Ketika membaca komentar seorang kawan lama di facebook yang mengatakan bahwa dia merindukan sisi "canda dan tawa"-ku di dalam semua karya tulisku, aku merasa dijewer. Lama aku memandangi kalimatnya hingga tampak olehku masing-masing huruf mengembang, menggembung dan menyesaki mataku. Aku menoleh ke dalam diri. Dulu, ada seorang perempuan muda yang ceria dan penuh tawa. Aku mau menemuinya, sekali lagi. Namun, yang kudapati hanyalah seorang perempuan muda yang tampak berdebu dan kusam sedang duduk di sebuah kursi kayu. Dia memegang erat hatinya yang lelah berkelana ke seluruh penjuru, namun yang ditemukannya hanya penjara. Wajah perempuan muda itu tampak sangat letih. Matanya tak henti mengucurkan riak-riak air, senantiasa basah. Aku menjadi iba, jatuh kasihan dan oleh karenanya aku menangis. Ya, aku menangis ketika menuliskan ini.
Ke mana perempuan muda yang segar dan selalu terbahak itu pergi? Apakah dia bersembunyi di suatu sudut? Apakah dia tengah mencari-cari sesuatu yang pasti? Apakah dia sudah mati? Ngeri, aku membayangkan yang terakhir. Jika dia mati, di mana jasadnya? Musnah begitu saja? Di belantara diri itu aku berteriak-teriak, memanggil namanya, berharap dia segera muncul di hadapanku dan bisa kutarik tangannya, kubawa pulang. Namun, panggilanku tetap hanya dijawab oleh perempuan muda dengan wajah letih tadi.
"Aku di sini. Aku di sini," ucapnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.
Sedih, kupandang perempuan muda dengan wajah letih itu. Rindu menggelegak dalam ragaku. Rindu keceriaannya. Rindu tawa lepasnya. Rindu lelucon-leluconnya. Rindu kejahilannya. Rindu dia yang muda, yang energinya tak pernah punah, yang semangatnya tidak mengenal pudar, yang cahayanya tak pernah padam menyinari sekeliling hingga semua cerah dan bahagia.
Gurat-gurat kelelahan di sekujur tubuhnya bercerita semua penyebabnya adalah cinta. Cinta yang pernah dia genggam senyata-nyatanya tak pernah ada. Dia mencoba tegar, namun limbung juga. Sempat putus asa dan mencicip semua tawaran yang diberikan padanya. Lagi-lagi tawaran itu hanya sementara saja sifatnya. Semakin dia terluka jadinya. Putus asa tak gentar menyergap. Putus asa tak segan membuat dia berani mengambil keputusan. Satu keputusan yang tidak pernah dipikirkannya akan menjadikan keadaan jauh lebih buruk. Dia memasung diri sendiri dalam keputusan itu. Menggadaikan senyum dan tawa bahagianya pada sebuah iming-iming pengabulan impian masa kecil. Dia, yang dulunya selalu menertawakan keadaan dan tidak ambil pusing pada hidup, kini tenggelam dalam kungkungan keterlanjuran. Dia, yang dulunya menganggap enteng segala hal dan tak acuh pada masalah, kini menjadi terlalu khawatir, kerap cemas dan mudah tertekan. Keadaan kini berpuas diri merecokinya, hidup membalas dendam dengan mempermainkannya.
Sampai lagi-lagi dia melihat sesuatu yang diyakininya cinta. Meskipun tak sepenuhnya memulangkan tawa, cinta ini sungguh-sungguh dipeliharanya, benar-benar dijaganya, bahkan didoakan pada Yang Maha Kuasa agar bisa dimiliki selamanya, sepanjang hidupnya. Hanya saja, dia sudah terlalu lelah akibat tak henti bermaraton dengan segala rasa sakit. Putus asa bekerja sama dengan keadaan dan hidup memaksa dia untuk belajar perlahan melepas dan lebih meyakini nasehat penua-penua hidup bahwa kalau jodoh tidak akan lari ke mana. Sudah.
Aku pulang dari belantara diri. Perempuan muda dengan wajah letih itu tetap duduk di kursi kayunya, memegang hati yang nelangsa. Jadi, begitulah. Segala tulisan tidak lagi penuh canda tawa. Cinta terakhir yang dipelihara perempuan muda dengan wajah letih itu menjadi landasan hampir semua tulisan di sini. Cinta yang akan terus menjadi inspirasi walaupun perempuan muda itu pergi. Sekarang ini, biarlah perempuan muda itu mengambil alih sampai dia menemukan lagi sesuatu yang bisa mengembalikan ceria ke dalam dirinya hingga dia bisa kembali menertawakan keadaan dan mempermainkan hidup.
Aku pun merindukan diriku sendiri.
~Thanks a bunch to my lovely Toy for the inspiring comment so that I could compose this post. Thanks for your concern, darl! Also, thanks to AD. It does not mean I let go of your hand. Just realize there is no more space in between us~
Setelah berhasil diketemukan sosok yang kamu rindu, mari kita mainkan hidup!
ReplyDelete