"Berhenti
berhubungan dengannya. Tolong, saya mohon. Dia suami saya," suara wanita
itu tidak terdengar marah, namun tegas. Aku tidak segera merespon.
Pikiranku memvisualkan sebuah bentuk segitiga yang sempurna. Di setiap
sudutnya ada aku, dia dan suaminya. Dia berdiri memandang suaminya. Sang
suami berdiri membelakanginya, menghadapku. Aku menatap tepat mata
suaminya. Aku dan suaminya melempar senyum, berbagi tawa, menyiarkan
mimpi dan kami saling belajar untuk merayakan hidup.
Bagi kebanyakan orang mungkin ini dianggap sebuah
pengkhianatan. Mereka akan menyalahkan kami menjalin hubungan ini.
Terlebih, mereka akan menyalahkan aku dan memberiku label "Perusak Rumah
Tangga", "Orang Ketiga", "Wanita Gatal". dan label menyakitkan lainnya.
Namun, bagi kami ini hanyalah sebuah naluri hati, keinginan primitif
setiap makhluk hidup: mencari kebahagiaan diri. Lagipula, aku bukan
perusak rumah tangga. Rumah tangga mereka telah rusak bahkan sebelum
istana itu ada cetak birunya. Aku bukan orang ketiga karena aku telah
hadir lama di kehidupan sang suami. Aku mengalami masa perkenalan,
pertemanan, persahabatan, percintaan dengan suaminya. Sama seperti dia
yang datang di semesta sang suami, hanya saja proses percintaan mereka terjadi setelah kisah cinta antara aku dan suaminya kandas oleh keadaan. Aku
sendiri tidak mau menyebut pengalaman mereka sebagai percintaan karena
ada unsur keterpaksaan di dalamnya. Jadi, seperti pembelaanku tadi, aku
bukan perusak rumah tangga atau orang ketiga atau wanita gatal. Aku dan
suaminya adalah dua makhluk yang saling mencintai, yang memperjuangkan
cinta demi naluri.
"Tidak bisa. Satu-satunya orang yang bisa meminta saya
berhenti adalah suami Anda. Jika dia memilih Anda dan melupakan saya,
saya terima dengan lapang hati. Jika tidak, untuk apa saya pergi?"
kilahku.
"Tolong jangan egois. Anda tahu, kita sama-sama wanita. Kita
sama-sama punya perasaan. Bayangkan Anda di posisi saya," ucapnya lagi.
Kini terdengar getar di suaranya. Getar yang akan meruntuhkan
airmatanya.
"Saya egois? Bagaimana dengan Anda? Apa Anda tidak memikirkan
perasaan suami Anda jika saya pergi? Anda tidak peduli jika suami Anda terus bersama Anda
dalam ketidakbahagiaan? Anda tega melihat dia menderita? Saya sangat mau
melihat suami Anda bahagia, saya tidak ingin menyakitinya. Cinta saya
membahagiakannya, lalu kenapa Anda egois ingin menghapus kebahagiaan itu
dari hidupnya dengan menjadikan dia sebagai budak kebahagiaan Anda?
Itukah cinta Anda? Memasung dan memperbudak perasaan? Saya perempuan,
saya punya perasaan, tetapi saya tidak mau memikirkan perasaan saya,
hanya perasaan suami Anda."
Terdengar isak di sana lalu sambungan terputus. Mungkin dia pingsan. Aku tarik nafas dan perlahan aku menutup telepon. Tubuhku seketika menghangat, bukan karena gelegak emosi, melainkan karena pelukan erat suaminya dari belakangku. Hembusan nafasnya aku rasakan di leher saat dia berbisik pelan, "Aku sangat menyayangimu, D."
No comments:
Post a Comment