Langit. Langit temaram keabuan. Langit tanpa tebaran cahaya matahari. Langit berhiaskan awan-awan tipis pucat menggelayut diam. Langit yang menduplikasi wajahmu.
Kamu. Kamu tertunduk diam, sediam awan-awan kelabu di kepalamu. Tidak peduli cerita dan tanyaku, diammu yang mendengar dan menjawabku.
"Bunga anggrek ungu yang kita beli waktu itu sudah berbunga lagi. Cantik sekali. Kau harus melihatnya," ujarku untuk yang kesekian kali. Kalimat yang sama, topik yang tetap. Setiap hari selalu begitu. Aku ingin menggugah bosanmu dan mendengar kau berkata bahwa aku membuatmu penat dengan cerita yang itu melulu. Aku, kemudian ingin melihat senyummu sehabis kau berkata begitu. Kamu yang merutuki aku bodoh sesudahnya. Namun, kau bergeming.
Langit tak lagi sanggup menahan bebannya. Langit menumpahkan serintik demi rintik kegundahannya. Lama-lama menderas. Jika sudah begitu, aku panik. Aku berlutut, memelas dan memohon.
"Tidak, tidak. Jangan. Kumohon. Lupakanlah dia. Maksudku, relakan. Itu sudah takdirnya. Jangan kau menghukum diri. Bergembiralah. Aku mohon."
Kata-katamu luruh dalam bening-bening sungai yang mengalir di pipimu. Menimpali reruntuhan hujan yang dituangkan langit. Untuk pertama kali, aku mendapat pertanda setelah setiap hari menemanimu. Sebuah isyarat bahwa kamu hanya membutuhkan mendung untuk menangkupi suara hatimu.
Kutinggalkan kamu menangisi pusara kekasihmu.
~catatan saat The Vuje menyanyikan Mendung di kepalaku~
Blue Ocean, 3 January 2012 12:45 PM

No comments:
Post a Comment