Berapa kali?
Kuajukan pertanyaan itu berkali-kali pada tembok di depanku. Tentu saja sepi jawaban. Tembok berdiam diri, tidak mengerti maksud pertanyaanku.
Berapa kali aku harus merelakannya? Semenjak mengenal sosoknya, ini sudah yang ketiga kali aku harus melepas dia. Pertama, saat dia tiba-tiba secara ajaib menghilang dari jangkauan radarku. Aku berupaya menemukannya kembali hingga aku berpasrah akibat lelah. Kedua, saat dia telah kutemukan, lagi-lagi harus aku merelakan dia melenggang ke sebuah tempat teduh bernama pelaminan. Ketiga sekaligus terbaru, lagi-lagi dia dengan keajaiban menghilangkan diri. Aku bingung, pun linglung.
Kali ini kenapa? Mungkin salahku. Tapi, aku pun tidak menemukan apa. Mungkin karena aku terlalu emosi akibat dia yang tidak menjawab teleponku. Mungkin aku yang terlalu menuntut. Mungkin aku yang terlalu mementingkan diri. Mungkin aku yang tidak peduli. Mungkin aku yang tidak mau mengerti. Mungkin hanya egoku, aku.
Jadi, harus berapa kali?
Tembok itu bisu.

No comments:
Post a Comment