Saturday, May 11, 2013

AKHIR KITA


Sekian lama kita bersama...

Tunggu! Aku bisa menghitung sudah berapa lama kita bersama. Satu tahun empat bulan duapuluh tujuh hari. Ya, selama itu. Jangka waktu enambelas bulan duapuluh tujuh hari itu bisa dikatakan cukup matang untuk sebuah hubungan romantis, seperti hubungan kita. Tetapi, sangat disayangkan, kita tidak mendewasa seiring waktu tersebut. Semakin hari kita semakin nampak berbeda. Terlepas dari segala perbedaan nyata yang telah kita usung sejak awal, perbedaan visi misi beriringan bertumbuh selama perjalanan panjang kita. Kita mencoba bersabar, kita berusaha memberikan toleransi dan berusaha beradaptasi. Apa daya, segala kebalikan itu semakin tersurat jelas.

"Jadi, apa keputusanmu?" tanyaku padamu yang terdiam dengan wajah geram. Emosi dan ego itu masih kurasakan juga menggelegak dalam diriku setelah kita saling meneriaki, ingin menang sedangkan salah satu di antara kita harus mengalah-suatu hal yang tak mungkin.

"Aku benci kamu!" desismu. "Kamu terlalu idealis. Kamu kaku!"

"Oh, dengar dirimu sendiri! Segala tindakanmu malah sangat menyakitiku dan kamu pura-pura tidak tahu!" rutukku. Ini akan terjadi lagi. Teriakan akan dimulai lagi. Aku sudah lelah berteriak-teriak hanya agar kamu mendengar. "Kalau kamu tidak bisa mengambil keputusan, biar aku saja. Aku pergi. Kamu nanti akan sadar, memang ada yang lebih baik dibanding aku. Aku pergi dan tidak akan kembali,"

Aku seret kakiku ke luar ruangan. Aku tidak mau menoleh lagi. Jika kulakukan, aku yakin aku akan tinggal lebih lama di sisimu dan akan terulang lagi semua pekikan keras kepala itu. Aku akan menghilang untuk selamanya dari kehidupanmu. Airmata ini menderas bagai hujan.

Aku masih sangat mencintaimu.



#Sekali lagi catatan acak saat mendengar Frau-Mesin Penenun Hujan

No comments:

Post a Comment