Pernah mimpi kalian jadi nyata? Bukan mimpi-mimpi yang kalian susun ketika kalian sepenuhnya sadar. Tetapi, mimpi-mimpi yang datang ketika kalian terlelap dalam tidur. Aku pernah.
Waktu itu, 27 April 2013, aku tertidur pulas setelah seharian dilelahkan oleh pekerjaan. Aku pun bermimpi bertemu dengan seseorang yang aku cintai. Dia lelaki yang selalu kuinginkan dari awal perkenalan kami. Di dalam mimpi itu, aku menyapanya, berbincang, dan membuat lelucon-lelucon seperti yang biasa aku lakukan padanya. Keanehan mulai terasa saat dia tidak menggubris satu pun celotehanku. Dia bahkan membuang muka, tidak mau memandangku. Aku tentu saja sangat sedih. Aku bertanya-tanya mengapa dan mulai mencercanya dengan rasa penasaranku. Mengapa? Mengapa? Mengapa? Terus kulesaki dia dengan tanya itu. Dia bersikukuh. Enggan menoleh, enggan menjawab. Hingga aku menuliskannya sebuah puisi singkat:
Kembalilah padaku walau habis waktu
Aku mencintaimu terlalu
Bisa kalian bayangkan? Bahkan dalam mimpi pun aku sanggup menjadi seorang pujangga. Betapa gila. Ah, mari kita lanjut berbicara tentang mimpiku. Dia luluh dengan puisi itu? Dia tersenyum? Dia tertawa? Dia mengucapkan sesuatu? TIDAK. Dia tetap saja berlalu tanpa mengusikku sama sekali. Di situ mimpiku menemui akhir.
Esoknya, kuceritakan mimpi itu pada dia. Alur mimpi yang kuceritakan tidak lengkap karena perbincangan kami sangat terburu-buru dan tidak mesra seperti biasanya. Aku lupa alasan kami memutuskan untuk berhenti berbincang dengan cepat. Aku tentu saja tidak terlalu menganggap mimpi itu. Bagiku, mimpi adalah bunga tidur yang tidak bisa mekar. Begitu juga dia karena aku sangat bisa merasakan dia tidak tertarik pada cerita mimpiku.
Hanya saja, ketika mimpi itu benar-benar hampir kulupakan, kejadian persis di mimpi terjadi. Dia sama sekali berhenti mengacuhkan keberadaanku. Hari terakhir kami berkomunikasi, kami masih baik-baik saja. Bertukar kabar, berbagi tawa, saling mengecup. Hari selanjutnya, dia tidak ada kabar. Berbagai upaya aku lakukan demi mendapat sedikit saja berita darinya, tapi nihil. Aku masih bisa bersabar.
Kucoba lagi pada hari berikutnya. Aku dalam keadaan demam tinggi dan batuk tiada henti. Aku mau diperhatikan, aku mau dia bertanya, aku mau dia mengatur seperti biasanya. Aku kangen. Nihil. Luapan emosi aku tumpahkan di sebuah surat elektronik yang kualamatkan padanya. Rengekanku, omelanku, dan amarahku terbaca jelas di sana. Sesungguhnya, aku hanya mau diperhatikan. Cukup.
Mungkin dia membaca surel itu. Mungkin interpretasinya tidak sesuai dengan keinginanku. Dia semakin tidak menggubrisku. Aku tetap berusaha meraihnya kembali dengan berbagai cara: sms, telepon, juga puisi. Hingga detik ini, detik kutuliskan ini, dia tetap berteguh hati tidak menghubungiku, enggan menjawab semua upayaku. Benteng pertahananku roboh oleh angkuh defensinya. Aku hanyut dalam tangis yang tak berkesudahan. Aku sudah kehilangan.
Kepada kamu, entah kini aku harus melepasmu atau tetap menggenggam tanganmu yang maya. Aku habis kata dan tiada lagi berdaya.
#Catatan dalam ketidakpastian sambil terbatuk-batuk
No comments:
Post a Comment