Saturday, March 16, 2013

BILA DIA MEMINTA

"Berhenti berhubungan dengannya. Tolong, saya mohon. Dia suami saya," suara wanita itu tidak terdengar marah, namun tegas. Aku tidak segera merespon. Pikiranku memvisualkan sebuah bentuk segitiga yang sempurna. Di setiap sudutnya ada aku, dia dan suaminya. Dia berdiri memandang suaminya. Sang suami berdiri membelakanginya, menghadapku. Aku menatap tepat mata suaminya. Aku dan suaminya melempar senyum, berbagi tawa, menyiarkan mimpi dan kami saling belajar untuk merayakan hidup. 

Bagi kebanyakan orang mungkin ini dianggap sebuah pengkhianatan. Mereka akan menyalahkan kami menjalin hubungan ini. Terlebih, mereka akan menyalahkan aku dan memberiku label "Perusak Rumah Tangga", "Orang Ketiga", "Wanita Gatal". dan label menyakitkan lainnya. Namun, bagi kami ini hanyalah sebuah naluri hati, keinginan primitif setiap makhluk hidup: mencari kebahagiaan diri. Lagipula, aku bukan perusak rumah tangga. Rumah tangga mereka telah rusak bahkan sebelum istana itu ada cetak birunya. Aku bukan orang ketiga karena aku telah hadir lama di kehidupan sang suami. Aku mengalami masa perkenalan, pertemanan, persahabatan, percintaan dengan suaminya. Sama seperti dia yang datang di semesta sang suami, hanya saja proses percintaan mereka terjadi  setelah kisah cinta antara aku dan suaminya kandas oleh keadaan. Aku sendiri tidak mau menyebut pengalaman mereka sebagai percintaan karena ada unsur keterpaksaan di dalamnya. Jadi, seperti pembelaanku tadi, aku bukan perusak rumah tangga atau orang ketiga atau wanita gatal. Aku dan suaminya adalah dua makhluk yang saling mencintai, yang memperjuangkan cinta demi naluri.

"Tidak bisa. Satu-satunya orang yang bisa meminta saya berhenti adalah suami Anda. Jika dia memilih Anda dan melupakan saya, saya terima dengan lapang hati. Jika tidak, untuk apa saya pergi?" kilahku.

"Tolong jangan egois. Anda tahu, kita sama-sama wanita. Kita sama-sama punya perasaan. Bayangkan Anda di posisi saya," ucapnya lagi. Kini terdengar getar di suaranya. Getar yang akan meruntuhkan airmatanya.

"Saya egois? Bagaimana dengan Anda? Apa Anda tidak memikirkan perasaan suami Anda jika saya pergi? Anda tidak peduli jika suami Anda terus bersama Anda dalam ketidakbahagiaan? Anda tega melihat dia menderita? Saya sangat mau melihat suami Anda bahagia, saya tidak ingin menyakitinya. Cinta saya membahagiakannya, lalu kenapa Anda egois ingin menghapus kebahagiaan itu dari hidupnya dengan menjadikan dia sebagai budak kebahagiaan Anda? Itukah cinta Anda? Memasung dan memperbudak perasaan? Saya perempuan, saya punya perasaan, tetapi saya tidak mau memikirkan perasaan saya, hanya perasaan suami Anda."

Terdengar isak di sana lalu sambungan terputus. Mungkin dia pingsan. Aku tarik nafas dan perlahan aku menutup telepon. Tubuhku seketika menghangat, bukan karena gelegak emosi, melainkan karena pelukan erat suaminya dari belakangku. Hembusan nafasnya aku rasakan di leher saat dia berbisik pelan, "Aku sangat menyayangimu, D."

No comments:

Post a Comment