Wednesday, October 9, 2013

Es Teh Manis Berembun


Aku sudah tidak sabar lagi. Buru-buru aku raih sepeda gayungku dan menggowesnya dengan kecepatan maksimal. Tak kupedulikan jalanan ramai oleh lalu-lalang mahasiswa, laju motor dan mobil, juga jejeran tukang cemilan. Aku kebut saja, bahkan banyak yang memaki-maki dan meneriakiku akibat nyaris kulanggar. Sungguh maaf, tapi aku tidak mau memperlambat lajuku. Aku harus segera sampai.

Di dekat kios tukang bubur ayam, aku menikung ke kiri. Melaju lagi masih dengan kecepatan maksimal. Induk ayam dan anak-anaknya berkeciap panik saat aku memotong jalurnya, mereka beterbangan dan berpencar ke segala arah. Kulewati juga dua orang tua berumur sekitar 70an yang sedang memandangi bidak-bidak catur, mereka bergeming saja. Terus aku mengendarai sepedaku, hingga aku tiba di depan sebuah warung berarsitektur bambu. Keringatku mengucur deras, tapi udara sejuk dari dalam warung sederhana itu menepis rasa panas yang kurasa.

"Es teh manis, satu!" teriak seorang lelaki yang berdiri di balik meja kasir. Lelaki itu tersenyum, memandangku tak lepas. Aku pun membalas senyumnya dan duduk di lesehan yang di sampingnya tergantung hiasan bambu yang mengeluarkan bebunyian merdu jika tertiup angin.

Lelaki itu, pemilik sekaligus pengelola warung bambu sederhana ini. Tinggi, tegap, manis, dan rupawan. Hanya itu saja yang aku tahu. Selebihnya aku buta dan aku jatuh cinta. Dia pun hanya mengenalku sebatas pelanggan yang datang tiap hari dengan satu pesanan saja: es teh manis.

"Satu es teh manis," ucapnya saat menyajikan minuman itu di mejaku.

"Berembun," kata terakhir yang diucapkannya nyaris bersamaan denganku.

Di dalam segelas es teh manis berembun aku tersesat.


~catatan sambil dengerin Banda Neira "Ke Antah Berantah" tiada henti~

2 comments:

  1. Es teh manis + Nasi Padang = mantap !!

    ijin kasih makan ikan nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih sudah lama tidak makan nasi padang. Sekarang setiap hari makan tempe. Aku anak tempe! :D

      Delete