melipat kertas yang telah usai dibacanya. Matanya berkabut saat dia menahan tetesan airmata. Pandangannya kini dipindahkan pada sebuah lukisan digital seperti arsiran pensil di atas kertas putih. Sebuah lukisan sketsa seorang lelaki mengancingkan kancing di lengan baju seorang gadis mungil yang menatap ke arah lelaki itu dengan penuh binar. Jika diperhatikan lebih seksama lagi, lukisan itu terdiri dari tulisan kata-kata yang diedit sedemikian rupa hingga membentuk kedua sosok itu. Itu puisi-puisi mereka dahulu yang mereka tulis bersama di bawah sinar bulan.

"Lukisannya bagus, Pa. Dari siapa?" tanya istri lelaki itu yang tanpa disadari telah duduk di sisinya.

"Pelanggan, Ma. Tadi katanya dititipkan di meja barista." ucapnya tenang. "Rifky, pasang ini di dinding dekat jendela sana. Tolong," serunya kemudian pada salah seorang karyawan. Dia bangkit, berjalan menjauhi istrinya sembari menyimpan kertas surat tadi yang sudah terlipat ke dalam dompetnya.

Perpisahan itu tetap saja sunyi.

Friday, March 22, 2013

DIANA HARI INI


Diana sedang gila. Semenjak dia pulang subuh-subuh dari warung internet dekat kos dua hari lalu, dia menjadi pendiam. Wajahnya bertekuk-tekuk pertanda sedang memikirkan sesuatu. Tak ada yang berani mendekat untuk bertanya ada apa. Namun, wajah itu terkadang mengguratkan senyum tipis. Meski tipis, tapi terlihat amat kegirangan. Oleh karenanya dia disebut sedang gila.

Hari ini dia mencuci baju sambil mendengarkan iPod lewat headset putih kesayangannya. Kepalanya tergerak-gerak seperti mengikuti not lagu. Tidak peduli apapun, siapapun di sekelilingnya yang memandangi dengan tatapan aneh setengah mengejek. Dia tidak dengar. Tidak pula melihat karena sibuk berkonsentrasi pada cuciannya. Atau pada lagu yang ia dengarkan? Entahlah.

Hari ini lain lagi. Dia libur kuliah. Biasanya hari libur dia pasti bertandang ke kamar kami satu-satu untuk sekedar ‘ngecek’ atau curhat. Tapi, dari membersihkan belek mata hingga matahari sudah setengah tiang di ufuk barat, dia tidak muncul untuk ngabsen di kamar kami. Terdengar sayup-sayup lagu dari kamarnya. Lagu yang sama, diputar berulang-ulang. Untungnya suara penyanyi lagu itu tidak jadi  serak atau soak karena mesti konser seharian di kamar Diana.

Hari ini kulihat dia melamun di ruang tamu. Earphone tersambung dari ponsel ke telinganya. Menutupi misteri suara di sekitar orbit Diana. Dia tergidik-gidik sendiri. Tersenyum lalu berganti wajah kagum yang luar biasa. Hey, tunggu. Wajah itu, wajah jatuh cinta. Ha, siapa gerangan?

Hari ini kuberanikan diri bertanya. Kugedor pintu kamarnya hingga nyaris runtuh. Dia keluar kamar dengan mata berlinang. Tapi, itu bukan airmata kesedihan. Itu airmata haru. Lagi-lagi, jatuh cinta.

“Siapa lelaki itu?” tembakku langsung. Diana tergagu. Senyum merekah. Alih-alih menjawab tanyaku, dia berlari ke kamar, mengambil iPod kemudian memasang headset putih kesayangannya di telingaku. Volumenya pekak di telingaku. Dunia seakan bisu. Hanya suara dua orang penyanyi dari iPod yang terdengar. Seperti di surga rasanya mendengar mereka bernyanyi. Dan…wow! Suara penyanyi prianya! Tak bisa kujelaskan. Sungguh lelaki. Cukup dua kata itu saja. Siapa dia? Membuatku…

“Ugoran Prasad. Multiple eargasms, huh?” ucap Diana seperti membaca pikiranku. Atau ekspresi wajahku? Entahlah.



~a note while listening to Frau feat. Ugoran Prasad of MelBi’s Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa~


PS: Sudah pernah kirim cerita ini di facebook, di sini sedikit saya ubah satu kata di versi facebook agar tampak lebih sopan. Hehehe

Saturday, February 9, 2013

MEMBAGIMU




Kita masih saja terus berjalan. Menyusuri bibir pantai dan ombak menjilat kaki-kaki kita yang telanjang. Di depan tampak matahari yang berkemas pulang. Warnanya jingga kemerahan, luntur hinga ke awan. Kita berjalan bersisian dengan jarak pantas. Ah, jarak. Kata ini tetap mewanti-wantiku. Jaga. Jaga. Tidak, kau terlalu dekat, geser sedikit.

“Wah, sudah lumayan juga kita jalan,” ucapmu sambil menoleh ke belakang. Tidak ada lagi jejak kita. Tersapu bersih oleh buih. Tinggal keramaian di belakang sana yang tampak mini.

“Mau balik?” tanyaku. Kamu menunduk tak segera menjawab. Memainkan jemari kakimu dengan pasir yang basah. Lalu kau menoleh ke matahari di ujung sana. Matahari tinggal seperempat.

“Yah,” ucapmu. Bisa kurasakan keraguan di kata itu. Aku diam saja, memberimu waktu untuk memberi ketegasan.

“Sudah seminggu. Ini hari terakhir,” akhirnya kau bersuara lagi.

“Benar,” kini kudengar ragu menggantung di suaraku.

Angin semilir memainkan ombak yang berdebur tenang. Harmonisasi yang manis. Langit di atas kita menggelap sudah, namun menyisakan sejumput rona merah di cakrawala. Rekam jejak matahari yang kini sudah sampai di puri. Romantisme alam itu yang membuatku, untuk pertama kali dalam seminggu ini, menggamit jemari tanganmu dan meremasnya lembut. Aku tidak berani menatap matamu saat kau membalas genggamanku. Genggaman itu beranjak, mendekatkan tubuh kita, menghasilkan sebuah pelukan. Pelukan pertama. Sang jarak berseru-seru panik di antara kita. Megap-megap karena kita semakin erat dan dekat. Wajah kita sama-sama menggeser untuk saling berhadapan. Pertama kali, mata kita bertatapan sedekat itu. Kurasakan jantungmu berderu, kurasakan nafasku memburu. Setitik jarak yang kita punya menyentak tubuh kita untuk saling menjauh. Merenggangkan diri, memberi batas lagi.

“Selamat melanjutkan liburan. Masih seminggu lagi, kan?” ujarku seriang mungkin. Kamu tersenyum legit meski masih tampak kikuk.

“Iya, seminggu lagi. Terima kasih untuk seminggu yang telah lewat. Ayo, balik.” ajakmu, namun aku menggeleng.

“Aku masih mau di sini. Kamu balik sendiri saja. Terima kasih juga.”

Tanpa mengucap apapun lagi, kamu melangkah pergi. Aku menatap punggungmu menjauh dan perasaan benci mulai tumbuh. Aku benci kenyataan bahwa seminggu yang tersisa dan seterusnya tidak akan kau lewatkan bersamaku, melainkan dengan istrimu.

Jarak menari-nari gembira.

Friday, January 11, 2013

CEMBURU

"Maaf, baru sempat baca pesannya. Baru sampai rumah. Tadi pergi beli serabi panas buat Shila. Lokasinya jauh sekali. Abang kedinginan karena hujan angin, tapi tidak apa-apa demi melihat secercah senyum kecil di wajahnya." Begitu pesan singkat yang kubaca di ponselku. Aku tersenyum sambil membayangkan kamu menyerahkan serabi kepada Shila yang kini mau tersenyum kembali untukmu. Lalu kalian berpelukan. Luruhlah segala benteng permusuhan kalian selama dua hari ini. Hm, romantis. Kamu sosok yang romantis.

Dan aku yang melankolis tidak bisa menahan lama-lama senyum di bibirku. Berganti rasa cemburu yang teramat sangat. Tiba-tiba kamu dan Shila memuakkan. Bukan, bukan kalian yang memuakkan. Tetapi, cemburuku yang membuatku merasa kalian memuakkan. Sesungguhnya aku berbahagia untuk kalian. Oh, tidak! Aku berdusta lagi. Ya, bahagia. Mungkin tidak juga. Aduh, cemburu ini membuatku buta akan apa yang harus aku rasakan.

"Abang memeluk Shila," ceritaku pada seorang kawan.

Kawanku itu tertawa dan dengan nada mengejek dia berkata, "Apa salahnya dia memeluk istrinya?"

Benar. Apa salahnya?

Salahnya, aku cemburu. Parahnya, Abang tahu. Tetapi, mengapa dia harus menceritakan hal-hal yang sesungguhnya tidak ingin aku ketahui? Tentang dia menunggu Shila pulang untuk makan siang bersama, tentang taruhan-taruhan super konyol pun seru untuk tim sepak bola favorit masing-masing, tentang catatan-catatan kecil dari berbagai film yang ditonton, tentang Shila yang memasak, tentang menjemput Shila, tentang menemani Shila bekerja hingga larut, dan tentang memeluknya. Sebentar, bukankah aku yang meminta? Tidakkah aku yang bertanya? Rupanya cemburu ini mengantarkanku pada keingintahuan akan sesuatu yang kutahu akan mengganggu jiwaku. Hal ini merupakan pakan bagi cemburuku, membuatnya makin menggembung.

Juga masih dia mengatakan sering rindu padaku. Rindu yang intens membuat dia berkabar padaku. Aku senantiasa berdoa semoga ini benar-benar rindu, murni rindu, bukan motif lain semisal adiksi menyakiti seseorang atau kelainan jiwa lainnya.

"Wajarkah kalau aku merasa cemburu?" kubalas pesan singkatnya.

"Sangat wajar."

"Kenapa?"

"Kamu sudah tahu sendiri jawabannya."

Maka, sampai kapanpun aku akan tetap cemburu.


Denpasar, 11 Januari 2013 1:18 PM
Catatan untuk diri sendiri agar lebih 'nrimo'

Thursday, January 3, 2013

MENDUNG & KAMU


Langit. Langit temaram keabuan. Langit tanpa tebaran cahaya matahari. Langit berhiaskan awan-awan tipis pucat menggelayut diam. Langit yang menduplikasi wajahmu.

Kamu. Kamu tertunduk diam, sediam awan-awan kelabu di kepalamu. Tidak peduli cerita dan tanyaku, diammu yang mendengar dan menjawabku.

"Bunga anggrek ungu yang kita beli waktu itu sudah berbunga lagi. Cantik sekali. Kau harus melihatnya," ujarku untuk yang kesekian kali. Kalimat yang sama, topik yang tetap. Setiap hari selalu begitu. Aku ingin menggugah bosanmu dan mendengar kau berkata bahwa aku membuatmu penat dengan cerita yang itu melulu. Aku, kemudian ingin melihat senyummu sehabis kau berkata begitu. Kamu yang merutuki aku bodoh sesudahnya. Namun, kau bergeming.

Langit tak lagi sanggup menahan bebannya. Langit menumpahkan serintik demi rintik kegundahannya. Lama-lama menderas. Jika sudah begitu, aku panik. Aku berlutut, memelas dan memohon.

"Tidak, tidak. Jangan. Kumohon. Lupakanlah dia. Maksudku, relakan. Itu sudah takdirnya. Jangan kau menghukum diri. Bergembiralah. Aku mohon."

Kata-katamu luruh dalam bening-bening sungai yang mengalir di pipimu. Menimpali reruntuhan hujan yang dituangkan langit. Untuk pertama kali, aku mendapat pertanda setelah setiap hari menemanimu. Sebuah isyarat bahwa kamu hanya membutuhkan mendung untuk menangkupi suara hatimu.

Kutinggalkan kamu menangisi pusara kekasihmu.



~catatan saat The Vuje menyanyikan Mendung di kepalaku~
Blue Ocean, 3 January 2012 12:45 PM

Wednesday, December 19, 2012

Pengantin Perawan

Gambar diambil dari sini

Di kamar pengantin yang telah disiapkan dengan manis dan romantis, aku dan suamiku duduk di pinggir tempat tidur. Kami saling berpandangan. Sholat sunnah dua rakaat sudah kami laksanakan. Kami pun sudah membaca surat Al-fatihah, Al-ikhlas dan sholawat atas nabi sebanyak tiga kali. Inilah saatnya.

Penuh kelembutan suamiku mengusap ubun-ubunku dengan tangan kanannya. Berbisik dia mengucap doa bahwa dia berserah pada Allah akan semua kebaikan dan keburukanku. Jantungku berdetak kencang. Degupnya menggetarkan seluruh badanku. Suamiku menuntun dan membimbing. Aku tetap saja berdebar. 

Sakit yang luar biasa kurasakan membuatku merasa terlahir kembali. Nikmat yang kureguk mampu membuyarkan sekelebat bayang seorang gadis yang selama ini menghantui. Gadis yang terbaring lemah di tempat pembuangan sampah. Gadis yang kehilangan seluruh kekuatan dan kehormatannya setelah digumuli tujuh lelaki. Bergilir di bawah langit hitam yang hujan.

Suamiku tidak tahu. Tidak pernah.



~A note while listening to Madonna's Like a Virgin~

TELANJANG


Kucuran air dari kamar mandi terdengar keras. Pasti air dingin, favoritnya. Basuhlah semua, Sayangku. Bersihkan semua jejak yang kutinggalkan. Jejak peluh, jejak desah, jejak lenguh, jejak orgasme. Biar bisa lagi kuukir ulang jejak-jejak itu di tubuhmu dengan ketelanjanganku.

Pintu kamar mandi terbuka. Dia keluar, menyerbu indera penciumanku dengan aroma sabun dan shampoo yang menggoda. Pasti dia basah. Ah, ingin rasanya kurengkuh dia kembali ke tempat tidur, mengulangi gejolak kemarin malam. Mungkin lebih panas dan nakal.

"Aku mau kau pengangguran," gumamku. Dia tidak menyahut. Sibuk mengancingkan kemeja, memakai celana, mengencangkan ikat pinggang, menalikan dasi, memakai sepatu, mengecek segala gadget, memasukkan semua dokumen ke dalam tas kerja, mengambil jas, menyentak kunci mobil dan berjalan ke arah pintu.

"Aku tahu kamu tidak memakan uangku. Tapi, istri dan anakku memerlukannya. Dah, Sayang." ucapnya sebelum benar-benar menutup pintu.

Di atas tempat tidur yang poranda, dengan mata terpejam, aku telanjang.




*Gambar diambil dari sini