Wednesday, May 29, 2013

Bahagia Itu Sederhana


Pagi itu saya berangkat ke kantor seperti biasa: berjalan kaki dari kos, mampir di warung untuk membeli roti, lalu membeli jus buah di warung lain yang jaraknya tidak jauh dari warung roti, dan meneruskan perjalanan ke kantor yang jaraknya hanya sepuluh menit. Di gang menuju kantor, seorang staf vila menghentikan laju motornya di sisi saya. Si staf tidak berkata apapun, saya malas berbasa-basi, saya langsung loncat ke kursi penumpang dan dia kembali melajukan kendaraannya.Memasuki area kantor, para petugas security sibuk bersuit-suit menggoda saya yang saya balas dengan kiss bye. Staf vila menurunkan saya tepat di area presensi finger print dan check clock. Seperti biasa, saya kesulitan melakukan finger print dan check clock. Berulang kali mesin finger print berkata "Please try again" dan mesin check clock memuntahkan kembali kartu presensiku. Gemas, saya berhenti berusaha dan langsung berlari ke lantai atas. Selain karena waktu yang memburu, nyamuk-nyamuk di area presensi juga beraksi zombie. Sesampainya di ruangan, setelah menyimpan jus di kulkas, betapa terkejutnya saya mendapati sebuah dompet hitam dengan aksen satu bunga mawar timbul di salah satu sudutnya tergeletak manis di meja kerja. Saya tahu pemilik dompet itu: seorang bule wanita tua dari Los Angeles. Itu kesayangannya. Ada catatan di sebuah kertas yang ditempel di dompet itu: "For Dewi". Maklum, orang asing di kantorku tidak ada yang bisa menyebut "Dwi". Di dalam dompet itu terdapat sebuah kertas dengan tulisan tangan

Dewi,
Thank you for your help in getting me a plane ticket home. You and Sean really saved me. See you very soon.
Love,
Debbie

Saya tersenyum membaca isi catatan tersebut. Saya bahagia sekali karena saya bisa merasakan ketulusan Debbie berterima kasih dengan cara yang paling sederhana. Saya menyimpan dompet itu ke dalam tas. Tak lupa saya masukkan juga catatan Debbie tadi. Sepanjang hari saya tersenyum, tidak peduli Sean (atasan saya) memfak-fak para supervisor dan manajer yang sedang laporan harian. Meski sesekali dia memanggil saya dengan nada grumpy, saya selalu menghadap dengan senyum bahagia di wajah.

***

Masih adegan di kantor di hari lain. Kebiasaan pagi saya seusai membersihkan meja bos dan mengawasi staf membersihkan ruangan bos, ruanganku dan ruangan arsitek, adalah mengecek "laporan kehilangan dan ditemukan" atau bahasa Inggrisnya "Lost and Found Reports". Bule itu terkadang suka melakukan hal-hal konyol jika sudah mabuk, terkadang suka meninggalkan tas, dompet, handphone, kartu kredit/debit, kunci hotel, kunci motor, kacamata, jam tangan, dan lain sebagainya. Pagi itu, laporan penemuannya cukup mengejutkan yaitu sebuah paspor. Saya cek nama dan kewarganegaraan pemilik paspor tersebut: seorang wanita muda usia 20an dari Brasil bernama Luiza. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengirim surat elektronik ke kedutaan Brasil di Denpasar untuk menginformasikan bahwa paspor salah seorang warga negaranya tertinggal di klub tempat saya bekerja dan kini aman bersama saya, juga saya meminta mereka untuk menginformasikan kepada Luiza. Beruntung, pihak kedutaan merespon cepat dengan mengkonfirmasi bahwa mereka telah menghubungi Luiza. Tidak berselang lama, Luiza menelepon saya dan dia berseru-seru gembira mengetahui bahwa paspornya baik-baik saja.

Keesokan harinya, Luiza datang ke ruangan saya dengan wajah bingung karena dia melihat banyak orang di ruangan dan dia belum tahu saya. Dia pun bertanya, "Which one of you guys named Dewi?" Langsung saya berseru, "Luiza!" Wajah Luiza langsung drastis berubah dari bingung ke lega. Dia terharu sekali dan langsung berlari ke arah saya, spontan memeluk saya erat.

"Thank you so much, Dewi. I don't know what to say. I was so confused when I realized I lost my passport. I didn't enjoy my day, but now I can breathe. Oh my god. Thank you so much. Thanks a lot," ucapnya sambil tidak melepas pelukan.

Saya yang melepas pelukannya sembari berkata, "It's ok. I'm just doing my job. Anyway, next time please be careful. Passport is the life of travelers like you."

Hari itu, Luiza bisa kembali menikmati liburannya. Saya pun bahagia karena kini Luiza bisa tenang dan melenggang gembira.

***

Hal-hal seperti cerita saya di atas selalu membuat saya berpikir bahwa kebahagian itu tidak usah dikejar hingga ke ujung dunia. Dijamin tidak akan ketemu. Dunia tidak berujung karena Bumi bulat. Kebahagiaan itu tidak terletak pada barang-barang mewah nan mahal yang justru membuat kocek kita menipis. Kebahagiaan itu bukan emas, intan, atau permata.

Kebahagiaan saya tercipta dari hal-hal kecil yang mungkin akan selalu terlewat oleh pengawasan pikiran dan hati. Kebahagiaan saya sama sekali bukan saja tentang saya. Kebahagiaan itu tidak melulu persoalan materi. Kebahagiaan bisa mengambil berbagai rupa dan seringkali hal-hal minor yang bisa membuat kita merasa benar-benar bahagia. Kebahagiaan itu bisa saja berupa sapaan pagi hari dari para sahabat lewat aplikasi di handphone pintar. Kebahagiaan itu mungkin berupa tanaman bunga peliharaan kalian berbunga untuk pertama kali. Kebahagiaan bisa berupa berita bahwa teman kita mendapat beasiswa untuk meneruskan sekolah di luar negeri. Kebahagiaan bisa berbentuk sebuah foto kiriman kakak atau adik kita yang menunjukkan mereka sedang menikmati liburan. Kebahagiaan itu ada dalam diri sendiri. Sederhana saja.

Jadi, berbahagialah akan segala hal di sekeliling kita, bahkan ketika kita terpuruk karena sekali lagi, kebahagiaan tidak selalu harus tentang diri sendiri.

Cheer up and chin up!


#Catatan sambil terbahak-bahak menonton The Comment.

Tuesday, May 28, 2013

SETERU


Aku yakin aku tidak mau menghabisi seteru ini. Membiarkan jarak makin merekah di antara kita. Menyimpan suara dan kata hanya untuk batin kita masing-masing. Aku tidak merasa rindu meski telah bertahun kita absen bertegur sapa dan bertukar senyum.

Ya, aku memang menyimpan dendam. Luka hati yang kamu torehkan masih saja basah hingga kini.  Ketakutan yang dulu sempat kamu beri menjadikanku tidak lagi menaruh hormat padamu. Semua kasih dan sayangku sirna sudah, mencapai garis akhir.

Aku enggan. Aku sudah malas. Jalani saja hari tuamu, Kakek.





#Catatan usai makan siang dan kebencian itu terus ada untuknya

Thursday, May 23, 2013

Gravitasi, Levitasi

Gravitasi
Cengkrammu pada tubuhku
Ikatanmu terhadap nyawaku
Lepaskan
Bebaskan


Biar aku berlevitasi



#Catatan asal-asalan cuma biar ada postingan terbaru

Tuesday, May 21, 2013

ES KRIM


Siapa yang berani melarangku menikmati es krim? Dalam keadaan apapun, semisal demam, batuk atau pilek, jika aku mau menikmati es krim, aku akan membeli kemudian kunikmati. Surga! Kamu yang dulu melarangku tidak pernah tahu hal ini, kan?

Aku tidak pernah pilih-pilih es krim yang seperti apa. Selama dia disebut "es krim" dan memang merupakan es krim, aku suka. Harga murah atau mahal, bermerek atau tidak, di tempat elite atau emperan, rasa vanila atau coklat, berbentuk stick atau cone atau cup, aku tidak peduli. Semua karena aku suka es krim.

Pernah aku ditraktir menikmati es krim cone dengan harga yang menurutku super mahal hanya untuk secorong es krim dengan rasa vanila. Pernah aku ditraktir menikmati es krim yang bisa kupilih sendiri campuran buahnya. Pernah aku ditraktir menikmati gelato di Seminyak Square. Beli sendiri? Sering! Hanya saja es krim yang biasa beredar di pasaran.

Cita-citaku yang berhubungan dengan es krim? Hmm... Tidak mudah mewujudkan mimpi ini, tapi aku yakin akan terwujud suatu hari nanti: terbang ke Italia, mencari gerai es krim bernama Gelateria K2 (Konon, Gelateria K2 ini terenak di daerahnya-yang sama sekali aku tidak tahu ada di belahan mana Italia). Aku akan menemui pemiliknya hanya untuk meminta dia melayaniku secara khusus, membuatkan dan mengantarkan pesanan es krim yang kumau. Sekaligus menunjukkan kepadanya bahwa aku mampu berbahagia, cukup dengan es krimnya saja, tanpa dia di hidupku.

Es krim. Ice cream. Gelato. Siapa berikutnya yang mau menraktir aku?


#Catatan saat menikmati es krim cup pasaran lalu tersadar: mungkin aku sudah gila


HUTANG

Kamu berhutang penjelasan padaku
Kamu berhutang permohonan maaf
Kutagih sekarang
Bisa bayar?



Sky Garden, 21 May 2013



#Catatan saat bosan di kantor sementara di luar mendung

Sunday, May 19, 2013

PELUKNYA


Bertaburan airmata, aku berlari menyongsongnya.
Kutabrakkan tubuhku ke tubuhnya yang semerbak.
Tanganku kukalungkan erat di lehernya.
Aku makin terisak, dia membalas pelukku dengan lembut.

"Tuhan, rasanya sakit sekali." rengekku dalam sedu.

Dia mengelus rambutku lalu menepuk-tepuk punggungku.
Pelukannya semakin menguat dan aku secara magis merasa damai.




~Catatan saat menikmati keripik tempe, lalu sekelebat Tuhan lewat di pikiran. Dia berseru, "Ini tanggal 19 Mei, Jendral!~

Saturday, May 18, 2013

SELEPAS HUJAN


Siang selepas hujan, matahari perlahan mengeluarkan sinarnya lagi. Tidak menyengat, melainkan hangat. Tetes-tetes air yang tertinggal di pepucuk daun dan tepian atap tampak bening bercahaya. Wangi tanah basah membujuk, merayu, dan mencumbu. Mendadak aku merasa rindu. Rindu kepada kamu.

Bertelanjang kaki, aku berlari ke halaman. Aku rasakan tanah basah di telapak kakiku. Tanganku membawa sebuah botol kaca bening berukuran kecil. Berkeliling halaman aku kumpulkan wangi tanah ke dalam botol tadi. Wangi tanah yang khas terlihat meliuk-liuk terjebak dalam botol, berusaha membebaskan diri. Juga kuhampiri rimbun tanaman hias yang masih kuyup oleh air hujan. Kuteteskan beberapa titik air yang ada di ujung daunnya ke dalam botol. Sempurna. Sebotol parfum untukmu sudah sedia.

Wangi parfum racikanku diterbangkan angin yang berhembus ke tempatmu. Menyeberangi sebuah lautan demi sampai pada kamu. Berdirilah di tepian lautnya agar dia mudah menemukanmu. Aku bersumpah ini akan jadi wewangian yang paling kamu suka. Wangi yang bercampur rinduku.

~ ~ ~

Malam selepas hujan, udara sejuk, langit kembali membiru, bersih tanpa awan. Titik-titik bintang mulai bermunculan menghiasi langit yang syahdu. Bulan tampak manis berselonjor santai di antara hamparan gemintang kecil itu. Kuperhatikan kerlip-kerlip cantik dan ada satu yang tidak tahan hanya bergelantungan di atas sana. Satu bintang meluncur cepat mengarah bumi dan jatuh di halaman rumahku yang basah. Bergegas aku berlari ke halaman demi menjemputnya. Bintang itu menggelepar di tanah, senyum tampak menghiasi wajahnya yang gemerlapan. Aku pungut, kembali kuterbangkan. Kali ini menuju tempatmu.

Bintang kecil itu menyebar serpihan-serpihan cahayanya sepanjang jalan menuju kamu. Melintasi ratusan kilometer dari tempatku. Di menjadi petunjukku untuk menemukanmu. Berdirilah kamu di tepian pulaumu, tangkap bintang tadi agar bisa aku melihat ke mana jalanku. Aku mau memberimu rindu ini.

~ ~ ~

Aku termangu selepas hujan, mengkhayalkanmu dengan sebotol parfum dan satu bintang kecil. Seandainya aku tahu cara menemukanmu, pasti aku sekarang sudah bersamamu, tidak di sini sendiri. Jika kita memang tidak ditakdirkan untuk bertemu, aku tetap akan menunggumu penuh rindu bersama wangi tanah dan bintang selepas hujan. Yah, selepas hujan.


#Catatan saat gelap-gelapan sendiri di kamar karena pemadaman listrik