Kita masih saja terus berjalan.
Menyusuri bibir pantai dan ombak menjilat kaki-kaki kita yang telanjang. Di
depan tampak matahari yang berkemas pulang. Warnanya jingga kemerahan, luntur
hinga ke awan. Kita berjalan bersisian dengan jarak pantas. Ah, jarak. Kata ini
tetap mewanti-wantiku. Jaga. Jaga. Tidak, kau terlalu dekat, geser sedikit.
“Wah, sudah lumayan juga kita
jalan,” ucapmu sambil menoleh ke belakang. Tidak ada lagi jejak kita. Tersapu bersih
oleh buih. Tinggal keramaian di belakang sana yang tampak mini.
“Mau balik?” tanyaku. Kamu
menunduk tak segera menjawab. Memainkan jemari kakimu dengan pasir yang basah.
Lalu kau menoleh ke matahari di ujung sana. Matahari tinggal seperempat.
“Yah,” ucapmu. Bisa kurasakan
keraguan di kata itu. Aku diam saja, memberimu waktu untuk memberi ketegasan.
“Sudah seminggu. Ini hari
terakhir,” akhirnya kau bersuara lagi.
“Benar,” kini kudengar ragu
menggantung di suaraku.
Angin semilir memainkan ombak
yang berdebur tenang. Harmonisasi yang manis. Langit di atas kita menggelap
sudah, namun menyisakan sejumput rona merah di cakrawala. Rekam jejak matahari
yang kini sudah sampai di puri. Romantisme alam itu yang membuatku, untuk pertama kali dalam seminggu ini,
menggamit jemari tanganmu dan meremasnya lembut. Aku tidak berani menatap matamu
saat kau membalas genggamanku. Genggaman itu beranjak, mendekatkan tubuh kita,
menghasilkan sebuah pelukan. Pelukan pertama. Sang jarak berseru-seru panik di
antara kita. Megap-megap karena kita semakin erat dan dekat. Wajah kita
sama-sama menggeser untuk saling berhadapan. Pertama kali, mata kita bertatapan
sedekat itu. Kurasakan jantungmu berderu, kurasakan nafasku memburu. Setitik
jarak yang kita punya menyentak tubuh kita untuk saling menjauh. Merenggangkan
diri, memberi batas lagi.
“Selamat melanjutkan liburan.
Masih seminggu lagi, kan?” ujarku seriang mungkin. Kamu tersenyum legit meski
masih tampak kikuk.
“Iya, seminggu lagi. Terima kasih
untuk seminggu yang telah lewat. Ayo, balik.” ajakmu, namun aku menggeleng.
“Aku masih mau di sini. Kamu
balik sendiri saja. Terima kasih juga.”
Tanpa mengucap apapun lagi, kamu
melangkah pergi. Aku menatap punggungmu menjauh dan perasaan benci mulai
tumbuh. Aku benci kenyataan bahwa seminggu yang tersisa dan seterusnya tidak akan kau lewatkan bersamaku, melainkan dengan istrimu.
Jarak menari-nari gembira.
No comments:
Post a Comment