Friday, January 11, 2013

CEMBURU

"Maaf, baru sempat baca pesannya. Baru sampai rumah. Tadi pergi beli serabi panas buat Shila. Lokasinya jauh sekali. Abang kedinginan karena hujan angin, tapi tidak apa-apa demi melihat secercah senyum kecil di wajahnya." Begitu pesan singkat yang kubaca di ponselku. Aku tersenyum sambil membayangkan kamu menyerahkan serabi kepada Shila yang kini mau tersenyum kembali untukmu. Lalu kalian berpelukan. Luruhlah segala benteng permusuhan kalian selama dua hari ini. Hm, romantis. Kamu sosok yang romantis.

Dan aku yang melankolis tidak bisa menahan lama-lama senyum di bibirku. Berganti rasa cemburu yang teramat sangat. Tiba-tiba kamu dan Shila memuakkan. Bukan, bukan kalian yang memuakkan. Tetapi, cemburuku yang membuatku merasa kalian memuakkan. Sesungguhnya aku berbahagia untuk kalian. Oh, tidak! Aku berdusta lagi. Ya, bahagia. Mungkin tidak juga. Aduh, cemburu ini membuatku buta akan apa yang harus aku rasakan.

"Abang memeluk Shila," ceritaku pada seorang kawan.

Kawanku itu tertawa dan dengan nada mengejek dia berkata, "Apa salahnya dia memeluk istrinya?"

Benar. Apa salahnya?

Salahnya, aku cemburu. Parahnya, Abang tahu. Tetapi, mengapa dia harus menceritakan hal-hal yang sesungguhnya tidak ingin aku ketahui? Tentang dia menunggu Shila pulang untuk makan siang bersama, tentang taruhan-taruhan super konyol pun seru untuk tim sepak bola favorit masing-masing, tentang catatan-catatan kecil dari berbagai film yang ditonton, tentang Shila yang memasak, tentang menjemput Shila, tentang menemani Shila bekerja hingga larut, dan tentang memeluknya. Sebentar, bukankah aku yang meminta? Tidakkah aku yang bertanya? Rupanya cemburu ini mengantarkanku pada keingintahuan akan sesuatu yang kutahu akan mengganggu jiwaku. Hal ini merupakan pakan bagi cemburuku, membuatnya makin menggembung.

Juga masih dia mengatakan sering rindu padaku. Rindu yang intens membuat dia berkabar padaku. Aku senantiasa berdoa semoga ini benar-benar rindu, murni rindu, bukan motif lain semisal adiksi menyakiti seseorang atau kelainan jiwa lainnya.

"Wajarkah kalau aku merasa cemburu?" kubalas pesan singkatnya.

"Sangat wajar."

"Kenapa?"

"Kamu sudah tahu sendiri jawabannya."

Maka, sampai kapanpun aku akan tetap cemburu.


Denpasar, 11 Januari 2013 1:18 PM
Catatan untuk diri sendiri agar lebih 'nrimo'

No comments:

Post a Comment