Saturday, February 9, 2013

MEMBAGIMU




Kita masih saja terus berjalan. Menyusuri bibir pantai dan ombak menjilat kaki-kaki kita yang telanjang. Di depan tampak matahari yang berkemas pulang. Warnanya jingga kemerahan, luntur hinga ke awan. Kita berjalan bersisian dengan jarak pantas. Ah, jarak. Kata ini tetap mewanti-wantiku. Jaga. Jaga. Tidak, kau terlalu dekat, geser sedikit.

“Wah, sudah lumayan juga kita jalan,” ucapmu sambil menoleh ke belakang. Tidak ada lagi jejak kita. Tersapu bersih oleh buih. Tinggal keramaian di belakang sana yang tampak mini.

“Mau balik?” tanyaku. Kamu menunduk tak segera menjawab. Memainkan jemari kakimu dengan pasir yang basah. Lalu kau menoleh ke matahari di ujung sana. Matahari tinggal seperempat.

“Yah,” ucapmu. Bisa kurasakan keraguan di kata itu. Aku diam saja, memberimu waktu untuk memberi ketegasan.

“Sudah seminggu. Ini hari terakhir,” akhirnya kau bersuara lagi.

“Benar,” kini kudengar ragu menggantung di suaraku.

Angin semilir memainkan ombak yang berdebur tenang. Harmonisasi yang manis. Langit di atas kita menggelap sudah, namun menyisakan sejumput rona merah di cakrawala. Rekam jejak matahari yang kini sudah sampai di puri. Romantisme alam itu yang membuatku, untuk pertama kali dalam seminggu ini, menggamit jemari tanganmu dan meremasnya lembut. Aku tidak berani menatap matamu saat kau membalas genggamanku. Genggaman itu beranjak, mendekatkan tubuh kita, menghasilkan sebuah pelukan. Pelukan pertama. Sang jarak berseru-seru panik di antara kita. Megap-megap karena kita semakin erat dan dekat. Wajah kita sama-sama menggeser untuk saling berhadapan. Pertama kali, mata kita bertatapan sedekat itu. Kurasakan jantungmu berderu, kurasakan nafasku memburu. Setitik jarak yang kita punya menyentak tubuh kita untuk saling menjauh. Merenggangkan diri, memberi batas lagi.

“Selamat melanjutkan liburan. Masih seminggu lagi, kan?” ujarku seriang mungkin. Kamu tersenyum legit meski masih tampak kikuk.

“Iya, seminggu lagi. Terima kasih untuk seminggu yang telah lewat. Ayo, balik.” ajakmu, namun aku menggeleng.

“Aku masih mau di sini. Kamu balik sendiri saja. Terima kasih juga.”

Tanpa mengucap apapun lagi, kamu melangkah pergi. Aku menatap punggungmu menjauh dan perasaan benci mulai tumbuh. Aku benci kenyataan bahwa seminggu yang tersisa dan seterusnya tidak akan kau lewatkan bersamaku, melainkan dengan istrimu.

Jarak menari-nari gembira.

No comments:

Post a Comment