Tuhan, aku menyayanginya. Aku merintih berlinang airmata.
Sepi. Tidak ada yang menjawabku. Malam semakin hening dan isakku yang lirih
semakin nyata.
Tuhan, Kamu di sana? Sedang apa? Menikmatiku yang terdera
cinta? Baiklah, nikmati saja, Tuhan. Aku akan terus mengucapkan cintaku ini.
Kuanggap ini sebagai puja-puji padaMu yang memang patut disyukuri.
Aku sungguh tidak mengerti alasanMu memberi rasa ini padaku.
Cinta yang luar biasa besar pada seseorang. Dia pun memiliki cinta yang sama
untukku. Namun, di saat bersamaan Kamu pasang segala rintangan membentang di
sepanjang perjalanan cinta ini. Oleh karena demikian, sekuat tekadku, aku memaksa cinta ini untuk
pergi dari hatiku. Dia enggan beranjak. Kembali aku menuntutMu, menanyakan
maksudMu memberikan cinta sekuat ini-sekaligus aral-bercokol dalam keberadaanku. Apakah Kamu
tulus memberikan cinta ini? Aku meragukan jika Kamu menjawab iya karena
kenyataan yang Kamu berikan tidak berbanding lurus.
Ini ujian, bukan? Untuk apa Kamu memberikan ujian seperti
ini? Apa untungnya bagiMu? Ah, mungkin dengan mengujiku, Kamu bersenang-senang melihatku
tersuruk-suruk mengangkut cinta yang berat bobotnya melebihi kemampuan raga dan
sukma. Mungkin Kamu terhibur dengan aku yang menekuk wajah merumuskan segala
kemungkinan demi menemukan jawaban, ketakutan jika tidak lulus dengan nilai
sempurna.
Aku pun sudah memberikanMu dua pilihan, mengultimatum: musnahkan cinta ini dariku
atau biarkan dia bersatu denganku. Kamu tidak melakukan keduanya. Kamu asyik
memainkan tombol-tombol kehidupan yang lain. Tidak usah pedulikan aku. Tidak,
aku tidak perlu. Biar saja dilemma ini aku tanggung sendiri. Kalau Kamu senang
melihatku menderita dengan cinta yang semakin bervolume tanpa kubisa melakukan
apapun, aku rela. Aku rela menungguMu berpaling padaku dan menyingsingkan bahuku,
membantu membawa cinta ini padanya. Aku mau menungguMu memberikan bahagia pada
cinta ini sehingga nantinya dia jadi lebih ringan dalam melangkah, menuju
peluknya.
Tetapi, menungguMu saja tidak akan membuahkan hasil. Kamu
sedang sibuk. Mengatur cuaca, mengganti musim, merotasi bumi dan memaku
bintang di langit kala malam. Kuusahakan sendiri dulu saja, Tuhan. Bersama dia
yang kucinta, kami merintis langkah-langkah kecil, jauh lebih kecil dari
langkah pertama bayi. Kami memutuskan untuk memupuk cinta ini dan bersatu suatu
hari nanti. Ya, suatu hari nanti, entah kapan itu, itu sepenuhnya urusanMu.
Kami siarkan pada mereka yang mau mendengarkan, kami beri tahu semesta raya
bahwa kami saling mencintai dan kami berhak bersama. Ini semacam kampanye, Tuhan.
Bukan, bukan kampanye politik semacam itu. Ini semua hanya agar lebih banyak
dukungan yang masuk ke pundi-pundi kami sehingga Kamu bersedia menoleh sedikit
saja padaku dan menyaksikan sudah seberapa besar cinta yang Kamu tanamkan
bertumbuh. Dukungan yang kudapat dari mereka dan semesta akan kugunakan untuk
membeli ibaMu dan aku mau berjuang hingga akhir, meski tak kutahu pasti kapan
aku mau mengakhiri.
Tak terhitung sudah tetes airmata yang kutumpahkan hanya
untuk mengemis restuMu. Malam ini pun, kualirkan lagi doa-doaku lewat airmata
tanpa berkata, tanpa bahasa. Kamu adalah yang tercerdas di jagat raya. Aku rasa
tak perlu lagi menerjemahkan arti sungai-sungai kecil dari mataku itu. Kamu telah
tahu, hanya butuh waktu bagiMu untuk menatap wajahku dan menghadiahkan senyum.
Masih dengan airmata, aku memberitahuMu: Tuhan, aku
menyayanginya. Singkirkan segala rintangan ini dengan jentik jarimu dan biarkan
aku menyatu dengannya dalam bahagia. Amin.
Malam senyap.
No comments:
Post a Comment