Thursday, May 2, 2013

Balada Meja Makan


Meja makan dengan taplak bermotif bunga itu senantiasa bersabar. Ada aku di belakangnya, duduk di atas kursi. Juga lelaki itu di hadapanku. Meja itu bersabar menunggu denting-denting piring, sendok dan garpu. Meja itu bersabar menunggu kami makan sambil mengobrol. Sudah hampir seminggu ini kejadiannya tetap sama. Aku dan dia duduk berhadap-hadapan, di kursi masing-masing, tanpa membalikkan piring, tanpa menyendok nasi, mengambil lauk, dan lebih parah tanpa berbicara satu sama lain.Untung saja meja itu tidak bosan.

Aku pandangi wajah datar lelaki itu yang membuang muka ke arah jendela seakan tirainya yang senada dengan taplak meja jauh lebih menarik. Aku tetap memandanginya tanpa pernah mau memulai pembicaraan karena aku lelah menjadi pengalah. Setiap kali ada permasalahan, selalu aku yang memulai mengungkap dan meminta maaf meski dunia dan akhirat tahu benar itu bukan salahku. Aku rasa itu membuatnya menjadi angkuh. Kerendahan hatiku dianggapnya sebagai kerendahan diriku sendiri. Kali ini aku tidak bisa terima. Jadi, aku berdiam diri saja. Aku menunggu dia yang menungguku di hadapan meja yang juga menunggu kami.

Biasanya, dia akan bangkit berdiri lalu pergi setelah menunggu selama limabelas menit. Dia akan pergi ke luar rumah, entah ke mana dengan motornya. Tengah malam menjelang subuh dia kembali, berusaha membuka pintu kamar yang aku kunci dari dalam. Kubiarkan saja. Pagi-pagi ketika akan berangkat kerja, aku akan mendapatinya tidur di sofa di depan televisi. Aku tidak membangunkannya dan langsung saja pergi. 

Kulihat dia mengalihkan pandangannya. Inilah saat dia untuk bangkit. Benar saja, dia menggeser kursi dan mengambil ancang-ancang untuk berdiri. Gerak refleksku di luar dugaan. Aku melempar sendok ke arahnya dengan geram. Dia yang tak menyangka tampak terkejut dan memandangku dengan wajah tak percaya. Lanjut aku melempar nasi, lauk, sayur, gelas, piring, garpu dan terakhir mengobrak-abrik taplak meja.

"Pergi," ujarku pelan dan dingin. Aku sendiri tidak menyangka akan suaraku yang terdengar tenang tapi tajam. "Pergilah lagi seperti pengecut yang cundang. Pergilah kali ini jauh dan jangan kembali, tetap seperti pengecut yang cundang. Pergi. Cari kebahagiaanmu sendiri yang bisa kamu temukan di luar sana. Pergi. Kebahagiaan dan kebebasanmu bukan di sini bersamaku. Pergi. Tinggalkan aku yang hanya bisa membelenggu," lanjutku tetap datar. Aku sudah lelah.

Tiba-tiba dia meluruh dalam tangis. Kesabaran meja makan itu terbalas akhirnya. Itulah saat-saat yang paling dinantikannya selama seminggu ini: kami kembali menjadi manusia yang tiada sempurna.



#Catatan acak saat mendengarkan Endah n Rhesa menyanyikan "Pergi" dari Andezz

No comments:

Post a Comment